12 Ucapan Membingungkan dari Bung Kus dan Rendra di Laga Timnas Indonesia

12 Ucapan Membingungkan dari Bung Kus dan Rendra di Laga Timnas Indonesia (Harismoyo via Shutterstock.com)

12 Ucapan Membingungkan dari Bung Kus dan Rendra di Laga Timnas Indonesia (Harismoyo via Shutterstock.com)

Sebelum laga uji tanding antara timnas U20 Indonesia kontra Prancis dimulai, saya buka Twitter. Di situ, nama Bambang Pamungkas trending. Saya kira, dia mau jadi komentator timnas Indonesia di laga friendly match ini, ternyata nggak. Yang jadi komentator Indosiar untuk laga ini tetap saja Bung Kus dan Rendra seperti biasanya.

Sebelum kick off dimulai, saya sudah skeptis sama dua komentator ini. Bukan karena apa, ucapan atau kalimatnya memang sering nyasar ke mana-mana. Nggak fokus ke pertandingan. Komentar yang mereka lontarkan kerap bikin penonton bingung. Nah, dan itu terjadi lagi. 

Seingat saya, ada 12 ucapan yang nggak bisa saya pahami dari dua komentator tersebut. 

#1 “Jangan menyerah, jangan panik.”

Ketika Cahya Supriadi melakukan kesalahan fatal, yang membuat Prancis unggul 1-0, salah satu komentator ini bilang: “Jangan menyerah, jangan panik.” Kalimat yang sukses bikin saya.  

Gimana ya, saya yakin semua tim yang berlaga pasti tak mau menyerah. Lagian, buat apa timnas Indonesia main kalau mau menyerah? 

Soal “panik” agak lebih konkret. Lha wong lawannya semifinalis Euro U20 2022, kok. Mana mungkin nggak panik. STY pun mengakui kalau timnas Indonesia masih takut ketika berhadapan dengan tim besar. Soal menyerah, saya yakin tidak. Kalah, perkara lain. 

Makanya, kalimat itu jelas omong kosong. Nggak ada makna dan faedahnya. Lebih baik menganalisis kesalahan fatal Cahya Supriadi. Selain itu, frasa “Jangan menyerah” terlalu sering diulang. Ditambah embel-embel “anak muda”. Bosan.

#2 “Menjadi pelajaran.” 

Saat timnas Indonesia salah passing, bola mudah lepas, pressing yang diberikan oleh Prancis sangat ketat, kalah sprint, dan lain sebagainya, Bung Kus sering mengulang frasa “menjadi pelajaran”. Kadang ditambah kata “penting” atau “berharga”.

Gini, lho, bung-bung sekalian, timnas Indonesia melakukan TC ke luar negeri, yang paling diharapkan memang mengambil pelajaran. Makanya, ucapan kayak gitu nggak usah diulang-ulang. Semua orang sudah tahu. Bosan.

#3 “Harus kerja keras.”

Kata “harus” seakan-akan menunjukkan timnas Indonesia tidak mau bekerja dengan keras di laga ini. Padahal bukan itu masalahnya. Tapi, timnas Indonesia memang kalah segalanya dari Prancis. 

Apa nggak lihat kalau Garuda Muda sudah bekerja cukup keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk membangun serangan dan bertahan? Apakah keok 6-0 adalah satu-satunya penegasan kalau timnas Indonesia nggak kerja keras?

#4 “Hati-hati pemirsa, hati-hati pemirsa!”

Saat Prancis memasuki kotak kotak penalti timnas Indonesia, dua komentator ini bilang “Hati-hati pemirsa, hati-hati pemirsa!”.

Sebentar, kok malah pemirsa atau penonton yang disuruh hati-hati ini? Yang main siapa? Nggak ngotak. 

#5 “Pemain Prancis permainannya terlihat lebih dewasa.” 

Kita sepakat. Apa yang diucapkan oleh komentator itu benar. Namun, ucapan itu terkesan kaget. Seakan-akan kedua komentator ini nggak melakukan riset sebelumnya. Kadang, sebagai penonton, kita nggak membutuhkan komentar yang terlalu ndakik seperti itu.

Untuk level U20, kadang penonton ingin lebih banyak mendengar soal informasi penting. Misalnya soal profil pemain, kelebihan/kekurangan pemain, dan hal-hal yang konkret. Kan tidak semua penonton itu expert dan bisa memahami makna “permainan yang dewasa”.

#6 “Daerah Pinatar Arena rentan bikin pemain cedera.”

Saat Cahya Supriadi berbenturan dengan salah satu pemain Prancis, dia jatuh dan membutuh perawatan medis. Lalu, komentator Indosiar ini bilang, “Daerah Pinatar Arena rentan bikin pemain cedera.” 

Ha? Sebagai penonton sekaligus pendengar, kalimat itu aneh banget. Kesannya sok tahu. Saya tahu, terkadang komentator harus kreatif, kadang menyisipkan informasi di luar pertandingan. Namun, kalau info yang disampaikan soal tempat laga yang “rentan” bikin cedera itu dasar ilmiahnya seperti apa coba? Malah bisa menyesatkan, lho.

#7 “Nah itu dia, jangan 30 meter ke depan begitu.” 

Saat pemain Indonesia melakukan serangan, pressing dari Prancis terasa ketat. Sulit menembus area 16 kotak lawan. Tiba-tiba komentator nyeletuk, “Nah itu dia, jangan 30 meter ke depan begitu.”

Lagi dan lagi saya dibuat bimbang dan bingung. Apa Bung Kus dan Rendra itu nggak sadar kalau nggak semua penonton timnas Indonesia tahu ukuran lapangan? Nggak semua tahu ukuran setiap zona. Bakal lebih pantas kalau mereka berdua menganalisis kenapa timnas Indonesia nggak bisa masuk ke kotak penalti Prancis. Udah itu saja cukup.

#8 “Jangan menyerah, ayo lari, harus ngotot mengejar bola hahahahaha.”

Lantaran kalah penguasaan bola, komentator “mendorong” timnas Indonesia untuk jangan menyerah. Larinya yang ngotot. Gimana, ya. Kita tuh nggak butuh komentar kayak gitu. Kesannya nggak kontekstual. 

Lagian sepak bola nggak cuma urusan lari-larian saja. Ketika harus bertahan, ya yang harus diawasi tuh ruang di antara pemain. Bukan cuma ngejar bola. Masak “komentaror profesional” nggak bisa menjelaskan hal dasar kayak gitu ke pemirsa?

Anehnya lagi, mereka menutup kalimat absurd itu dengan tertawa. Bagian mana yang lucu, Bung Kus dan Rendra? Aneh. 

#9 “Benturan sama….”

Saat dua pemain melakukan duel udara di lini tengah, salah satu satu pemain timnas Indonesia jatuh. Salah satu komentator bilang gini: “Benturan sama….”

Benturan sama siapa anjjj… nggak diterusin kalimatnya. Benturan sama siapa, Kus, Bung Kus? Apa ya komentator nggak ingat nama pemain Prancis? Kan seharusnya mereka memegang catatan yang berisi informasi dasar kayak nama, usia, klub asal, dan lain sebagainya. 

Kalau nggak ada persiapan, sih, aneh banget.

#10 “Ooooohoooowwww” 

Ada sebuah momen ketika timnas Prancis memegang bola selama dua menit tanpa bisa direbut pemain timnas Indonesia. Tiba-tiba, salah satu komentator nyeletuk, “Oooooooooooohhhoooowwwwww….”

Abis itu mereka berdua diam. Mungkin sama-sama kaget sudah terjadi kebodohan di sana.

#11 “Jadi, kalau melihat Indonesia ini….”

Salah satu momen yang paling nggak enak dari duet Bung Kus dan Rendra adalah kebiasaan memotong kalimat di momen yang nggak pas. Maklum, kalau misalnya salah satu sedang menjelaskan analisis pertandingan, lalu dipotong karena momen genting. Nah, kalau ini tuh ngasal aja.

Misalnya, salah satu komentator lagi mau menjelaskan dengan bilang, “Jadi, kalau melihat Indonesia ini….”

Tiba-tiba dipotong dengan kalimat, “Kembali lagi bola dipegang oleh bla-bla-bla.” 

APA SIH!!!

Memotong penjelasan cuma untuk bilang kalau bole lagi dipegang oleh salah satu tim. Bukan karena momen penting kayak peluang gol. Ini tuh seakan-akan lagi kebelet kentut, udah diujung, eh lubang dubur dipaksa nutup. Greget gobloknya.

#12 “Terus menekan… hahahaha.”

Kadang saya merasa kalau Bung Kus dan Rendra itu nggak fokus mengawal laga timnas Indonesia. Bukan nggak serius, ya, tapi nggak fokus. Kayak orang lagi mabuk terus dipaksa buat saling ngobrol. Misalnya kejadian ini:

Suatu kali, pemain Prancis menggiring bola dari sisi kanan pertahanan timnas Indonesia dan melakukan umpan silang. Salah satu komentator bilang, “Terus menekan….”

Lagi-lagi, salah satu komentator memotong kalimat. Kali ini bukan dengan kalimat lain, tapi suara tertawa. “Hahahaha….”

Saya yang serius memasang telinga jadi makin yakin kalau mereka berdua ini nggak fokus. Apanya yang lucu dari frasa “terus menekan”? Kalian nggak lagi mabuk, kan?

Penulis: Zubairi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Nggak Cuma Membosankan, Jadi Fans Timnas Indonesia Juga Melelahkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version