Bantu urus warisan menyadarkan saya betapa ribet dan penuh drama mengurus hal satu ini.
Dahulu saya berpikir kalau dapat warisan itu enak. Bisa langsung kaya dan foya-foya. Nyatanya tidak segampang itu. Apalagi pembagian warisan di keluarga yang biasa saja. Harus ada yang rela berkorban meluangkan waktu dan energi untuk mengurusnya. Mungkin akan beda cerita kalau pembagiannya terjadi di keluarga kaya raya yang old money ya. Mereka bisa menyewa orang yang sudah ahli untuk mengurus itu semua.
Sayangnya, keluarga besar saya tipe yang pertama. Nenek saya punya enam anak. Di antara enam anak itu beberapa sudah meninggal dunia. Itu mengapa pembagian warisan melibatkan cucu sebagai ganti orang tuanya. Bayangkan saja sebuah diskusi yang melibatkan banyak kepala dari berbagai generasi. Sulit banget ketemu jalan tengahnya.
Kenapa saya bisa tahu banget hal itu? Ya karena saya tergabung jadi salah satu pengurus pembagian warisan itu.
Ribet karena dokumen tidak lengkap
Persoalannya mungkin akan lebih mudah terurai kalau pembagian warisan dilakukan tidak lama setelah pemberi waris meninggal dunia. Sayangnya, hal itu tidak dilakukan keluarga kami. Akta kematian almarhumah hilang entah ke mana.
Itu mengapa ada banyak berkas yang mesti diurus. Saya harus bolak-balik ke RT, RW, kelurahan, kecamatan, Dukcapil, BPN. Bahkan, sempat sampai mengurusnya ke pengadilan agama. Duh, pokoknya banyak banget kantor yang harus disambangi.
Itu semua perlu waktu, tenaga, berkas, saksi, dan yang utama adalah perlu duit. Semua bakal ringan kalau dapat dukungan moril dan kooperatif. Masalahnya, ada beberapa pihak yang maunya terima jadi aja. Hadah.
Berpotensi terjadi perselisihan ketika bagi warisan
Secara teori, pembagian warisan itu gampang. Apalagi secara Islam semua itu sudah ada aturannya. Kita tinggal menghitung sesuai besaran yang ada di Al-Quran atau Kompilasi Hukum Islam. Yang bikin susah, tidak semua mengerti hukum pembagian warisan secara Islam.
Ketidakpahaman ini sebenarnya bisa diatasi dengan memberi penjelasan yang detail dan terbuka. Sayangnya, hal ini tidak mudah, apalagi pihak yang menerima warisan banyak, usia berbeda-beda, punya latar belakang beragam. Ujung-ujungnya terjadi perselisihan karena kesalahan komunikasi. Intinya mengurus warisan atau apapun yang berkaitan dengan duit itu benar-benar menguras fisik dan mental.
Dinamika mengurus warisan ini menyadarkan saya kalau cerita di film, drakor, sinetron itu benar adanya. Warisan memang bisa bikin seseorang kaya mendadak. Bayangkan saja, saya yang seorang cucu saja dapat bagian. Namun, bisa juga terjadi persaingan, perselisihan, hingga sesimpel kesalahan komunikasi yang bikin kehilangan saudara. Sad truth, tapi banyak yang kejadiannya begitu. Hanya karena warisan, hilang hubungan persaudaraan selamanya.
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
