Mojok Itu Bukan Hanya Media, tapi Juga Sebuah Sekte

Mojok itu memang sudah seperti sekte. Mereka punya aliran tersendiri, punya ciri khas tersendiri, yang hampir tidak bisa ditiru oleh media-media lain.
Menulis di Terminal Mojok: Bayaran Secukupnya, Usaha Sekerasnya

Untuk menulis di Terminal Mojok yang bayarannya setara dengan harga segelas kopi dan Indomie untuk diri sendiri, ternyata butuh usaha sekeras PDKT ke gebetan.
Tipe Komentator Tulisan di Terminal Mojok dan Cara Penulis Menanggapinya

Lantaran keunikannya, saya akhirnya melakukan observasi kecil-kecilan untuk menemukan tipikal tukang komen tulisan di Terminal Mojok.
Susahnya Menulis Parodi Kayak Haris Firmansyah dan Gusti Aditya

Saya meyakini menulis parodi adalah sesuatu yang tidak akan mati dan bisa diambil alih oleh kecerdasan buatan. Bukan begitu?
Emang Penulis Terminal Mojok Ada yang Punya Privilese, ya?

Setelah hampir 80 artikel saya tayang di Terminal Mojok, sampai detik ini pun saya juga belum tahu tulisan seperti apa yang sebenarnya diinginkan redaktur Mojok.
Riset Saya Soal Gimana Caranya Tulisan Bisa Sayang Eh Tayang Di Terminal Mojok

Berdasarkan riset saya, tulisan bisa tayang di terminal mojok tuh ternyata ada rumusnya. Ini saran sotoy saya sih, tapi sangat bisa dicoba!
Terminal Mojok: Penulis sebagai Bis, Tulisan sebagai Penumpang, dan Pembaca sebagai Bis Mania

Terminal Mojok, sejak awal sudah memposisikan dirinya sebagai “terminal tulisan”. Sebagaimana terminal pada umumnya, hanya menjadi tempat singgah sementara.