Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 Peninggalan Kolonial Belanda di Kediri yang Jarang Diketahui

Mohammad Sirojul Akbar oleh Mohammad Sirojul Akbar
28 Desember 2021
A A
3 Peninggalan Kolonial Belanda di Kediri yang Jarang Diketahui terminal mojok.co

3 Peninggalan Kolonial Belanda di Kediri yang Jarang Diketahui (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jika kita membahas tempat-tempat bersejarah di Kediri, mungkin akan ada banyak tempat yang bisa disebutkan, misalnya Candi Surowono, Candi Tegowangi, Goa Selomangleng, Setono Gedong, dll. Hal itu tak lepas dari Kediri yang merupakan daerah cukup tua di Indonesia. Keberadaan Kediri sebagai daerah sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Ketika sekarang kita mengenal Mas Abu dan Mas Dhito sebagai pemimpin daerah Kediri, dulu ada Mas Jayabaya yang tak kalah kondang dari mereka. Jayabaya kemudian meninggalkan Sendang Tirto Kamandanu yang dianggap masyarakat sebagai tempat terakhir Jayabaya sebelum akhirnya moksa.

Pada masa selanjutnya, tercatat Islam masuk ke Kediri dengan meninggalkan jejak berupa kompleks pemakaman Setono Gedong. Pemakaman tersebut merupakan tempat Syekh Wasil, penyebar agama Islam di Kediri, dimakamkan. Setono Gedong berada di dekat Sungai Brantas yang merupakan jalur lalu lintas pada masa itu. Hingga kini, kompleks pemakaman tersebut masih ramai dikunjungi khususnya pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat atau bulan Suro. Dalam kompleks juga ada makam-makam para pemimpin Kediri pada masa Mataraman dan beberapa pejabat daerah lainnya.

Kemudian pada masa pendudukan Belanda, Kediri menjadi daerah keresidenan yang membawahi beberapa daerah seperti Blitar, Trenggalek, Tulungagung, dan Nganjuk, sebelum akhirnya pecah menjadi pemerintahan yang independen seperti saat ini. Sebagai daerah yang pernah menjadi pusat keresidenan, tidak banyak orang yang tahu tentang peninggalan Belanda di Kediri. Tidak seperti kota-kota besar lainnya yang menjadikan bangunan peninggalan Belanda sebagai tempat wisata, peninggalan Belanda di Kediri hampir tidak terekspos sama sekali. Ada beberapa tempat yang merupakan peninggalan kolonial Belanda, namun tak banyak masyarakat yang tahu bahwa tempat tersebut memiliki nilai historis.

#1 Jembatan Lama

Jika Mas Abu meresmikan Jembatan Brawijaya pada tahun 2019, 150 tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1869,  pemerintah juga pernah meresmikan sebuah jembatan bernama Brug Over den Brantas te Kediri. Jembatan yang kini dikenal sebagai Jembatan Lama dulunya merupakan satu-satunya akses penyeberangan dari Surabaya menuju Madiun dan sebaliknya.

Bahkan sampai tahun 2019 pun Jembatan Lama masih layak jadi tempat penyeberangan sebelum akhirnya ditutup saat pandemi. Dampak dari penutupan jembatan tersebut adalah jembatan jadi kurang terawat. Meski telah dilakukan seremonial peresmian sebagai benda cagar budaya pada tahun 2019 lalu, masyarakat masih memandang Jembatan Lama sekadar jembatan penyeberangan. Padahal jika masyarakat dan pemerintah lebih sadar akan nilai historis dan potensi wisata, Jembatan Lama mungkin bisa jadi daya tarik sebagai wisata edukasi dan jadi ikon Kota Kediri.

#2 Kawasan Pecinan di Timur Jembatan Lama

Tempat kedua yang menjadi peninggalan era kolonial dan tak diketahui banyak orang adalah kawasan pecinan yang berada di bagian timur Jembatan Lama. Kawasan pecinan merupakan perkampungan yang dikhususkan untuk orang-orang keturunan Tionghoa di Kediri pada masa kolonial. Tujuan didirikannya kawasan tersebut adalah untuk dapat mengontrol massa pada waktu itu.

Kawasan pecinan sangat luas mencakup area jalan raya menuju arah klenteng, utara Jembatan Lama, dan beberapa jalan kecil seperti Jalan Monginsidi dan Jalan Wahidin. Kawasan ini sebenarnya sangat potensial jadi kawasan wisata lantaran masih banyak bangunan lama khas era kolonial. Namun, kebanyakan bangunan tersebut tak terawat.

Baca Juga:

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

#3 Benteng Blokhuis

Belanda pernah mendirikan sebuah benteng di Kediri, tepatnya di sebelah utara Pasar Bandar. Sayangnya, tidak ada yang tahu pasti nama benteng tersebut. Tetapi, beberapa orang menyebutnya Benteng Blokhuis. Alih-alih jadi tempat wisata bernilai historis, saat ini Benteng Blokhuis dijadikan kantor Polres Kota Kediri.

Itulah beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda yang ada di Kediri hingga saat ini. Kediri sebenarnya juga memiliki wisata heritage yang tidak kalah dari kota-kota lainnya. Semoga saja peninggalan-peninggalan tersebut bisa dirawat dengan baik dan lestari hingga nanti.

Penulis: Mohammad Sirojul Akbar
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Desember 2021 oleh

Tags: jawa timurkediripeninggalan
Mohammad Sirojul Akbar

Mohammad Sirojul Akbar

Kadang menulis, kadang menangis

ArtikelTerkait

Museum di Surabaya Memang Banyak, tapi Teks Deskripsinya Bikin Pengunjung Gagal Paham

Museum di Surabaya Memang Banyak, tapi Teks Deskripsinya Bikin Pengunjung Gagal Paham

26 Juni 2024
Simpang Empat Branggahan Kediri: Jalan Kabupaten yang Langganan Macet

Simpang Empat Branggahan Kediri: Jalan Kabupaten yang Langganan Macet

21 Oktober 2023
Taman Apsari Surabaya, Pusat Peradaban Muda-Mudi Menandingi Jalan Tunjungan. No Apsari, No Party!

Taman Apsari Surabaya, Pusat Peradaban Muda-Mudi Menandingi Jalan Tunjungan. No Apsari, No Party!

2 April 2024
Tuban Bikin Iri Warga Lamongan: Perkembangannya Pesat!

Tuban Bikin Iri Warga Lamongan: Perkembangannya Lebih Pesat!

14 Juni 2024
Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten di Jawa Timur yang Sering Dilupakan (Unsplash)

Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten yang Sering Dilupakan

19 April 2023
Paiton Probolinggo, Kecamatan Paling Menyedihkan di Jawa Timur (Unsplash)

Paiton Probolinggo yang Menyedihkan: Ketika Kehidupan Si Kaya dan Si Miskin Sangat Kontras dan Memprihatinkan

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.