Istilah slow living belakangan sering dikaitkan dengan Jogja. Kota ini dianggap punya ritme kehidupan yang lebih santai dibanding Jakarta. Makanannya relatif terjangkau, jalanan tidak selalu macet, dan suasananya membuat orang bisa menjalani hari tanpa terus merasa dikejar waktu.
Namun, apakah slow living memang sesederhana itu?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Putcast Live di Festival Mojok 2026. Kali ini, Kepala Suku Mojok tidak bertugas sebagai host seperti biasanya. Ia justru duduk sebagai narasumber dan diajak ngobrol oleh Mukti Metronom serta Coib. Putcast Live sendiri menjadi salah satu agenda hari kedua FESMO 2026 yang mengusung tema “Jogja Hari Ini”.
Obrolan mereka kemudian mengarah pada satu hal yang cukup sering disalahpahami: gaya hidup ini bukan berarti malas.
Slow Living di Jogja Tidak Selalu Seindah yang Dibayangkan
Menurut Kepala Suku, banyak orang dari Jakarta melihat Jogja sebagai tempat yang nyaman untuk menjalani kehidupan lebih pelan. Mereka datang berlibur selama beberapa hari, menikmati makanan yang lebih murah, suasana yang dianggap ramah, dan kehidupan yang tidak terasa terburu-buru.
Dari pengalaman tersebut, muncul anggapan bahwa Jogja identik dengan slow living. Bahkan, sebagian orang kemudian ingin pindah dan menetap di Jogja.
Masalahnya, tinggal di Jogja tentu berbeda dengan berlibur selama dua atau tiga hari. Ada kebutuhan untuk mencari penghasilan, membayar cicilan, menghadapi pekerjaan, dan menjalani berbagai persoalan sehari-hari. Kepala Suku mengatakan banyak orang yang ternyata tidak kuat tinggal di Jogja karena persoalan mencari uang.
Jadi, pindah ke kota yang lebih santai tidak otomatis membuat hidup ikut santai.
Slow Living Bukan Berarti Tidak Mau Bekerja
Dalam obrolan tersebut, Kepala Suku juga membedakan slow living dengan kemalasan.
Menurutnya, konsep ini bukan prinsip untuk orang yang tidak mau bekerja atau belajar. Seseorang tetap perlu bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Bedanya, hidup tidak harus sepenuhnya dikendalikan oleh pekerjaan dan tekanan.
Cara hidup tersebut justru bisa menjadi kesempatan untuk mengatur kehidupan dengan cara sendiri. Ada ruang untuk memperbaiki diri, menjaga ketenangan, sekaligus tetap menjalankan tanggung jawab.
Dengan kata lain, jangan cuma mengambil kata slow-nya. Sebab, ada kata living yang juga harus dijalani.
Jogja dan Romantisme yang Dibentuk Televisi
Ada hal lain yang ikut membuat Jogja lekat dengan bayangan tersebut: televisi.
Dalam obrolan Putcast tersebut, dibahas bagaimana sinetron dan FTV dulu sering menggambarkan Jogja dengan sawah, blangkon, pedesaan, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Gambaran semacam itu akhirnya ikut membentuk bayangan orang tentang Jogja sebagai tempat yang tenang dan santai.
Padahal, kehidupan sehari-hari di Jogja juga terus berubah. Jalan yang dulu sepi sekarang bisa macet, kawasan yang dulu terasa jauh sudah dipenuhi aktivitas, dan mencari penghasilan tetap menjadi persoalan.
Karena itu, konsep ini tidak harus selalu berarti tinggal di Jogja, bangun pagi, minum kopi, lalu tidak melakukan apa-apa.
Slow Living adalah Soal Mengatur Hidup Sendiri
Pada akhirnya, pembicaraan dalam Putcast Live Festival Mojok 2026 sampai pada satu kesimpulan sederhana: setiap orang bisa memiliki versi slow living-nya sendiri.
Kepala Suku memandang konsep tersebut sebagai pilihan untuk tetap menjalani kehidupan sambil memegang kendali atas diri sendiri. Bukan berhenti bekerja, bukan pula menjadikan kemalasan sebagai gaya hidup.
Hidup tetap membutuhkan kerja keras. Namun, kerja keras tidak harus membuat seluruh kehidupan menjadi tidak seimbang.
Mungkin itulah kenapa slow living sebenarnya bukan soal seberapa lambat seseorang menjalani hidup. Yang lebih penting adalah apakah kita masih menjadi orang yang mengatur hidup sendiri, atau justru terus hidup mengikuti tekanan dari mana-mana.
