Kalau kalian bener-bener nggak cocok dengan gudeg, mending jadiin ayam geprek sebagai oleh-oleh Jogja kalian. Beneran, kalian pasti cocok!
Belakangan ini, setiap kali bertemu dengan kawan baru dan saya memperkenalkan diri sebagai orang Jogja, mereka selalu mengeluhkan hal yang sama. Teman-teman baru saya yang berasal dari luar kota dan pernah mampir ke Jogja selalu menyempatkan diri untuk makan gudeg. Bahkan mereka bawa oleh-oleh berupa gudeg untuk keluarganya.
Mereka merasa bahwa wajib hukumnya untuk mencoba gudeg sebagaimana gudeg adalah ikon kuliner Jogja. Kebanyakan pun membeli gudeg kalengan di pusat oleh-oleh Jogja terlebih dahulu, baru menyempatkan diri nyicipin gudeg. Mereka yang belum pernah nyoba gudeg dan kebetulan punya selera yang berbeda pasti punya keluhan yang sama.
“Mbak, rasa gudeg kok manis banget, sih? Nggak cocok di lidah aku,” begitu kata mereka.
Sebagian besar teman-teman saya yang mengeluh seperti ini lebih akrab dengan kuliner dengan rasa asin atau pedas dibandingkan manis. Buat mereka, rasa manis itu ya cuma untuk camilan, makanan penutup, atau manisan, bukan untuk hidangan utama kayak gudeg.
Solusi oleh-oleh Jogja untuk wisatawan
Perlu kita akui bahwa cita rasa gudeg nggak selalu cocok di lidah wisatawan. Apalagi Indonesia ini punya banyak sekali kuliner lokal yang dominasi rasanya berbeda-beda. Misalnya di Jawa Barat sebagian besar panganan utamanya memiliki rasa asin, sementara daerah-daerah pegunungan di Jawa punya variasi makanan dengan rasa dominan pedas.
Lalu, apa oleh-oleh Jogja yang bisa ditawarkan ke wisatawan kalau bukan gudeg?
Gudeg memang sudah lama sekali menjadi ikon kuliner Jogja, suatu hidangan yang wajib dicoba di kota kelahirannya secara langsung. Tapi, ada juga lho makanan utama yang sudah lekat dengan Jogja, ada di berbagai daerah tapi hasil imitasinya nggak pernah mirip dengan aslinya, sekaligus juga rasanya lebih universal dan mudah diterima oleh lidah.
Ia adalah ayam geprek.
Ayam geprek lahir di Jogja berkat Ibu Ruminah atau Bu Rum yang mulai membuat dan memasarkannya sejak tahun 2003 di daerah Papringan. Nama blio memang sudah sangat terkenal, apalagi di kalangan mahasiswa. Beberapa cabang Bu Rum pun bisa dengan mudah ditemukan di sekitaran kampus-kampus di Jogja.
Ayam geprek yang memang berasal dari Jogja jadi alasan kuat, ya untuk menjadikannya sebagai oleh-oleh khas Jogja. Selain itu, setiap makanan khas daerah tertentu pasti akan diubah-ubah keasliannya di tempat lain sehingga wajib banget untuk mencobanya langsung di tanah kelahirannya.
Sebuah fakta bahwa ayam geprek di luar Jogja itu skill menirunya nggak 100 persen plek ketiplek sama. Namanya sama-sama ayam geprek tapi ada-ada saja anomalinya. Entah itu sambalnya cuma dioles ke ayamnya atau ayamnya cuma dipuk-puk. Padahal ayam geprek yang asli itu dihancurkan sampai remuk pakai ulekan. Rasanya pun nggak autentik asli Jogja. Makanya nyicipin yang asli itu harus langsung ke sini.
Ayam geprek akan jadi kuliner kontemporer khas Jogja
Kenapa lebih cocok jadi oleh-oleh Jogja, karena ayam geprek memiliki rasa yang lebih mudah diterima untuk setiap lidah warga Indonesia. Siapa pun, dari latar belakang agama dan sosial manapun bisa dan doyan makan ayam. Sambal juga merupakan representasi pendamping makan yang universal di Indonesia, meskipun cuma berbagai macam wujud. Soal dua hal ini, wisatawan yang mau makan ayam geprek nggak perlu adaptasi yang ekstrem.
Kalaupun nggak terlalu kuat dengan pedas, setiap warung selalu menyediakan sistem custom. Kita bisa mengatur sendiri level pedas yang kita mau. Bahkan kita bisa pilih juga jenis sambalnya. Bahkan, ayam geprek pun bisa disesuaikan dengan selera kita, misalnya bisa dikolaborasikan dengan keju seperti yang ada di Ayam Geprek Bu Rum. Jadi ayam geprek punya banyak pilihan dan alternatif.
Ayam geprek pun bisa dibilang adalah kuliner akar rumput. Ia lahir di tengah kebutuhan mahasiswa untuk makan banyak, kenyang, tapi tetap murah dan enak. Makanya ia identik dengan warung sederhana, mahasiswa, kelas menengah. Makan ayam geprek nggak perlu di restoran fancy. Warung dekat kampus atau jalan utama pasti menyediakan ayam geprek. Wisatawan jadi mudah untuk mendapatkannya.
Oleh-oleh Jogja yang lebih mudah diterima
Mungkin ada juga yang berpikir, kalau misalnya ayam geprek dijadikan oleh-oleh Jogja, terus cara bawa ke kampung halaman gimana? Masa dalam bentuk nasi bungkus.
Weitsss, jangan salah. Kalau gudeg bisa dikalengin, ayam geprek juga bisa di-frozen-in. Toh kalau misal wisatawan nggak suka dengan bentuk packaging makanan frozen, setiap warung pasti punya cara pengemasan mereka masing-masing, sehingga masih kelihatan lah autentisitasnya dari mereknya.
Ayam geprek cocok banget untuk dipertimbangkan sebagai oleh-oleh Jogja karena rasanya yang lebih universal dan mudah diterima lidah manapun, harganya terjangkau, fleksibel, dan cara mendapatkannya juga gampang banget. Bu Rum harus punya status yang sama legendarisnya sebagaimana Yu Djum.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Jogja yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang sebelum Membelinya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















