Selama ini, perjuangan rakyat Indonesia sering digambarkan lewat bambu runcing. Padahal, sebelum sampai pada perlawanan fisik, ada hal lain yang lebih dulu bekerja: kata-kata dan kesadaran.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan ketika Soe Tjen Marching berbicara tentang propaganda antikomunis pada masa Orde Baru. Menurutnya, propaganda memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat memandang sesuatu. Kata “komunis”, misalnya, begitu mudah digunakan untuk memberi cap buruk kepada seseorang, bahkan ketika banyak orang belum benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan komunisme.
Jangan Terjebak oleh Kata-Kata
Menurut Soe Tjen Marching, masyarakat perlu belajar mempertanyakan narasi yang selama ini diterima begitu saja. Jika sebuah ideologi dianggap buruk, misalnya, seharusnya masyarakat bisa mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memberikan kritik.
Kritik, menurutnya, tidak sama dengan membenci. Justru dengan memahami sebuah gagasan, masyarakat bisa memberikan kritik yang lebih tepat dan tidak sekadar mengikuti label yang sudah diberikan.
Dari situlah pentingnya mempertanyakan kata-kata dan konsep yang digunakan. Sebab, narasi tidak hanya bisa membentuk cara seseorang berpikir, tetapi juga menentukan siapa yang dianggap benar dan salah.
Kata-Kata Bisa Menjadi Awal Perlawanan
Pembahasan kemudian mengarah pada pentingnya ilmu sosial dan humaniora. Bidang-bidang ini sering mengajak orang untuk mempertanyakan konsep, membaca ulang sejarah, dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Soe Tjen Marching mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu dimulai dengan senjata. Sebelum rakyat Indonesia melawan penjajahan dengan bambu runcing, kesadaran tentang kondisi yang mereka alami harus muncul lebih dulu.
Kesadaran itu salah satunya lahir dari kata-kata. Tulisan, gagasan, dan konsep bisa membuat orang mulai mempertanyakan keadaan di sekitarnya.
Karena itu, bagi mereka yang belajar ilmu sosial dan humaniora, mempertanyakan sesuatu bukan sekadar pekerjaan yang membuat orang terlihat “cerewet”. Kadang, dari pertanyaan dan kata-kata itulah sebuah perubahan justru bisa dimulai.
