Saya pernah menulis artikel Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang. Artikel itu ngulik soal kesalahpahaman sebagian besar orang Jawa terhadap rendang yang disajikan di banyak warung Padang.
Lauk yang dikira rendang itu sebenarnya adalah kalio karena masih berkuah atau punya minyak menggenang. Sementara rendang seharusnya dimasak hingga santan benar-benar habis, bumbu mengering, dan daging berubah warna jadi cokelat.
Saya kira salah kaprah terkait warung Padang di Jawa hanya soal kalio dan rendang saja. Ternyata saya salah. Yang keliru bukan cuma soal nama lauk, tapi cara kita, orang Jawa, memahami warung Padang secara keseluruhan. Setidaknya itulah hasil amatan saya.
Asal tahu saja, di banyak daerah di Pulau Jawa, warung Padang banyak yang mengalami nasib yang agak tragis. Citra dan namanya masih dipakai, spanduknya masih merah menyala, tapi isinya pelan-pelan kehilangan makna. Yang tersisa kadang cuma nasi, ayam goreng, sambal, selesai. Mirip seperti warung makan pada umumnya, mirip seperti warteg. Herannya, penjual yang menyajikan lauk macam itu masih saja nekat dan percaya diri memakan nama warung Padang. Saya selalu bingung di titik ini. Sejak kapan konsep nasi Padang sesederhana itu?
Terus terang saja, warung Padang bukan soal satu lauk. Dia soal pilihan. Soal banyaknya kemungkinan di depan mata. Soal etalase yang penuh, bukan piring yang sepi. Ada gulai ayam, dendeng balado, sampai lauk-lauk lain yang bahkan namanya saja kadang kita belum tentu hafal, tapi rasanya selalu punya satu kesamaan: berani.
Masalahnya, di Jawa, keberanian itu seperti dipangkas pelan-pelan. Disederhanakan. Dilunakkan. Sampai akhirnya yang tersisa bukan lagi warung Padang, tapi versi hematnya. Versi yang penting ada lauk. Versi yang tidak merepotkan dapur dan tidak menantang lidah. Di tengah penyederhanaan itu, ada satu hal yang terasa semakin dipaksakan: label warung Padang.
Banyak penjual cuma menumpang nama beken warung Padang
Banyak penjual kini tetap menumpang nama besar warung Padang apapun lauk yang dijual, selama ada nasi melimpah dan sambal, nama warung Padang masih akan dipakai untuk jualan. Mau ayam goreng biasa, mau lele, mau menu yang bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengan tradisi kuliner khas Sumatera Barat, semuanya jadi sah-sah saja, asal spanduknya tetap merah dan tulisannya tetap “Padang”.
Di titik ini, yang terjadi bukan lagi adaptasi, tapi pemaksaan identitas. Seolah-olah nama Padang itu cukup kuat untuk menutupi apa pun yang ada di piring.
Dan, anehnya, kita menerima itu. Kita datang, pesan, makan, bayar, pulang. Tidak ada protes. Tidak ada pertanyaan. Seolah-olah memang dari awal nasi Padang itu ya seperti itu: sederhana, minimalis, tidak perlu banyak pilihan.
Padahal kalau dipikir-pikir, ini agak janggal. Kita meminjam nama besar, tapi tidak benar-benar membawa isinya. Kita mengambil labelnya, tapi melepas standarnya. Dan yang lebih menarik, kita melakukannya dengan santai, tanpa rasa bersalah.
Termasuk soal rendang yang sering kita banggakan itu. Kita dengan percaya diri bilang sudah makan rendang, padahal yang datang sering kali masih basah, masih berkuah, masih jauh dari kata selesai. Tapi, karena sejak awal dikenalkan sebagai rendang, kita percaya saja. Kita tidak merasa ada yang aneh.
Di situlah masalahnya. Bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita tidak merasa perlu tahu. Semua jadi serba cukup. Cukup enak dan cukup murah. Dan, kata “cukup” itu pelan-pelan menggantikan standar yang seharusnya lebih tinggi.
Kehilangan identitas
Saya tidak sedang bilang semua warung Padang di Jawa itu salah. Tidak. Masih ada kok penjual warung padang yang serius, masih ada yang menjaga rasa, tidak sekadar numpang nama. Namun, jumlahnya tidak sebanyak yang kita kira. Yang lebih sering kita temui justru versi yang sudah disesuaikan sampai kehilangan bentuk awalnya.
Pada ujungnya, kita tidak benar-benar kehilangan warung Padang. Kita masih bisa menemukannya kalau mau mencari. Tapi, dalam keseharian, yang lebih sering hadir justru versi yang setengah-setengah. Versi yang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak bisa dibilang benar.
Kita terbiasa dan anggap itu normal. Kita berhenti membedakan. Sampai pada titik di mana nasi dengan ayam goreng atau lele pun bisa dengan mudah disebut nasi Padang, dan tidak ada yang merasa itu aneh.
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
