Melawan kekuasaan sering kali dibayangkan sebagai sesuatu yang besar. Turun ke jalan, membuat gerakan, atau berhadapan langsung dengan mereka yang punya kuasa. Padahal, perlawanan juga bisa dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana: berani bertanya.
Hal tersebut menjadi salah satu benang merah dalam diskusi tentang logika melawan kekuasaan bersama Bu Sucen. Percakapan itu membawa banyak hal, mulai dari warisan Orde Baru, militerisme, propaganda antikomunis, sejarah yang diajarkan secara satu arah, hingga posisi perempuan dalam masyarakat.
Ketika Bertanya Dianggap Masalah
Bu Sucen menceritakan pengalamannya tumbuh pada masa Orde Baru. Sejak kecil, ia menerima berbagai narasi yang saat itu dianggap sebagai kebenaran, termasuk soal komunisme, peran perempuan, hingga anggapan bahwa orang yang terlalu sering mengkritik pemerintah adalah pengkhianat negara.
Perubahan mulai terjadi ketika ia memasuki masa SMA dan mulai mempertanyakan hal-hal yang terasa janggal. Salah satunya ketika ia mendengar bahwa dokumen Supersemar hilang. Alih-alih mendapatkan penjelasan, pertanyaan tentang bagaimana dokumen sepenting itu bisa hilang justru dianggap tidak perlu dibicarakan.
Dari sana, pertanyaan sederhana menjadi penting. Mengapa sesuatu dipercaya begitu saja? Mengapa sebuah istilah harus diterima tanpa memahami maksudnya? Dan mengapa kritik terhadap pemerintah bisa dengan mudah dianggap sebagai tindakan melawan kekuasaan negara?
Menurut Bu Sucen, persoalannya bukan sekadar soal sejarah, tetapi kebiasaan menerima narasi tanpa mengujinya.
Propaganda Bekerja Ketika Kita Berhenti Bertanya
Salah satu contoh yang dibicarakan adalah propaganda antikomunis pada masa Orde Baru. Bu Sucen mengatakan bahwa kata “komunis” bisa menjadi semacam label yang digunakan untuk menuding orang yang dianggap terlalu kritis. Masalahnya, orang bisa saja membenci sesuatu tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka benci.
Karena itu, ia mendorong agar sejarah tidak sekadar diberikan sebagai hafalan. Sejarah perlu dibahas, dipertanyakan, dan diuji logikanya.
Cara tersebut juga bisa diterapkan di ruang kelas. Ketimbang meminta siswa menelan sebuah narasi sejarah mentah-mentah, guru bisa mengajak mereka membedahnya lewat pertanyaan sederhana. Misalnya, apa sebenarnya arti kudeta? Mengapa sebuah peristiwa disebut gagal? Apa yang terjadi setelahnya?
Melawan Kekuasaan Tidak Harus dengan Bambu Runcing
Bagi Bu Sucen, kata-kata juga bisa menjadi senjata. Kesadaran untuk melawan kekuasaan tidak muncul begitu saja. Ada gagasan yang lebih dulu dibangun, lalu disebarkan hingga membuat orang sadar bahwa mereka sedang menghadapi ketidakadilan.
Karena itu, tulisan, diskusi, dan ruang untuk berbicara punya peran penting. Diam terlalu lama justru membuat sebuah persoalan perlahan dilupakan. Ketika sesuatu tidak dibicarakan, generasi berikutnya bisa tumbuh tanpa pernah mengetahui bahwa persoalan tersebut pernah terjadi.
Melawan pun tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Bu Sucen justru mendorong tindakan-tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus: berdiskusi, menulis, membagikan informasi, atau mengajak orang lain membicarakan persoalan yang selama ini diabaikan.
Sebab, satu langkah memang terlihat kecil. Namun, tanpa langkah pertama, perjalanan yang panjang tidak akan pernah dimulai.
Dan mungkin, di situlah logika melawan kekuasaan dimulai: bukan dari keberanian untuk langsung menang, tetapi dari keberanian untuk tidak berhenti bertanya.
