Site icon Mojok.co

Ternyata Bukan Hiu dan Buaya? Ini Asal Nama Surabaya

Ternyata Bukan Hiu dan Buaya? Ini Asal Nama Surabaya

Selama ini, nama Surabaya memang lekat dengan gambar hiu dan buaya. Keduanya bahkan menjadi simbol yang mudah ditemukan ketika membicarakan kota ini. Namun, dalam perjalanan Mojok ke Kampung Peneleh, ada cerita lain tentang asal-usul nama Surabaya yang menarik untuk dibongkar.

Menurut penjelasan pemandu lokal dalam perjalanan tersebut, nama Surabaya sudah dikenal sejak era Majapahit. Nama itu disebut dalam Prasasti Canggu yang memuat daftar desa di tepian sungai yang menjadi jalur penyeberangan antardaerah.

Dalam prasasti yang ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno tersebut, Surabaya disebut sebagai salah satu desa. Pemandu kemudian menjelaskan bahwa kata sura berkaitan dengan keberanian, sementara bahaya disebut berasal dari bahya yang berarti bahaya.

Dengan begitu, nama Surabaya dalam penjelasan tersebut tidak berkaitan dengan hiu dan buaya seperti simbol yang selama ini dikenal. Nama tersebut justru dikaitkan dengan gambaran orang Surabaya sebagai sosok yang berani dan berbahaya.

Surabaya dan Kampung Peneleh yang Menyimpan Banyak Cerita

Dari pembahasan soal nama Surabaya, perjalanan kemudian berlanjut ke Peneleh. Kampung ini disebut menyimpan jejak sejarah dari masa Majapahit, era Sunan Ampel, hingga periode kolonial.

Nama Peneleh sendiri dalam penjelasan pemandu berasal dari kata Jawa pinilih, yang berarti pilihan atau yang terpilih. Ada pula versi lain yang menyebut nama Peneleh berasal dari seorang pangeran bernama Peneleh yang pernah berkuasa dan mendirikan kampung tersebut.

Di kawasan ini terdapat beberapa tujuan wisata sejarah. Salah satunya Langgar Dukur yang disebut sudah berdiri sejak 1893. Bangunannya masih menggunakan struktur kayu dan dibuat dengan konsep rumah panggung sehingga posisinya lebih tinggi dari tanah.

Namun, salah satu tempat yang paling banyak menyimpan cerita adalah rumah HOS Tjokroaminoto.

Rumah Tjokroaminoto dan Para Pemuda yang Kelak Jadi Tokoh

Rumah HOS Tjokroaminoto pernah menjadi tempat tinggal sejumlah tokoh yang kemudian mengambil jalan masing-masing dalam sejarah Indonesia. Ada Soekarno, Semaun, Alimin, hingga Kartosuwiryo.

Di rumah tersebut, para penghuni tidak hanya tinggal dan belajar. Mereka juga berdiskusi mengenai perkembangan zaman dan berbagai gagasan, termasuk ideologi. Percakapan dan perdebatan bahkan berlangsung ketika makan bersama atau di kamar para penghuni.

Menariknya, mereka kemudian berkembang dengan pemikiran masing-masing. Soekarno menjadi tokoh nasionalis, Semaun dikenal sebagai tokoh kiri, sementara Kartosuwiryo bergerak dalam jalur politik Islam.

Tjokroaminoto sendiri digambarkan sebagai sosok yang menjadi magnet bagi banyak orang. Namanya dikenal hingga berbagai daerah sehingga banyak anak muda datang untuk belajar dan bertukar gagasan dengannya.

Peneleh pun bukan sekadar tempat tinggal. Menurut cerita Ruslan Abdul Gani yang dikutip dalam perjalanan tersebut, kawasan ini pada masa lalu dihuni masyarakat dari berbagai latar, mulai dari Jawa, Bali, Tionghoa, Arab, hingga Belanda. Di dalamnya juga terdapat sejumlah pusat kegiatan sosial dan pergerakan.

Surabaya dan Masjid Tua sampai Makam di Tengah Permukiman

Jejak sejarah Peneleh tidak berhenti di rumah Tjokroaminoto. Ada pula masjid tua yang disebut sebagai salah satu masjid tertua di Surabaya. Masjid tersebut dikaitkan dengan perkembangan pendidikan agama dan kegiatan pergerakan di kawasan Peneleh.

Hal lain yang membuat Peneleh menarik adalah keberadaan makam-makam tua di tengah permukiman. Beberapa makam bahkan berada sangat dekat dengan rumah warga.

Bagi sebagian warga, keberadaan makam tersebut berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur. Pemandu menjelaskan bahwa sebelum konsep pemakaman umum dikenal luas, masyarakat memang memiliki tradisi memakamkan anggota keluarga di sekitar rumah. Karena itu, ketika kawasan Peneleh berkembang, sejumlah makam lama tetap berada di tengah permukiman.

Di sini juga terdapat Peneleh Cemetery, kompleks pemakaman dari era kolonial yang dikenal sebagai pemakaman orang-orang Eropa. Namun, menurut pemandu, makam warga lokal yang lebih tua sebenarnya juga banyak ditemukan di sekitar kampung tersebut.

Sumur Jobong, Jejak Majapahit di Tengah Kota Surabaya

Perjalanan kemudian sampai pada Sumur Jobong. Sumur kuno ini disebut berasal dari era Majapahit, sekitar 1430. Nama jobong sendiri dalam penjelasan pemandu berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti sumur.

Sumur tersebut ditemukan pada 2018 dan kemudian ditetapkan sebagai situs cagar budaya pada 2023. Saat penelitian dilakukan, ditemukan sejumlah benda seperti batu bata berukuran besar, keramik Tiongkok, serta tulang manusia. Namun, dalam percakapan tersebut tidak ada kepastian mengenai asal-usul tulang tersebut sehingga dugaan tentang penyebab kematiannya tidak bisa dipastikan.
Yang menarik, sumur ini ternyata tidak terlalu dalam. Jarak dari permukaan hingga bagian bawahnya disebut hanya sekitar 90 sentimeter. Saat digali, air terus muncul dari bawah tanah sehingga tim arkeologi menyimpulkan bahwa sumber airnya berasal dari mata air alami.

Peneleh akhirnya memperlihatkan bagaimana sejarah Surabaya tidak selalu tersimpan di museum atau bangunan besar. Nama kota, rumah tempat para tokoh berdiskusi, masjid, makam, sampai sebuah sumur kuno semuanya menjadi bagian dari lapisan sejarah yang masih bisa ditemui di tengah permukiman.

Dan mungkin, dari sini kita bisa melihat bahwa Surabaya memang punya cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar hiu dan buaya.

Exit mobile version