Jogja dan festival musik sebenarnya bukan pasangan baru. Sejak era 2000-an, kota ini sudah akrab dengan berbagai gigs dan acara musik. Namun, makin ke sini, festival musik di Jogja juga ikut berubah. Penontonnya bertambah, bentuk acaranya makin beragam, tetapi tantangan yang dihadapi penyelenggara juga tidak semakin sederhana.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam sesi Sebat Dulu yang digelar dalam rangkaian Festival Mojok (Fesmo) 2026. Bersama Alit Jabang Bayi dan Patub “Letto” sebagai host, obrolan kali ini menghadirkan tiga orang yang sehari-hari bergelut di balik penyelenggaraan acara musik. Ada Arsita Pinandita dari Cherry Pop, Gervian Randra dari Hektik Kreatif, dan Prakoso Mukti dari Jawara.
Ketiganya membicarakan bagaimana festival musik di Jogja terus berkembang, sekaligus berbagai persoalan yang ikut muncul di balik ramainya acara. Mulai dari perubahan perilaku penonton, penyelenggaraan festival, hingga tantangan yang harus dihadapi para promotor.
Festival Musik Tak Cuma Soal Musik
Menurut Arsita, festival musik bisa menjadi ruang bagi orang untuk berkumpul dan meluapkan berbagai hal yang sedang mereka rasakan. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu baik, festival justru bisa menjadi tempat orang bertemu, ngobrol, dan merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Cherry Pop sendiri mencoba membawa gagasan tersebut lewat ruang komunitas dan beberapa panggung dengan karakter berbeda. Penonton tidak hanya datang untuk melihat band, tetapi juga mencari pengalaman, bertemu teman, makan, atau sekadar rekreasi.
Sementara itu, persoalan ekonomi membuat cara promotor mencari pemasukan ikut berubah. Sponsor yang dulu bisa menanggung sebagian besar biaya festival kini semakin sulit diandalkan. Merchandise dan berbagai ruang komersial akhirnya harus diolah menjadi sumber pemasukan tambahan.
Perizinan dan Venue Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Masalah lain yang tidak kalah pelik adalah perizinan. Para penyelenggara mengaku biaya perizinan bisa sangat tinggi dan perhitungannya tidak selalu mudah diprediksi. Salah satu cara yang dilakukan adalah membuat konsep acara yang lebih intim dengan jumlah penonton terbatas agar biaya bisa ditekan.
Belum lagi soal venue. Untuk acara dengan penonton ribuan hingga puluhan ribu orang, Jogja masih dianggap belum memiliki banyak tempat yang benar-benar ideal dari sisi akses, parkir, produksi, dan kondisi sekitar.
Di sisi lain, promotor juga menghadapi persoalan kepercayaan penonton. Beberapa acara yang batal setelah tiket presale terjual membuat orang kini cenderung membeli tiket mendekati hari pelaksanaan. Kondisi ini tentu menyulitkan cash flow penyelenggara yang membutuhkan dana presale untuk menjalankan festival.
Jadi, festival musik Jogja hari ini memang terlihat makin ramai. Namun, di balik panggung, line up, dan kerumunan penonton, ada pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Mulai dari mencari dana, venue, izin, sampai menjaga kepercayaan penonton.
Barangkali, supaya festival musik Jogja bisa terus tumbuh, yang dibutuhkan bukan cuma acara yang semakin ramai, tetapi juga ekosistem yang ikut dibangun bersama.
