Jujur euy, makin ke sini saya makin ngerasa ada fenomena yang aneh dengan adab nongkrong orang-orang kita. Banyak banget yang tiba-tiba mendadak amnesia cara berterima kasih kepada waiter.
Pernah suatu sore, ada rombongan muda-mudi yang outfit-nya dari atas sampai bawah kayaknya bisa buat nutupin uang sewa kosan saya setahun. Mereka asyik ngobrol keras-keras, lalu pesen makanan seabrek. Pas pesanannya datang, si Teteh waiter dengan sangat sopan menaruh piring satu per satu sambil senyum manis, “Permisi Kak, ini spaghetti carbonara-nya, ini matcha latte-nya, silakan dinikmati.”
Terus, tahu nggak apa respons rombongan borjuis itu? Nengok aja kagak. Boro-boro senyum balik atau mengangguk, mereka malah sibuk scroll layar HP dan lanjut ngakak-ngakak seolah si Mbak waiter itu cuma pajangan berjalan atau sosok transparan macam jin ifrit.
Sebagai rakyat jelata yang terbiasa hidup ngos-ngosan dan selalu deg-degan tiap buka menu makanan takut harganya selangit, saya jelas heran. Apa iya kalau saldo ATM kita udah nyentuh angka puluhan juta, pita suara otomatis mengalami kelumpuhan buat sekadar ngucapin “terima kasih”? Atau mungkin mereka pikir, karena udah bayar mahal, service charge yang tertera di struk itu otomatis ngebeli harga diri pelayannya juga? Gimana ya jalan pikirannya?
Jadi waiter itu berat
Padahal, pekerjaan jadi waiter itu beratnya minta ampun tau. Berdiri berjam-jam, nahan pegal di betis, harus tetap pasang senyum terbaik meski penuh masalah. Belum lagi kalau nemu pelanggan rada-rada yang ngomelnya setinggi langit cuma karena gulanya kurang pas. Kita ini kan rata-rata sama-sama babu korporat atau kaum pekerja, cuma beda seragam, tempat kerja, dan nasib aja. Kok ya gampang banget mengerdilkan orang lain.
Ngucapin “terima kasih” tiap kali makanan diantar atau piring kotor diangkat itu sebenarnya nggak butuh effort besar. Nggak bayar pula. Nggak akan ada biaya tambahan berupa “pajak apresiasi” di tagihan kita nanti. Ini murni perkara adab. Perkara bagaimana kita menempatkan diri dan memanusiakan manusia lain di sekeliling kita.
Akhirnya, setiap kali selesai nongkrong dan harus siap-siap pulang menelan kerasnya realitas, saya selalu mengusahakan buat merapikan sedikit piring atau gelas di meja, meringankan kerja waiter. Saat berpapasan sama pelayannya di pintu keluar, saya sempatkan senyum sedikit sambil mengangguk, “Makasih ya, A, Teh.”
Bukan buat sok suci atau pamer akhlak, saya mah sadar diri cuma pelanggan kere yang banyak ngerepotin mereka. Saya percaya, menghargai kerja keras orang lain itu adalah cara paling murah dan gampang untuk menjaga sisa-sisa kemanusiaan di diri kita. Lagian, mengapresiasi orang lain nggak akan pernah bikin kita jatuh miskin kok.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jadi Waiter Itu Nggak Pernah Mudah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
