Setelah sebelumnya berkeliling Jakarta lewat rangkaian Putcast Road to Jakarta, kali ini Putcast melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di kota ini, Kepala Suku Mojok Putut EA bertemu dengan Yudit Ciphardian, seorang komika yang punya cerita panjang sebelum akhirnya akrab dengan panggung stand up comedy.
Cerita Yudit membawa kita kembali ke masa ketika ia masih menjadi aktivis 98. Jauh sebelum dikenal sebagai komika, ia aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), bahkan sempat menjadi pengurus pusat dan tinggal di Jakarta selama satu periode kepengurusan.
Pengalaman selama berada di Jakarta kemudian membuat Yudit melihat sisi lain dunia politik. Alih-alih semakin tertarik terjun ke dalamnya, ia justru merasa bahwa politik bukan jalan yang ingin ia tempuh. Ia pun memilih pulang ke Surabaya pada 2004.
Dari Aktivis 98 hingga Memilih Pulang ke Surabaya
Yudit mengaku sempat melihat langsung bagaimana aktivitas politik berjalan secara transaksional. Pengalaman tersebut membuatnya mengambil jarak dari politik praktis dan kembali menjalani kehidupan di Surabaya.
Setelah pulang, ia menekuni dunia jurnalistik dengan membuat majalah internal gereja. Kecintaannya pada dunia tulis-menulis kemudian membawanya bekerja di media keuskupan. Dari sini, dunia jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Namun, rupanya Yudit Ciphardian belum selesai mencari cara untuk menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Sekitar 2011, ia mulai mengenal stand up comedy setelah menonton video-video komika di YouTube. Bersama beberapa teman, ia kemudian belajar secara otodidak karena belum memiliki mentor.
Dari komunitas kecil tersebut, Yudit akhirnya bergabung dengan Stand Up Indo Surabaya. Di sana ia bertemu dengan Dodit Mulyanto. Keduanya kemudian sama-sama mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 4 dan berhasil lolos.
Perjalanan mereka setelah itu berbeda. Dodit melaju lebih jauh, sementara Yudit harus tereliminasi lebih awal. Meski begitu, tersingkir dari kompetisi tidak membuatnya meninggalkan dunia komedi.
Yudit Ciphardian Menemukan Cara Baru untuk Tetap Berisik
Bagi Yudit Ciphardian, menjadi komika di usia yang tidak lagi muda punya tantangan tersendiri. Ia merasa harus terus relevan, tetapi bukan dengan membuat materi yang dipaksakan. Keresahan yang dibawa ke panggung harus benar-benar dekat dengan kehidupan yang sedang ia jalani.
Latar belakangnya sebagai aktivis pun rupanya masih terbawa. Kritik sosial dan politik tetap muncul dalam materi maupun konten yang ia buat.
Yudit memilih komedi sebagai salah satu cara untuk menyampaikan kritik karena menurutnya, orang dengan pandangan berbeda sekalipun masih bisa bersedia mendengarkan seorang komika. Kritik yang disampaikan lewat tawa bisa terasa lebih mudah diterima.
Itulah cara Yudit Ciphardian untuk tetap “berisik”. Jika dulu ia menyuarakan kegelisahan sebagai aktivis, kini ia melakukannya dari atas panggung dan melalui konten komedi.
Perjalanan tersebut juga sempat membuatnya harus berhenti sejenak. Yudit pernah mengalami masalah jantung yang kemudian membuatnya mengurangi aktivitas, berhenti merokok, memperbaiki pola tidur, dan lebih memperhatikan kondisi tubuh.
Kini, selain tetap aktif sebagai komika, Yudit masih membawa satu hal yang sama dari masa mudanya sebagai aktivis: kegelisahan melihat keadaan sekitar. Bedanya, sekarang ia punya panggung yang membuat kegelisahan itu bisa disampaikan sambil mengajak orang tertawa.
