Site icon Mojok.co

Tan Malaka dan Gagasan Merdeka 100 Persen

Tan Malaka dan Gagasan Merdeka 100 Persen

Kemerdekaan biasanya selesai dibicarakan setelah proklamasi dibacakan. Indonesia sudah merdeka, bendera dikibarkan, lalu urusan dianggap beres. Namun, bagi Tan Malaka, kemerdekaan rupanya tidak sesederhana itu.

Gagasan tersebut dibahas dalam diskusi buku Merdeka 100%, Trilogi Naskah Revolusioner, Politik, Ekonomi dan Muslihat di Mojok Store. Dalam diskusi tersebut, Wildan Sena Utama, dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, membahas kembali pemikiran Tan Malaka yang ditulis sekitar 80 tahun lalu.

Menurut Wildan, ia tidak hanya memikirkan seperti apa Indonesia yang merdeka, tetapi juga bagaimana kemerdekaan itu dibangun dan diwujudkan.

Merdeka 100 Persen Bukan Cuma Soal Politik

Dalam pembacaan Wildan, merdeka 100 % yang dimaksud Tan Malaka bukan hanya kemerdekaan secara politik. Kemerdekaan juga harus mencakup kedaulatan ekonomi.

Tan Malaka melihat bahwa Indonesia yang sudah merdeka jangan sampai tetap berada di bawah kendali segelintir kelompok kapitalis, termasuk kapitalisme internasional. Karena itu, kedaulatan bagi ia berkaitan dengan kekuasaan sekaligus kemakmuran.

Gagasan tersebut kemudian diteruskan dalam bagian ekonomi. Tan Malaka membayangkan bagaimana kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dalam situasi revolusi, mulai dari kemandirian pangan, distribusi barang, perusahaan tenun, hingga perdagangan dengan luar negeri.

Menariknya, rencana ekonomi tersebut tidak berhenti di situ. Setelah situasi revolusi dianggap selesai, Tan Malaka membayangkan tahapan menuju sistem ekonomi sosialis, termasuk pembagian hasil produksi kepada kelas pekerja.

Tan Malaka Memikirkan Cara Mewujudkannya

Trilogi tersebut tidak hanya membicarakan tujuan dan ekonomi. Ada bagian muslihat yang membahas strategi untuk mewujudkan gagasan merdeka 100 persen.

Dalam konteks revolusi saat itu, Tan Malaka lebih mendorong perang gerilya daripada diplomasi dengan Belanda. Menurut pembacaan Wildan, gagasan tersebut muncul karena Tan Malaka melihat situasi Indonesia yang masih menghadapi upaya rekolonisasi.

Namun, yang menarik dari pemikiran tersebut bukan hanya isi gagasannya. Ia juga memikirkan bagaimana gagasan tersebut bisa dipahami masyarakat.

Buku Merdeka 100% ditulis dalam bentuk dialog dengan tokoh seperti Si Tok, Si Godam, Si Pacul, Denmas, dan Mister Apal. Menurut Wildan, bentuk dialog ini membuat gagasan yang rumit bisa dibicarakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat.

Tan Malaka, dengan latar belakangnya sebagai guru, tampaknya memahami bahwa pengetahuan tidak cukup hanya ditulis untuk orang-orang yang sudah mengerti. Pengetahuan juga perlu dibuat agar bisa dibicarakan dan dipahami lebih banyak orang.

Pada akhirnya, gagasan merdeka 100% bukan lagi sekadar soal bagaimana sebuah negara mendapatkan kemerdekaan. Ia juga berbicara tentang bagaimana kemerdekaan itu dipertahankan, bagaimana ekonomi dibangun, dan bagaimana gagasan tersebut bisa sampai kepada masyarakat.

Mungkin itu pula yang membuat tulisan yang sudah berusia puluhan tahun masih menarik untuk dibaca kembali hari ini.

Exit mobile version