Setelah menulis informasi yang perlu diketahui pengunjung Tebet Eco Park agar tidak kebingungan yang tayang di Terminal Mojok, sekarang saya ingin menulis satu masalah krusial yang ada di taman ini. Masalah itu adalah semerbak bau busuk dari sungai di dalamnya.
Bagi teman-teman yang belum mengenal Tebet Eco Park, itu adalah salah satu taman di Jakarta Selatan yang bisa disebut sebagai mahakarya. Taman ini begitu indah dengan segala pepohonan dan tanaman yang hijau. Keasrian tersebut membuat taman ini cocok untuk berbagai hal, seperti piknik, jogging, bahkan ada ibu-ibu yang menggelar pengajian di sini. Namun, di tengah taman ini dialiri sebuah sungai yang mengeluarkan bau yang benar-benar mengganggu.
Ibaratnya begini. Katakanlah ada seorang pria yang memakai kemeja lengan panjang, rambut klimis, dan jam mahal yang menemplok di pergelangan tangannya. Perawakannya begitu rapi dan enak dipandang. Namun, ketika seorang perempuan tertarik untuk mendekatinya, ia terkejut dengan bau busuk dari badannya dan malah ingin menghindarinya. Begitulah gambaran Tebet Eco Park, enak dipandang, tapi menyakitkan untuk dicium.
Setelah melakukan riset kecil-kecilan terkait masalah ini, ternyata ada beberapa temuan menarik. Mulai dari bagaimana kualitas air pada sungai taman ini hingga komitmen pemerintah yang tidak dapat dipercaya. Mari kita bahas satu per satu.
Kualitas air Tebet Eco Park yang buruk dan tak sesuai standar
Bila kita mendekati sungai yang ada di Tebet Eco Park, maka kita akan mendapati air yang begitu keruh dan tidak indah untuk dilihat. Ternyata kualitas air di taman ini pernah dijadikan topik penelitian pada studi kualitas lingkungan. Ardhini (2024) menjelaskan dalam penelitiannya bahwa kualitas air sungai di taman bagian utara memiliki kandungan amonia sebesar 18,3 mg/L dan total coliform yang tinggi sebesar 4.300.000MPN/100 mL.
Bingung dengan istilah kimianya? Sini saya jelaskan pelan-pelan. Amonia merupakan senyawa nitrogen yang biasanya berasal dari kotoran dan pembusukan. Semakin tinggi angka amonia pada air, maka pencemaran pada air sedang aktif-aktifnya atau baru terjadi. Biasanya, sumber amonia dapat berasal dari urine, feses, limbah, atau dekomposisi bahan organik. Kandungan ini berbahaya untuk lingkungan karena jika kadarnya tinggi bisa beracun bagi ikan dan menyebabkan bau menyengat.
Lalu, ada total coliform yang merupakan sekelompok bakteri yang dijadikan penanda apakah air tercemar kotoran atau tidak. Angka yang tinggi pada total coliform dapat menjadi penanda bahwa air dapat berbahaya jika disentuh atau dikonsumsi.
Sekarang kita kembali kepada hasil penelitian tersebut. Kedua kandungan tersebut di sungai taman ini terbilang sangat tinggi dan melebihi standar aman. Maka tidak heran sungai tersebut terlihat kotor dan mengeluarkan aroma yang sangat busuk. Penelitian lain oleh Putri (2024) yang berfokus pada air di sungai Tebet Eco Park bagian selatan juga menunjukkan bahwa kualitas air di sana sangat kotor. Bahkan, penelitian tersebut menekankan bahwa kualitas air tersebut tidak sesuai dengan standar dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021.
Pemerintah yang cuman omon-omon
Sebetulnya, ketika Tebet Eco Park diresmikan dan dibuka pada 2022, masalah sungai bau tersebut sudah ada. Masalah ini bahkan disoroti oleh Ketua Komisi D DPRD DKI ketika sedang melakukan kunjungan ke taman ini. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pun didesak untuk membenahi masalah ini oleh DPRD DKI Jakarta.
Tiga tahun setelah itu pada 2025, gubernur Jakarta terbaru, Pramono Anung, juga menyadari sungai di taman tersebut yang begitu bau dan hitam. Beliau juga menyebutkan bahwa air yang masuk ke taman ini sudah difilter sehingga kualitas airnya membaik. Namun beberapa hari lalu pada 2026, saya mengunjungi taman ini dan bau dari sungai tersebut masih merebak.
Sekarang pertanyaannya adalah selama empat tahun ini sebenarnya pemerintah niat nggak sih mau membenahi masalah ini? Empat tahun itu waktu yang lama lho. Di rentang waktu tersebut kepemimpinan di Jakarta juga sudah berkali-kali pindah tangan. Masa iya tidak ada perubahan sama sekali?
BACA JUGA: 4 Hal yang Perlu Kamu Tahu tentang Tebet, Kecamatan yang Tak Pernah Tidur
Pada akhirnya warga dipaksa menerima
Memang betul, meskipun ada bau yang merebak dari sungai tersebut, pengunjung Tebet Eco Park masih juga ramai sampai hari ini. Namun, angka jumlah pengunjung yang tinggi tidak bisa dijadikan patokan bahwa taman ini baik-baik saja. Harusnya pemerintah provinsi terus melakukan evaluasi rutin agar memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Bila masalah ini dibiarkan, lama kelamaan pengunjung juga ogah untuk berkunjung ke taman ini.
Sangat disayangkan taman sebagus Tebet Eco Park di–treat secara setengah-setengah. Di mana lagi kita bisa melihat kawasan hijau di Jakarta yang begitu besar asri selain di sini?
Namun, apa boleh buat? Sebagai WNI kita terbiasa menyuarakan suatu masalah dengan lantang dan berujung diabaikan. Hingga akhirnya, kita terus dipaksa menerima pelayanan dan kebijakan pemerintah yang penuh kekurangannya.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tebet Eco Park: Taman Kota yang Asik di Jaksel, tapi Tukang Parkirnya Bikin Kesel
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
