Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya (Unsplash)

Dulu, sebelum SUV dan Crossover membanjiri jalanan, ada satu jenis mobil yang jadi tulang punggung keluarga Indonesia, MPV penggerak roda belakang. Benar, yang saya bicarakan adalah Toyota Veloz 2017.

Dulu, RWD adalah sebuah hal yang umum. Lihat saja Toyota Kijang, Mitsubishi Kuda, Isuzu Panther, sampai Daihatsu Zebra. Semua pakai RWD, semua terbukti tangguh. Tapi sekarang, pabrikan sudah mulai meninggalkan RWD demi efisiensi dan kabin yang lebih luas. Generasi terbaru Avanza dan Veloz sudah pakai penggerak roda depan. Bahkan Xenia saja juga ikut-ikutan.

Toyota Veloz 2017 jadi salah satu generasi terakhir MPV sejuta umat dengan penggerak roda belakang. Dan saya kebetulan masih megang satu.

Romantisme RWD yang perlahan hilang

Buat yang nggak pernah naik mobil RWD, mobil jenis tersebut punya sensasi yang beda. Saat tanjakan curam, mobil ini nggak sekadar “naik”. Ada dorongan dari belakang yang bikin Anda yakin mobil akan sampai di puncak. Bukan kayak FWD yang kadang rodanya selip, tenaga buyar, dan Anda cuma bisa pasrah sambil nahan napas.

Dulu, kalau mau mudik ke kampung atau liburan ke pegunungan, bapak-bapak mekanik di desa yang usianya sudah diatas 40-an bilang, “Pakai mobil RWD aja, biar aman.” Sekarang, saya baru paham maksudnya.

Di sinilah kehebatan Toyota Veloz 2017 akhirnya tampak. Veloz adalah mobil yang bisa diandalkan. Mengerti konsumen di Indonesia, yang tak hanya membawa mobilnya ke jalan yang mulus, tapi pada momen tertentu, membawanya ke medan-medan yang tak lazim.

Tapi, saya (juga) nggak mau sok-sokan bilang Veloz 2017 ini mobil sempurna. Karena jujur, dia jauh dari sempurna. Kabinnya nggak sekedap generasi baru. Di jalan tol, suara angin masuk kayak ada yang bersiul di samping telinga. Di jalanan berkelok kayak Pujon-Ngantang di Malang atau jalur menuju Telaga Menjer di Wonosobo, mobil ini memang agak limbung. Badan mobil goyang, dan Anda harus ekstra sabar nahan setir.

Tapi ketika sudah di tanjakan ekstrem, jalanan Pacet atau Cangar yang bikin deg-degan, baru terasa bedanya.

Saya pernah lihat sendiri mobil-mobil FWD zaman sekarang gagal nanjak di tanjakan. Rodanya selip, tenaga hilang, dan mereka cuma bisa parkir di pinggir sambil nyalain hazard. Sementara Veloz 2017 meski naiknya pelan-pelan, tapi nggak pernah berhenti di tengah.

Butuh proses panjang buat dapetin Veloz 2017 yang KM rendah

Saya nggak tiba-tiba punya mobil ini. Ada cerita di baliknya.

Tahun 2024, setelah tiga kali ganti mobil bekas dan hampir ketipu odometer, saya mulai belajar buat nggak asal beli. Jadi ketika kepikiran pengin Toyota Veloz 2017, saya nggak langsung dateng ke showroom. Saya cari tim inspektor.

Lewat timnya Mas Wahid, yang channel di YouTube suscribenya sudah jutaan itu, saya minta tolong dicariin unit yang bener-bener segar. Timnya, khususnya Mas Agus, saya minta satu hal, jangan cukup cek OBD scanner. Cek langsung ke bengkel resmi Toyota utnuk double cek semuanya.

Kenapa? Karena saya udah kapok. Saya pernah hampir pernah dapat mobil bekas unit mobil tahun 2015 yang katanya “100 ribu kecil,” padahal setelah dicek bengkel resmi ternyata di 2019 udah 170 ribu. Jadi sekarang saya nggak mau ambil risiko.

Setelah keluar bukti dari bengkel resmi Toyota, akhirnya ketemu Veloz 2017 dengan kilometer 69 ribu. Masih cukup rendah buat ukuran mobil seumuran. Harga 160 jutaan. Cukup murah waktu itu, untuk kondisi service record bengkel resmi. Barulah saya berani bilang, “Deal.” Dan sejak itu, mobil ini saya jaga banget.

Rasanya bawa Veloz RWD ke gunung-Gunung Jawa

Setelah punya, saya coba bawa ke mana-mana. Gunung-gunung Jawa Tengah dan Jawa Timur jadi langganan. Pernah ke Telaga Menjer di Wonosobo. Jalanannya berkelok, sempit, dan nanjak terus. Veloz ini tetap ngotot. Nggak cepat sih, tapi stabil. Ada sensasi “roso”, terasa tenaganya, terasa dorongannya.

Pernah juga lewat Pujon-Ngantang di Malang. Di situ baru terasa kelemahannya. Limbung. Mobil ini memang agak oleng di tikungan tajam kalau dipacu agak kencang. Tapi ya itu tadi, namanya juga RWD lawas. Kekurangan udah saya maklumi. Yang penting sampai, bukan yang penting cepat.

Di tanjakan ekstrem, dia juaranya. Jalan lurus, dia biasa-biasa aja. Di tikungan, saya harus ekstra sabar. Tapi sampai sekarang, belum pernah saya menyesal.

Kenapa saya masih megang RWD?

Tapi ya, saya juga cuma lelaki pada umumnya. Setelah anak-anak dan istri tidur, saya suka ngopi di teras rumah sambil buka-buka marketplace. Nggak tahu kenapa, jari saya sering nggak sengaja ngetik “Innova Zenix.” Saya lihat-lihat fotonya. Saya bayangin betapa nyamannya kabin itu. Saya klik iklan, jari saya udah hampir ngetik pesan buat penjualnya.

Terus saya ingat. Saya belum punya uang buat ganti Toyota Kijang Innova Zenix Q Hybrid Modellista CVT TSS. Alias dompet tidak sesuai harapan!

Akhirnya saya tutup HP, teguk kopi yang udah mulai dingin, dan kembali ke realitas. Veloz 2017 yang di depan rumah masih setia menunggu. Besok saya masih harus antar anak sekolah dan mungkin minggu depan saya akan bawa dia ke tanjakan lagi. Dan itu sudah cukup.

Mungkin nanti. Kalau rezekinya sudah datang. Tapi untuk sekarang, saya cukup bersyukur masih punya benteng terakhir RWD ini.

Penulis: Muhammad Faishol
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version