ADVERTISEMENT

Taman Prameswati Kediri, dibangun untuk ikon kota berakhir jadi hujatan warga

Taman Prameswati Kediri, dibangun untuk ikon kota berakhir jadi hujatan warga

Belakangan ini, nama Taman Prameswati Kediri ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena fasilitas atau keindahan tamannya, melainkan karena namanya dianggap identik dengan Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati.

Pemerintah Kota Kediri meresmikan taman tersebut sebagai bagian dari upaya menambah ruang terbuka hijau (RTH) yang bersih, hijau, dan nyaman bagi masyarakat. Tentu saja, pembangunan taman baru patut diapresiasi. Warga membutuhkan ruang publik untuk beristirahat, berkumpul, atau sekadar melepas penat.

Namun, ketika nama taman justru lebih ramai dibicarakan daripada manfaatnya, ada hal yang patut dipertanyakan. Mengapa penamaan fasilitas publik bisa memancing polemik di tengah masyarakat Kota Kediri hingga saya tergerak menuliskan ini.

Saat nama wali kota termuda jadi polemik di taman kota

Menurut saya, persoalan Taman Prameswati Kediri bukan semata-mata soal cocok atau tidaknya sebuah nama. Kemiripannya dengan nama belakang wali kota membuat sebagian warganet mempertanyakan dasar pemilihan nama tersebut.

Bahkan, perdebatan turut melebar pada penilaian terhadap kiprah Vinanda selama memimpin Kota Kediri. Sebagian warganet menganggap pembangunan dan aktivitas pemerintah belum cukup terlihat hasilnya, sehingga penggunaan nama yang identik dengan wali kota justru mengundang komentar miring.

Tentu saja, komentar di media sosial tidak bisa dijadikan bukti bahwa ada kepentingan pribadi di balik penamaan taman. Namun, ramainya perbincangan menunjukkan bahwa keputusan mengenai fasilitas publik membutuhkan penjelasan yang terbuka.

Apalagi, Taman Prameswati Kediri merupakan ruang bersama yang dibangun untuk kepentingan masyarakat. Wajar jika warga ingin mengetahui siapa yang mengusulkan nama tersebut dan apa pertimbangan yang mendasarinya.

Klarifikasi yang memunculkan blunder baru Pemkot Kediri

Polemik tersebut kemudian ditanggapi Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri. Kepala DLHKP, Indun Munawaroh, menjelaskan bahwa nama Prameswati merupakan inisiatif dari pihak dinas. Menurutnya, Prameswati berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna wanita utama atau sosok perempuan yang dihormati. Maka dari itu, muncullah nama Taman Prameswati.

Penjelasan tersebut semestinya membantu masyarakat memahami alasan pemilihan nama taman. Namun, sebagian warganet kembali mempertanyakan keterangan itu. Berdasarkan penelusuran mereka, istilah yang berkaitan dengan makna atau sebutan tersebut adalah Prameswari, bukan Prameswati.

Perbedaan istilah mungkin terlihat sepele. Akan tetapi, ketika nama taman sudah menjadi sorotan karena kemiripannya dengan nama wali kota, ketepatan penjelasan tentu penting.

ADVERTISEMENT

Jika penamaan Taman Prameswati tersebut memang merupakan inisiatif DLHKP, pemerintah bisa menjelaskan proses pemilihan nama sekaligus menunjukkan sumber rujukan yang digunakan. Dengan begitu, masyarakat memperoleh jawaban yang jelas, bukan justru dihadapkan pada pertanyaan baru.

Taman Prameswati Kediri untuk warga, bukan sekadar titip nama

Saya tidak melihat polemik ini sebagai alasan untuk menolak pembangunan RTH di Kota Kediri. Keberadaan taman tetap penting, tetapi manfaatnya bagi masyarakat seharusnya menjadi perhatian utama.

Taman yang baik bukan hanya tempat yang memiliki nama menarik atau terlihat bagus saat peresmian. Lebih dari itu, taman harus nyaman, terawat, mudah diakses, dan benar-benar bisa dimanfaatkan warga.

Jika ingin menjadikan taman sebagai ikon kota, pemerintah tentu boleh memiliki harapan tersebut. Namun, sebuah ikon tidak lahir hanya karena tempat diberi nama dan diresmikan pejabat. Ikon tumbuh ketika masyarakat merasa dekat, menikmati manfaatnya, dan memiliki alasan untuk membanggakannya.

Oleh karena itu, polemik Taman Prameswati seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menunjukkan bahwa keputusan mengenai fasilitas publik memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai warga asli Kediri saya kira semua sepakat masyarakat tidak membutuhkan taman yang hanya ramai dibicarakan karena namanya. Mereka membutuhkan ruang publik yang benar-benar berguna. Sebab, setelah seremoni peresmian selesai dan perdebatan mereda, yang semestinya bertahan adalah manfaat taman bagi sekitar, bukan malah meninggalkan polemik yang sekedar nitip nama.

Penulis: W.S Nurbaiti
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kediri yang Lupa Ingatan: Tingkat Kegemaran Membaca Rendah, padahal Sejarah Kediri Erat dengan Literasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

W.S Nurbaiti

Lulusan Tadris Biologi, bermukim di Kediri. Menulis untuk membaca kebijakan, menimbang persoalan, dan menyuarakan suara yang terabaikan.