Site icon Mojok.co

Gerakan Perempuan dan Ibu-Ibu yang Memilih untuk Berisik

Gerakan Perempuan dan Ibu-Ibu yang Memilih untuk Berisik

Masalah negara kadang terasa jauh kalau hanya dibicarakan lewat berita. Namun, ketika layanan publik ikut terdampak dan kebutuhan sehari-hari makin sulit dipenuhi, persoalannya jadi terasa sampai ke rumah.

Hal tersebut dibahas dalam diskusi tentang gerakan perempuan bersama Gernata Titi dari Ibu Berisik dan Kalis Mardiasih. Keduanya membicarakan bagaimana kondisi saat ini membuat semakin banyak ibu memilih untuk ikut bersuara dan bergerak.

Ketika Korban Kekerasan Harus Dibantu dengan Urunan

Kalis Mardiasih menceritakan kondisi lembaga layanan perempuan yang ikut terdampak efisiensi anggaran. Padahal, lembaga tersebut menangani korban KDRT, kekerasan seksual, hingga perempuan yang berada dalam siklus kekerasan.

Ketika anggaran terbatas, berbagai kebutuhan penanganan korban ikut tersendat. Mulai dari psikolog, rumah aman, biaya sekolah anak korban, sampai kebutuhan operasional pendampingan.

Akhirnya, ketika ada korban yang membutuhkan bantuan, para pendamping harus kembali urunan.

Situasi tersebut membuat muncul pertanyaan: masyarakat sudah membayar pajak, tetapi mengapa ketika ada korban kekerasan masih harus patungan untuk membantu mereka?

Dampaknya juga dirasakan di bidang literasi. Kalis Mardiasih bercerita tentang layanan perpustakaan keliling yang kini harus mengurangi titik kunjungan karena keterbatasan anggaran. Padahal, anak-anak di daerah masih menunggu kedatangan mobil perpustakaan tersebut.

Gerakan Perempuan Tak Harus Punya Satu Wajah

Kondisi seperti itu membuat persoalan yang sebelumnya terasa jauh akhirnya menjadi urusan sehari-hari. Karena itulah, semakin banyak ibu memilih untuk berisik dan ikut bergerak.

Namun, gerakan perempuan yang dibicarakan dalam diskusi tersebut tidak ingin bergantung pada satu tokoh. Kalismardiasi menjelaskan bahwa mereka berusaha membangun gerakan yang kolektif. Juru bicara bisa berganti, begitu pula orang-orang yang tampil di depan.

Tujuannya agar gerakan tidak ikut tumbang ketika satu orang tidak lagi bisa bergerak.

Pembicaraan soal kepemimpinan perempuan pun menurutnya tidak harus berhenti pada pertanyaan siapa perempuan yang harus menjadi pemimpin. Yang lebih penting adalah perspektif dalam memimpin.

Ia membayangkan kepemimpinan yang punya perspektif merawat dan mengasuh. Ketika mendapat mandat dari rakyat, seorang pemimpin seharusnya memikirkan semua kelompok, bukan hanya mereka yang berada di atas.

Sebab, memimpin negara barangkali memang bukan soal siapa yang paling kuat berdiri di depan. Yang lebih penting adalah siapa yang masih ingat untuk menjaga mereka yang ada di belakang.

Exit mobile version