Jujur saja, ketika ada anak SD yang naik kelas dari kelas 5 menuju kelas 6, ada satu momok yang cukup menakutkan bagi orang tua seperti saya: acara perpisahan dan pengukuhan!
Stigma orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta dewasa ini adalah mereka diasumsikan sebagai para orang tua yang berduit. Satu sisi saya amin-kan pernyataan itu sebagai doa, tapi di sisi lainnya juga menjadi beban tersendiri, terkhusus dalam kondisi perekonomian negara yang sangat tidak stabil saat ini.
Apalagi dengan banyaknya konten yang saya lihat terkait acara perpisahan dan pengukuhan sekolah swasta beberapa tahun belakangan, rata-rata terkesan mewah dan terlalu melenceng dari esensi perpisahan itu sendiri. Alih-alih sebagai acara untuk menjalin silaturahmi bersama seluruh jajaran staf guru di sekolah dan para orang tua murid untuk terakhir kalinya dengan konsep sederhana, malah jatuhnya seperti bermewah-mewahan dan adu outfit para orang tua.
#1 Acara perpisahan anak SD di hotel itu sungguh mubazir
Di satu kesempatan menjemput anak pulang sekolah, saya memilih duduk di samping segerombolan ibu-ibu yang saya tahu anak-anak mereka juga seangkatan dengan anak saya di kelas 5. Berbagai macam pembahasan saya curi dengar dan temanya standar saja, entah itu perkara rumah tangga, bahas kebijakan pemerintah atau harga sembako di pasar yang pada naik, yah standar ibu-ibu ngerumpi.
Saya tidak terlalu peduli dan masih asyik melihat konten IG di gawai saya, sampai pada akhirnya mereka nyeletuk tentang perpisahan anak mereka nanti di kelas 6.
“Eh nanti perpisahannya di hotel A aja, jangan pesta kebun, nanti kasian anak-anak kepanasan,” ceteluk ibu yang satu.
“Iya sih, biar make up emak-emaknya juga ga cepet luntur kan,” timpa ibu lainnya.
Dan obrolan mereka masih berlanjut, masing-masingnya saling memberikan opsi hotel mana yang paling cocok untuk perpisahan nanti. Sepertinya hampir semua nama hotel di Kota Banjarbaru sudah disebut mereka dengan plus minusnya. Terkadang penasaran, apakah mereka benar-benar orang tua murid atau sales marketing hotel itu sendiri, kok pada sampai hapal spesifikasi tiap hotel.
Saya sudah tidak fokus lagi scroll konten. Imajinasi saya berlarian karena memikirkan satu pertanyaan : “Kenapa perpisahan anak SD harus di hotel ?”
Bukankah itu sangat mubazir? Kenapa tidak melakukan acara yang sederhana saja seperti mereka dulu ketika masih menjadi murid SD. Saya yakin mereka—dan saya juga—ketika SD dulu tidak ada tuh kepikiran menyelenggarakan acara perpisahan di hotel. Pasti semua acaranya di sekolah mereka sendiri.
#2 Kondisi ekonomi saat ini membuat para orang tua harus lebih struggle
“In this economy era…”
Begitulah kira-kira istilah zaman now yang sering kita dengar kalau sedang membahas topik ketidakstabilan dunia ekonomi Indonesia. Dan orang tua murid seperti saya juga merasakan dampaknya. Mau beli barang itu sekarang harus mikir dan semakin rajin melihat label harga dan komposisi produk. Prinsip saya sekarang itu beli yang paling murah tapi minim resiko, kalau Anda juga begitu, maka kita sama.
Prinsip itu juga berlaku untuk kegiatan perpisahan dan pengukuhan anak saya nanti. Kenapa kita harus mengeluarkan banyak uang, kalau inti dari perpisahan dan pengukuhan itu hanya sebatas acara seremonial saja?
Toh di sekolah anak saya yang berbasis keagamaan juga ada fasilitas masjid yang lumayan besar dengan selasar di lantai dasarnya yang cukup luas untuk mengadakan acara. Selama ini di dalam masjid juga sering diadakan acara resepsi pernikahan dengan dilanjutkan acara makan-makan dan foto-foto bersama pengantin di selasarnya. Kenapa tidak membawa konsep pernikahan ini untuk diaplikasikan ke acara perpisahan dan pengukuhan nanti sih?
Pemerintah kita loh sudah banyak mencontohkan cara bertahan dengan efisiensi di mana-mana, masa kita tidak melakukan hal yang sama. Apa efisiensi tersebut dikalahkan oleh gengsi para orang tua yang secara kondisi perekonomiannya jauh lebih baik? Entahlah.
#3 Ini cuma acara perpisahan sekolah, bukan perpisahan dengan dunia
Saya tidak sepenuhnya tahu bagaimana konsep berpikir orang tua yang berinisiatif membuat acara perpisahan sekolah anaknya dengan konsep mewah seperti di hotel. Yang saya tahu cuma bahwa ini hanya perpisahan biasa saja karena alur pendidikan di Indonesia yang seperti itu. Kamu selesai di sekolah dasar maka kamu akan naik jenjang ke sekolah menengah pertama. Itu saja, tidak ada yang lain. Sederhana bukan?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa perpisahan ini sebagai bentuk rasa syukur karena anak mereka telah dibimbing selama 6 tahun. Sebagai rasa terima kasih kepada dedikasi para guru atau sebagai bentuk ucapan selamat tinggal yang layak kepada para orang tua murid yang sudah saling bertemu selama 6 tahun belakangan ini. Apa benar begitu?
Justru menurut hemat saya, ini karena sudah ada yang mencontohkan dari sebelum-sebelumnya. Seperti konten-konten perpisahan anak sekolah yang pernah saya lihat selama ini. Memang kesannya terlalu mubazir hanya untuk sekadar disebut acara perpisahan anak sekolah.
Dengan kondisi ekonomi saat ini, seharusnya orang tua bisa lebih bijak lagi dalam mengambil Keputusan. Ini adalah momen untuk menghentikan tradisi mubazir dan mulai mengajarkan anak-anak kita nilai kesederhanaan.
Sederhana di sini bukan berarti terkesan murahan dan tidak bermakna, tapi membuat acara perpisahan dengan budget seefisien mungkin dan membangun suasana yang jauh lebih khusyuk dan intim agar lebih bisa memaknai arti perpisahan itu sendiri. Salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas di lingkungan sekitar masjid seperti yang sudah saya sampaikan di atas.
Ayolah, turunkan gengsi kita dengan lebih peka terhadap kondisi saat ini. Tidak semua orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta itu duitnya lebih dari cukup semua. Masih banyak juga yang harus berpikir keras agar semuanya bisa tercukupi dengan baik. Yang jelas kita pasti sama-sama menginginkan pendidikan terbaik untuk anak kita kan?
Saatnya kita putuskan mata rantai acara perpisahan sekolah dan pengukuhan anak yang mubazir!
Penulis: Agus Hadi Handoko
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Unpopular Opinion: Prosesi Wisuda TK hingga SMA Itu Biasa Aja, Ngapain Resah?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
