Trio Senator AS Roma

Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Dini hari tadi, AS Roma kembali menampakkan kecemerlangannya di bawah besutan tangan dingin Gasperini. Di Olimpico, Tim Serigala ini membantai tamunya, Cremonese dengan skor telak: 3-0.

Di Roma, sepakbola tidak pernah sekadar pertandingan. Ia adalah percakapan panjang antara masa lalu dan hari ini, antara bekas reruntuhan kekaisaran dan suara serak Curva Sud. Kota ini tidak mencintai kemenangan semata, ia mencintai mereka yang bertahan. Sebab di Roma, kesetiaan lebih dihormati daripada kejayaan yang berlangsung singkat.

Setelah Francesco Totti menutup kitabnya dan Daniele De Rossi meninggalkan lapangan sebagai centurion terakhir, Roma seperti kehilangan aksennya sendiri. Banyak pemain datang membawa teknik, reputasi, dan harga mahal, tetapi sedikit yang memahami bahasa emosional kota ini, bahasa yang tidak diajarkan di akademi mana pun.

Lalu, tanpa manifesto dan tanpa mahkota, lahirlah apa yang oleh para tifosi disebut i senatori: Gianluca Mancini, Lorenzo Pellegrini, dan Bryan Cristante. Bukan pahlawan epik, melainkan penjaga api kecil yang memastikan Roma tetap menjadi Roma.

Lorenzo Pellegrini (29 tahun) adalah anak kota yang kembali pulang bukan sebagai ‘prodigal son’, tetapi sebagai pewaris sunyi. Ia bermain seperti seorang gelandang klasik Italia: kepalanya terangkat, punya sentuhan pertama yang bersih, sekaligus visi yang lebih cepat dari langkah lawan. Lebih dari 50 gol dan 60 asis bersama Giallorossi bukan sekadar statistik, tetapi menjadi bukti kontribusi nyata. Dalam dirinya, Roma menemukan kapten yang tidak berteriak untuk didengar, tetapi diikuti karena dipercaya.

Di belakangnya berdiri Gianluca Mancini (29 tahun). Ia adalah bek yang seolah-olah lahir dari batu travertino stadion Olimpico. Ia bermain dengan semangat lama calcio: tubuh sebagai argumen terakhir, duel sebagai bentuk kejujuran. Dengan hampir 20 gol dan belasan asis dari lini belakang dalam lebih dari tiga ratus laga, Mancini mengingatkan pada era ketika seorang defender tidak hanya menghentikan permainan, tetapi juga menulis takdirnya sendiri di kotak penalti lawan. Ia bukan tipe pemain elegan — Roma memang tidak pernah meminta keanggunan, tetapi seorang pemain pemberani.

Bryan Cristante, 30 tahun, adalah antitesis dramatisme kota ini. Ia tidak mencari sorotan; ia mengatur keseimbangan. Dalam orkestrasi sepakbola Italia, ia adalah metronom yang jarang disadari keberadaannya sampai ritme menghilang. Lebih dari 300 pertandingan, belasan gol dan asis, semuanya lahir dari pekerjaan yang hampir anonim. Sejenis kontribusi yang dahulu oleh disebut Gianni Brera sebagai kerja seorang operaio del pallone, buruh sepakbola yang memahami bahwa harmoni lebih penting daripada tepuk tangan.

Di Trigoria, kepemimpinan mereka tidak berbentuk pidato. Ia hadir dalam kebiasaan kecil: menyambut pemain baru, menjelaskan beratnya lambang serigala di dada, mengingatkan bahwa Roma bukan klub transit. Bagi mereka, mengenakan seragam AS Roma berarti menerima kontrak emosional dengan kota yang mencintai sekaligus membenci mereka secara total.

Sepakbola modern bergerak cepat, bahkan terlalu cepat. Loyalitas menjadi variabel ekonomi, bukan pilihan moral. Namun trio ini bertahan melewati proyek yang gagal, pelatih yang datang silih berganti, dan musim-musim yang menguji kesabaran publik Olimpico. Mereka tetap di sana ketika lampu sorot meredup, ketika kritik menjadi lebih keras daripada nyanyian.

Itulah sebabnya mereka disebut senator. Dalam republik kuno Roma, senator bukan prajurit paling kuat, melainkan penjaga kesinambungan. Mereka memastikan republik tidak kehilangan ingatannya sendiri.

Mancini, Pellegrini, dan Cristante bukan legenda karena trofi semata. Mereka penting karena memilih tinggal. Karena memahami bahwa di Roma, kemenangan hanyalah bagian dari episode, tetapi identitas adalah cerita panjang yang harus dijaga oleh mereka yang bersedia memikulnya.

Dan mungkin, seperti yang sering disiratkan Brera tentang calcio Italia, sepakbola sejati bukanlah tentang siapa yang paling bersinar, melainkan siapa yang tetap berdiri ketika lampu stadion mulai padam.

Exit mobile version