Ada satu paragraf di buku Thesis yang menolak keluar dari kepalaku. Tan Malaka bilang jalan ke depan itu asing dan berjalan ke depan berarti petualangan yang mungkin membawa maut.
Satu-satunya yang pasti, katanya, adalah “perjalanan ke belakang”, kembali ke jalan lama yang sudah kita hafal ujungnya. Lalu, dia menutupnya dengan kalimat yang pahit: itulah jalan yang pasti terang. Terang yang dia maksud bukan terang yang menenangkan. Itu terang jalan yang sudah kita tahu berakhir di mana.
Sulit membaca kalimat itu tanpa membayangkan di mana dia menulisnya. Tan Malaka menyusun Thesis dari rutan di lereng Gunung Lawu pada 1946, sementara Republik tempat dia ikut berjuang mengurungnya.
Dari sel itu, dia tidak menulis keluh kesah. Tan Malaka menulis rencana tentang bagaimana negara itu seharusnya berdiri. Bahkan di bagian penutup, ketika sedang membela diri dari tuduhan pengkhianat, Tan masih sempat menawarkan jamu urat saraf paling manjur kepada si penuduh. Orang yang humornya tidak mati di dalam penjara selalu membuatku curiga bahwa dia lebih waras dari orang-orang di luarnya.
Ketika Tan Malaka menampar
Gagasan pertama yang menamparku dalam buku ini justru yang paling sederhana, yaitu perbedaan antara cara berpikir dan hasil berpikir. Tan Malaka berkali-kali mengingatkan agar kita tidak menelan teori orang lain mentah-mentah, entah dari Karl Marx, Lenin, atau siapa saja. Marx juga manusia yang bisa salah hitung, katanya.
Yang berharga dari seorang guru adalah caranya berpikir, bukan jawaban-jawabannya. Tan bahkan bilang yang terpenting adalah merumuskan persoalan di tanah sendiri sebelum buru-buru mencari solusi. Aku membaca bagian itu sambil merasa dia sedang menyindirku. Kita ini bangsa yang jago menyalin: istilah, program, slogan, bahkan cara marah. Kita hafal jawabannya, tapi jarang sempat bertanya soalnya apa.
Lalu, Tan Malaka memberi judul semacam penyakit pada sebuah bab, “-ist” dan “-isme”. Di situ dia memperingatkan betapa berbahayanya orang yang mengaku pengikut sejati lalu menuduh orang lain pengikut palsu, apalagi di masyarakat yang pada saat itu menurut catatannya 93% buta huruf dan mudah menjadi korban bisikan palsu.
Hari ini, kita sudah melek huruf, tapi bisikan palsu tetap hidup nyaman di grup WhatsApp keluarga. Yang membuat kita saling melabeli satu sama lain; “Antek Asing”, “Anak Abah” dan julukan lainnya.
Selalu ada yang merasa paling benar, selalu ada pula yang menganggap lawannya lancung. Dan seperti kata Tan Malaka, yang paling mendapat untung dari semua pertikaian saudara itu adalah musuh bersama yang sedang menonton sambil makan kacang.
Penyakit yang tidak akan sembuh
Aku membaca bagian ekonomi dalam buku ini seperti berita lama yang menolak basi. Tan Malaka menjelaskan bagaimana penjajah dulu mengatur tanah ini sebagai pemasok bahan mentah dan barang mewah agar orang di tempat lain menikmatinya, dengan keuntungan mengalir keluar dan membiarkan rakyatnya hidup dengan sebenggol sehari.
Yang paling menggelitik adalah bagaimana penjajah memutar kemelaratan itu menjadi kebanggaan. “Lihat, si pribumi bisa hidup dengan sebenggol saja, betapa sederhana dan bersyukurnya.”
Aku tidak cukup ahli untuk menilai seberapa banyak yang sudah berubah sejak 1946. Tapi, pertanyaannya terdengar akrab sampai ke telinga. Siapa sebenarnya yang paling menikmati hasil bumi ini, dan kenapa selalu ada yang meminta rakyat bersyukur lebih dulu?
Satu istilah yang membuatku berhenti lama adalah “inlanders-alat”. Dia memakainya untuk menyebut pribumi. Sekolah dan sistem kolonial membentuk mereka sedemikian rupa sehingga siapa saja yang berkuasa cocok memakai mereka.
Tuannya bisa ganti dari Belanda ke Jepang, atau bahkan saudara sebangsa kita sendiri, dan yang berubah cuma kata perintahnya, dari “ja, meneer” menjadi “hai”. Tan Malaka juga menyindir gelar akademik. Titel, katanya, hanya menjamin kecerdasan di bidang teknis, bukan kecerdasan membaca masyarakat.
Aku tidak berani menuding siapa yang hari ini sebagai inlander-alat. Tapi aku curiga penyakit itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berganti baju, orang menunjukkan sopan santun yang berlebihan kepada atasan, menyebut kepatuhan sebagai loyalitas, dan terbiasa menunggu perintah dari atas bahkan ketika atapnya sudah bocor.
Tan Malaka juga tidak percaya pada diplomasi yang hanya mengandalkan lidah
Kalau tidak ada kekuatan nyata di belakangnya, katanya, perundingan hanya jadi gerakan mulut. Aku membayangkan betapa dia akan lelah melihat negeri yang begitu mahir berpidato, meresmikan, dan berseremoni. Kita punya pidato untuk hampir semua hal. Yang sering ketinggalan adalah kerja di belakang pidato itu.
Dan di sinilah aku harus jujur tentang diriku. Aku sudah lama tidak menaruh harapan pada negara. Kecarut-marutan yang tiap hari lewat di kepalaku sudah terlalu akrab untuk membuatku marah lagi.
Tapi ketika membaca Thesis, aku menemukan bahwa Tan Malaka pun sudah membayangkan hal itu. Dia menulis bahwa dalam perjuangan ke depan rakyat Indonesia mungkin terpaksa bersandar pada kekuatan dirinya sendiri, dengan dasar “tolong diri sendiri”, begitu dia menyebutnya.
Aku langsung mengingat kampung halamanku, Lamongan. Di sana para tetangga datang membantu hajatan tanpa ada siapa saja yang menyuruh mereka, ikut plandang atau sinoman tanpa upah, lalu pulang membawa cerita serta sebungkus nasi, sebab tuan rumah sudah menyiapkannya. Tentu tidak persis sama.
Tan Malaka bicara soal perlawanan terhadap penjajah, bukan soal arisan atau gotong royong kampung. Dan dia tidak sedang memuji negara yang absen. Tan justru menolak menunggu. Itu pelajaran yang berbeda, bahwa kita tidak boleh menjadikan kemampuan bertahan hidup sendirian sebagai alasan untuk membiarkan negara lalai.
Tuduhan pengkhianat
Tan Malaka memakai hampir sepertiga akhir buku untuk membela diri dari tuduhan pengkhianat atas peristiwa 1926. Pada awalnya aku merasa bagian itu agak melelahkan, penuh nama dan perdebatan organisasi yang jauh dari hidupku. Tapi lama-lama aku melihatnya sebagai bagian paling manusiawi dari buku ini.
Ini orang yang menggagas revolusi, tapi juga orang yang takut orang lain salah paham terhadap dirinya. Dia bahkan bercerita bahwa Tan hidup bertahun-tahun dengan nama samaran yang berganti-ganti, dan bahwa dua senang akhirnya bisa membuang semua nama itu dan memakai namanya sendiri di masa “berterang-terangan”, begitu dia menyebutnya.
Aku menutup halaman itu dengan getir. Tan akhirnya bisa menyebut namanya sendiri dengan terang, tapi di masa terang itulah negaranya sendiri memenjarakannya.
Dalam kata pengantarnya, penerbit menuliskan bahwa Tan Malaka gagal sebagai subjek politik. Idenya pupus, partainya kecil, dan dia mati setelah tentara republik menembaknya, republik yang justru dia bela. Aku tidak bisa membantah itu.
Tapi, aku tidak bisa berhenti memikirkan fakta bahwa hampir delapan dekade kemudian orang mencetak ulang ratusan halaman tulisan dari sel pengap itu, memberinya catatan kaki, dan pembaca yang tidak pernah sempat berkenalan dengannya membacanya. Itu bukan kemenangan, tapi juga bukan kegagalan yang sempurna.
Mungkin begitulah cara buku ini bekerja padaku. Ia tidak memberiku harapan pada negara, dan tampaknya memang tidak berniat begitu. Dia memberiku sesuatu yang lebih sederhana yaitu rasa malu kalau berhenti berpikir. Jalan ke depan memang masih asing dan mungkin berbahaya. Tapi setidaknya aku belum hafal ujung jalan itu.
BACA JUGA Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.