Belakangan, rasanya semakin banyak orang yang mulai bertanya-tanya soal masa depan Indonesia. Bukan cuma mereka yang sehari-hari memang suka membicarakan politik. Anak sekolah, pekerja kantoran, sampai komunitas musik pun mulai ikut gelisah dengan keadaan di sekitarnya.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi buku “RESET INDONESIA” bersama Farid Gaban. Dalam obrolan tersebut, Farid bercerita bahwa respons terhadap buku yang ditulisnya bersama Dandhy Laksono ternyata jauh lebih luas dari perkiraannya. Buku yang awalnya ia kira hanya akan dibaca jurnalis dan aktivis justru dibicarakan di berbagai kalangan, termasuk pelajar dan komunitas anak muda.
Reset Indonesia dan Kegelisahan
Hampir setahun setelah diterbitkan, RESET INDONESIA telah dibahas di banyak tempat. Roadshow buku tersebut menyasar sekolah, pesantren, masjid, hingga komunitas anak muda.
Farid mengaku cukup terkejut melihat respons tersebut. Dalam salah satu diskusi, misalnya, siswa SMA bahkan membaca buku tersebut lalu menyampaikan pandangannya sendiri. Buku ini juga dibicarakan di komunitas punk rock di Jogja. Salah seorang musisinya bahkan membuat lagu berjudul “Riset” karena merasa gelisah dengan keadaan Indonesia, meski belum membaca bukunya.
Bagi Farid, kegelisahan semacam itu menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kondisi Indonesia tidak lagi hanya muncul dari kelompok yang sejak awal memang aktif membicarakan politik.
Salah satu persoalan yang kemudian dibahas adalah pembangunan dan hubungannya dengan alam. Dalam RESET INDONESIA, Farid menawarkan gagasan blue economy atau ekonomi biru, yakni cara membangun ekonomi dengan belajar dari bagaimana alam bekerja.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan besar berupa keanekaragaman hayati. Kekayaan tersebut tidak harus selalu dilihat sebagai sesuatu yang diambil dan dijual, tetapi juga bisa menjadi sumber pengetahuan. Ia mencontohkan biomimicry, ketika manusia mempelajari bentuk, mekanisme, atau sistem yang ada di alam untuk menghasilkan desain dan teknologi.
Koperasi dari Bawah
Selain ekonomi biru, koperasi menjadi gagasan penting dalam RESET INDONESIA. Farid memandang koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk belajar berpartisipasi dan mengambil keputusan secara demokratis.
Ia juga mengkritik model koperasi yang menurutnya terlalu top-down. Bagi Farid, koperasi seharusnya tumbuh dari kebutuhan dan partisipasi warga, bukan sekadar dibentuk dari atas.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang #RESET INDONESIA bukan cuma soal sebuah buku. Ada kegelisahan yang ingin dibuka menjadi percakapan: bagaimana Indonesia bisa membangun ekonomi tanpa terus mengorbankan alam, sekaligus membuat masyarakat punya ruang untuk ikut menentukan arah kehidupannya sendiri.
