Menyebut nama TVS di tongkrongan otomotif Indonesia sering kali terasa seperti mengaku punya selera musik indie di tengah pesta dangdut. Tidak salah, tapi hampir pasti akan ada jeda canggung sebelum orang lain bereaksi. Ada yang mengangguk sopan, ada yang mengernyit, ada juga yang langsung meremehkan, “Halah.. TVS buatan India?”
Percayalah, saya juga pernah berada di posisi itu. Dan justru dari rasa ragu itulah tulisan ini bermula.
Maklum, mayoritas orang Indonesia kalau membeli motor matic, pilihannya hampir selalu berhenti di dua nama besar: Yamaha atau Honda. Scoopy, Stylo, Grand Filano berseliweran di mana-mana baik di kota, kabupaten, kecamatan, sampai desa. Motor-motor itu hadir bukan cuma sebagai alat transportasi, tapi sebagai simbol rasa aman. Aman secara teknis, aman secara sosial.
Berangkat dari fakta tersebut, bukan berarti kita tidak punya pilihan lain, tapi karena kita terlatih untuk bertanya lebih jauh. Toh aman, kata orang. Suku cadang gampang. Bengkel ada di mana-mana. Nama mereknya tidak bikin kikuk saat ditanya tetangga. Di Indonesia ini, membeli motor sering kali bukan soal apa yang paling nyaman dipakai, tapi juga soal gengsi-gengsian, kan?
Padahal, kalau kita mau sedikit keras kepala, tidak peduli omongan orang dan mau menggali lebih dalam, ada beberapa motor matic kelas menengah yang justru lebih nyaman dan lebih masuk akal dibanding pilihan arus utama. Salah satunya adalah TVS Callisto 125, motor yang enak dipakai, tapi sejak awal sudah membawa beban psikologis sebagai “pilihan yang norak dan berbeda”.
Secara fungsional, TVS Callisto 125 menang segalanya!
TVS Callisto 125 sebenarnya bukan motor lama. Ia hadir di Indonesia pada awal 2024, upgrade dari pendahulunya Callisto 110 dan di saat pasar motor matik sedang penuh-penuhnya. Semua pabrikan berlomba menawarkan desain retro-modern, fitur segudang, dan narasi gaya hidup. Di tengah kebisingan itu, Callisto 125 datang dengan pendekatan yang agak aneh: nyeleneh tapi affordable.
Harga OTR Yogyakarta-nya berada di angka Rp22,8 juta. Angka yang, kalau dibaca sekilas, langsung membuat orang refleks membandingkan. “Dengan uang segitu, mending Scoopy yang aman,” atau “nambah dikit dapat Stylo.” Dan di situlah Callisto 125 sering kalah bahkan sebelum dinyalakan mesinnya.
Karena di Indonesia, harga bukan sekadar nominal, tapi juga tiket masuk ke rasa tenang. Semakin mapan mereknya, semakin terasa “pantas” uang itu dikeluarkan.
Kalau kita mau sedikit jujur dan menunda prasangka, TVS Callisto 125 terasa seperti motor yang dibuat oleh orang-orang yang paham bahwa hidup sehari-hari sudah cukup ribet tanpa perlu ditambah drama kendaraan. Ia tidak berusaha tampil paling kencang atau paling canggih. Fokusnya sederhana: membuat penggunanya tidak capek.
Dipakai harian, TVS Callisto 125 termasuk motor yang tidak rewel. Konsumsi bensinnya pun masuk akal, bukan irit yang dijadikan bahan pamer, tapi irit yang benar-benar terasa efeknya saat akhir bulan datang lebih cepat dari gaji. Jalan macet, stop-and-go, muter urusan, semua dilahap tanpa banyak keluhan.
BACA JUGA: Pengalaman Saya Ditipu Makelar Motor: Bilangnya Vespa Tua, Ternyata Bajaj Deluxe
Praktis banget
Kepraktisan juga jadi nilai jual yang sering luput dibicarakan. Bagasinya lega, muat dua helm tanpa perlu ritual dorong-dorongan yang biasanya bikin emosi naik. Suspensi belakangnya bisa diatur, fitur kecil yang sering disepelekan, tapi terasa penting ketika jalanan mulai tidak ramah tulang belakang. Joknya empuk, posisi duduknya santai, cocok untuk orang-orang yang lebih sering berkendara daripada sekadar foto motor.
Secara fungsi, TVS Callisto tidak mencoba mengesankan. Justru sesuai dengan apa yang kita butuhkan; kenyamanan dalam berkendara.
Bahkan Antonius Yulianto, host sekaligus test rider di kanal YouTube Otomotif TV, pernah menyebut TVS Callisto 125 sebagai motor yang “fiturnya melimpah, iritnya nggak kira-kira, dan nyaman banget dipakai.” Sebuah ringkasan yang terdengar sederhana, tapi cukup menggambarkan posisi Callisto 125 di kelas motor matik 20 jutaan: tidak heboh, tapi fungsional.
BACA JUGA: Bajaj Pulsar 180 UG4, Motor Tangguh yang Susah “Netral”
Tapi tidak semua orang siap memilikinya
Kalau motor ini memang senyaman itu, lalu kenapa tidak banyak orang yang membelinya?
Jawabannya sebenarnya tidak rumit, tapi sering tidak enak diakui. Bukan karena TVS Callisto 125 jelek. Bukan karena fiturnya kurang. Apalagi karena tidak nyaman. Tapi, ya karena TVS!
Masalah utama TVS Callisto bukan berada di mesin, suspensi, atau joknya, melainkan di kepala kita sendiri. Bahkan sebelum motor ini sempat dicoba, kekhawatiran sudah lebih dulu datang. Bengkelnya nanti ada atau tidak? Suku cadangnya gampang atau ribet? Dan pertanyaan paling sensitif yang jarang diucapkan keras-keras kalau suatu hari dijual lagi, masih laku atau tidak?
Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya mengada-ada. Jaringan TVS memang tidak semasif merek Jepang arus utama. Strategi pemasarannya pun terasa kalem, nyaris seperti tidak sedang berjualan. Akibatnya, TVS Callisto harus membawa spesifikasi yang solid sambil menanggung citra merek yang belum sepenuhnya dipercaya.
Di Indonesia, memilih motor sering kali bukan soal rasionalitas semata, tapi soal kenyamanan psikologis. Tentang tidak ingin repot menjelaskan pilihan. Tentang ingin hidup tenang tanpa harus menjawab pertanyaan berulang di parkiran atau tongkrongan.
Oleh karena itulah, meski TVS Callisto 125 secara fungsional adalah pilihan yang nyaman dan masuk akal, tidak semua orang siap memilikinya.
Dan mungkin, justru di situlah posisi Callisto 125 paling jujur: motor yang tidak memaksa semua orang menyukainya, tapi akan sangat berarti bagi mereka yang berani memilihnya.
Penulis: Juhan Suraya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kawasaki Bajaj Pulsar 200NS: Motor Tarikan Gila Berbusi Tiga
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
