Site icon Mojok.co

Reset Indonesia dan Berbagai Cara Membayangkan Masa Depan

Reset Indonesia dan Berbagai Cara Membayangkan Masa Depan

Ada buku yang selesai dibaca setelah beberapa hari. Ada juga buku yang justru baru terasa menarik setelah dibicarakan ramai-ramai. Buku “RESET INDONESIA” tampaknya masuk kategori yang kedua.

Hampir setahun setelah diterbitkan, buku karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono itu masih dibawa berkeliling dan dibicarakan di berbagai tempat. Bukan cuma oleh aktivis atau jurnalis, tetapi juga pelajar, perempuan, hingga komunitas punk. Farid sendiri mengaku semula tidak menyangka bukunya akan sampai ke kelompok-kelompok tersebut.

Mungkin memang ada sesuatu yang sedang ingin dibicarakan banyak orang. Bukan cuma soal politik, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia membangun ekonomi, memperlakukan alam, sampai memberi ruang bagi masyarakat untuk menentukan persoalan yang paling dekat dengan hidup mereka.

Reset Indonesia dan Cara Membangun Tanpa Merusak

Salah satu gagasan yang dibicarakan Farid dalam RESET INDONESIA adalah ekonomi biru. Gagasan ini melihat alam bukan sekadar sesuatu yang harus dijaga agar tetap ramah lingkungan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan untuk membangun ekonomi.

Menurut Farid, Indonesia punya kekayaan yang jauh lebih besar daripada sekadar sumber daya yang bisa ditambang. Keanekaragaman hayati dapat menjadi sumber pengetahuan untuk menciptakan berbagai produk dan teknologi.

Ia mencontohkan biomimikri, yaitu ketika manusia mempelajari cara kerja alam untuk kemudian diterapkan dalam desain atau teknologi. Karena itu, menurutnya, kekayaan alam Indonesia tidak harus selalu berakhir sebagai barang yang diambil dan dijual. Ada pengetahuan di baliknya yang juga bisa dikembangkan.

Gagasan tersebut juga membuat Farid mengajak orang melihat kembali pengetahuan masyarakat lokal. Ia mencontohkan tradisi sasi di Indonesia Timur, ketika masyarakat memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri sebelum kembali dimanfaatkan.

Koperasi dari Bawah

Pembicaraan kemudian berlanjut pada koperasi. Dalam diskusi tersebut, koperasi disebut sebagai salah satu gagasan penting dalam RESET INDONESIA.

Bagi Farid, koperasi tidak sekadar berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Ada prinsip partisipasi, pengelolaan demokratis, dan proses belajar bersama di dalamnya. Karena itu, ia menilai koperasi seharusnya tumbuh dari kebutuhan masyarakat, bukan hanya dibentuk dari atas.

Dari sini, pembahasan mulai bersinggungan dengan politik. Kalau masyarakat bisa mengorganisasi diri untuk mengurus kebutuhan bersama, mengapa politik juga tidak dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan mereka?

Politik yang Dimulai dari Daerah

Farid kemudian membicarakan gagasan partai lokal. Menurutnya, partai tidak selalu harus dibangun dengan isu nasional. Masing-masing daerah memiliki persoalan yang berbeda dan bisa membutuhkan wadah politik yang berbeda pula.

Persoalan air, lingkungan, pendidikan, tenaga kerja, hingga masyarakat adat, misalnya, merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan warga. Karena itu, menurut Farid, gerakan politik bisa dimulai dari persoalan lokal yang memang dirasakan masyarakat.

Hal tersebut juga muncul dari pertanyaan seorang peserta yang datang dari Makassar dan bekerja di Sumba. Ia bercerita tentang persoalan pertambangan, air, tanah, dan masyarakat adat di Indonesia Timur yang menurutnya sering kalah oleh isu yang lebih banyak dibicarakan dari Jawa.

Farid menjawab bahwa gerakan tidak harus langsung dimulai dalam skala besar. Masyarakat bisa memulainya dari hal yang paling dekat dan paling mungkin dikerjakan. Koperasi, gerakan sosial, maupun partai lokal bisa menjadi ruang untuk mengorganisasi masyarakat sekaligus membawa persoalan daerah ke ruang politik.

Pada akhirnya, RESET INDONESIA tidak berhenti pada satu pembicaraan tentang politik. Buku ini membuka diskusi yang lebih luas, dari cara membangun ekonomi tanpa terus merusak alam, pentingnya masyarakat mengelola persoalan bersama, sampai kemungkinan memulai perubahan dari tingkat daerah.

Sebab, sebelum sibuk mencari jawaban besar tentang Indonesia, mungkin ada baiknya melihat lagi persoalan yang selama ini paling dekat dengan kita.

Exit mobile version