Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

Bagi warga Desa Bono, Kecamatan Tulung, Klaten, memelihara domba bukan sesuatu yang baru. Banyak warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus peternak. Sepulang dari sawah, mereka bisa membawa rumput untuk pakan ternak.

Kebiasaan itu sebenarnya sudah menjadi bagian dari keseharian warga. Hanya saja, tidak semua punya cukup modal untuk membeli domba sendiri. Sementara itu, tenaga untuk merawat dan mencari pakan sebenarnya sudah mereka miliki. Kondisi inilah yang kemudian dilihat Karang Taruna Mahatva Kirana sebagai peluang untuk membantu warga.

Pada 2022, mereka memulai program penggaduhan dengan menggulirkan 100 ekor domba kepada 20 peternak. Masing-masing mendapat lima ekor domba betina untuk dipelihara dan dikembangbiakkan selama maksimal dua tahun.

Skemanya cukup sederhana. Setelah dua tahun, peternak mengembalikan lima ekor domba sebagai modal awal ditambah satu ekor. Selebihnya menjadi milik peternak. Jadi, jika lima domba tersebut berkembang menjadi belasan ekor, warga tidak perlu menyerahkan semuanya kembali.

Bukan Sekadar Ternak Domba

“Yang kita titikberatkan keuntungan lebih banyak ke peternak,” kata Afif, pengurus Karang Taruna Mahatva Kirana.

Karena itu, mereka tidak menyebut program tersebut sebagai bisnis biasa, melainkan bisnis sosial. Karang Taruna tidak mengejar keuntungan besar. Yang mereka cari adalah bagaimana warga yang sebelumnya tidak punya modal bisa memiliki ternak sendiri.

Program itu kemudian terus berkembang. Dari 100 ekor domba pertama, kini sekitar 48 peternak telah terlibat dengan total 240 ekor domba yang digaduhkan. Jika dihitung bersama anak-anak domba yang lahir dan berkembang di tangan warga, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 1.000 ekor.

Sebagian domba tentu sudah dijual. Ada yang digunakan untuk biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, atau kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Bagi Narwanto, Ketua Karang Taruna Mahatva Kirana, justru di situlah keuntungan terbesar program tersebut. Bukan berapa banyak uang yang masuk ke kas Karang Taruna, tetapi berapa banyak warga yang akhirnya memiliki aset sendiri.

Modal program ini juga bukan berasal dari kantong Karang Taruna. Mereka berkolaborasi dengan pemerintah desa dan Bumdes melalui skema penyertaan modal untuk program ketahanan pangan.

Tak Berhenti di Penggaduhan

Kini programnya mulai dikembangkan. Selain penggaduhan, mereka membuat kandang komunal untuk breeding dan mengembangkan penggemukan domba. Harapannya, peternakan tidak hanya menjadi tabungan warga, tetapi juga bisa ikut menjaga ketersediaan daging di desa.

Lima ekor domba mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga yang sebelumnya tidak punya modal, lima ekor itu bisa menjadi awal untuk memiliki ternak sendiri.

Exit mobile version