Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Taman Safari Prigen, Tempat Wisata yang Bikin Saya Emosi dan Nggak Mau Ke Sana Lagi

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
25 November 2025
A A
Taman Safari Prigen, Tempat Wisata yang Bikin Saya Emosi dan Nggak Mau Ke Sana Lagi

Taman Safari Prigen, Tempat Wisata yang Bikin Saya Emosi dan Nggak Mau Ke Sana Lagi (unsplash,com)

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang nggak suka main ke kebun binatang? Apalagi kalau konsepnya dibuat menyerupai alam terbuka tanpa dibatasi teralis kandang hewan. Iming-iming ini pula yang membuat saya tergiur berkunjung ke Taman Safari Prigen.

Begitu ada waktu dan dana, saya menyempatkan jauh-jauh dari Semarang ke Pasuruan demi merasakan petualang menonton satwa ala di alam liar. Harapannya saat pulang nanti, saya punya bekal cerita seru berikut seabrek foto yang bisa dipamerkan lewat media sosial. Namun apa yang saya bayangkan ternyata jauh panggang dari api.

Petualangan yang saya harapkan berjalan mulus dan penuh tawa, justru berubah menjadi sebuah drama epik dengan ending yang sama sekali nggak saya harapkan. Rasanya, semua angan buat bersenang-senang di sana menguap begitu saja. Bagi saya, ke Taman Safari Prigen bukanlah hiburan, melainkan uji kesabaran.

Tiket mahal Taman Safari Prigen jadi sia-sia, soalnya satwa nyaris rusa semua

Jujur, harga tiket masuk Taman Safari Prigen itu bukan receh. Ekspektasi saya jelas setinggi langit. Maunya, ketemu singa, badak, panda, atau hewan langka lain yang jarang dilihat langsung. Namun, setelah tuntas berkeliling, saya justru merasa tiket terusan yang saya beli jadi sia-sia. Soalnya satwa yang mendominasi itu hampir rusa semua.

Kalau cuma mau lihat rusa, buat apa repot jauh-jauh ke sini dan bayar mahal juga? Mending saya ke kebun binatang lain saja meski nggak berkonsep alam terbuka seperti taman safari. Bahkan, di beberapa tempat wisata yang bukan kebun binatang sekalipun, gimmick rusa itu sering ada. Asli, rasanya seperti kena prank!

Foto hewan nggak bisa gratis, wajib beli pakan yang harganya bikin meringis

Di beberapa spot hewan herbivora Taman Safari Prigen seperti jerapah dan gajah, euforia saya sempat naik lagi karena katanya pengunjung boleh turun mobil dan foto bersama satwa. Sialnya, kesenangan itu nggak gratis. Pasalnya, kalau mau foto, wajib bayar dulu untuk beli pakan satu paket seharga Rp50.000,-.

Tanpa pakan, petugas nggak bakal mengizinkan ambil gambar. Sedihnya lagi, dengan nominal semahal itu, isian pakan yang didapat terbilang pelit. Jadi, keseruan memberi makan hewan yang harusnya jadi momen berkesan, hanya bisa berlangsung sebentar.

Kebijakan voucher foto nggak jelas, pengunjung merasa ditipu mentah-mentah

Masih soal foto bersama hewan, di momen tersebut pasti ada petugas yang ikut nimbrung dan mengambil foto pengunjung dengan kamera mereka. Setelah selesai, saya diberi semacam voucher yang katanya ditukar untuk pengambilan foto.

Baca Juga:

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

Putuk Lesung Pasuruan Cocok Dikunjungi Orang-orang yang Lelah Liburan ke Malang

Parahnya, petugas nggak menjelaskan dari awal bahwa pengambilan foto itu harus bayar, bahkan untuk file digital saja. Kalau mau dicetak, tentu tambah biaya lagi. Jujur saja, cara seperti bikin pengunjung merasa dijebak layaknya hewan buruan.

Wahana permainan Taman Safari Prigen banyak yang tutup dan kurang variasi, mending ke pasar malam

Di bagian ticketing, saya beli tiket terusan dengan harapan biar bisa main wahana sampai puas. Faktanya, malah banyak wahana yang tutup ketika saya datang. Rasanya kentang banget, sudah bayar lebih, tapi yang bisa dinikmati seuprit.

Yang paling bikin ilfeel adalah pengalaman di rumah hantu. Saya kira bakal seru dan menantang seperti wahana serupa di tempat lain. Nyatanya, pengunjung cuma disuruh duduk manis di kereta otomatis. Setelahnya, hanya menonton mainan hantu yang geraknya itu-itu saja.

Bagi penyuka adrenalin, rumah hantu di Taman Safari Prigen ini jauh dari sensasi seram. Malah, lebih mirip Istana Boneka yang ada di Dufan. Tahu begini, mending saya jalan-jalan ke pasar malam. Setidaknya, usaha buat bikin hantu-hantuan mereka lebih terasa.

Intinya begini, perjalanan ke Taman Safari Prigen ini benar-benar menguji iman saya. Belum lagi, soal transportasi di dalamnya. Sistem shuttle bus di sana merepotkan sekali karena harus beli tiket lagi. Padahal kontur jalan di sana itu nggak datar dan cukup licin.

Ditambah lagi, sistem pembayaran hanya bisa non-tunai. Bukannya anti-digital, tapi ini terasa seperti pemaksaan yang nggak mempertimbangkan semua segmen pengunjung. Seluruh kerumitan minor yang menumpuk ini meyakinkan saya untuk nggak lagi-lagi kembali ke sana ketimbang berakhir kecewa.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Pengelola Taman Safari Indonesia dan para Pengunjung.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: kabupaten pasuruankebun binatangPasuruantaman safariTaman safari prigenwisata jawa timur
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Pasuruan Ideal, Lebih dari Kota dengan UMR Tertinggi di Indonesia (Unsplash) banyumas, pandaan, bangil

Culture Shock yang Dirasakan Orang Banyumas Ketika Merantau di Pasuruan: Sudah Siap Batin Kena Mental Logat Jatim, eh Justru Sebaliknya

24 Juli 2025
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton

Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton

30 Mei 2025
Pasuruan Ideal, Lebih dari Kota dengan UMR Tertinggi di Indonesia (Unsplash) banyumas, pandaan, bangil

Saya Warga Kabupaten Pasuruan Tulen yang Kurang “Hoki” di Kota Sendiri: Tanpa Orang Dalam, Hidupmu Runyam!

7 Agustus 2025
Kalau Mau Menua dengan Tenang Jangan Nekat ke Malang, Menetaplah di Pasuruan!

Kalau Mau Menua dengan Tenang Jangan Nekat ke Malang, Menetaplah di Pasuruan!

15 Desember 2025
4 Alasan Saya Kapok Naik Bus Kuning Mojokerto-Pasuruan Mojok.co

4 Alasan Saya Kapok Naik Bus Kuning Mojokerto-Pasuruan

3 November 2024
KA SuPas, Juru Selamat bagi Pelaju Pasuruan-Surabaya seperti Saya

KA SuPas, Juru Selamat bagi Pelaju Pasuruan-Surabaya seperti Saya

4 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.