Soto Kudus vs Soto Lain di Pulau Jawa, Enak Mana ya?

Soto Kudus vs Soto Lain di Pulau Jawa, Enak Mana ya?

Soto Kudus vs Soto Lain di Pulau Jawa, Enak Mana ya? (Midori via Wikimedia Commons)

Soto Kudus termasuk varian soto yang cukup terkenal. Kira-kira kalau kita adu dengan soto dari daerah lain di Pulau Jawa, siapa yang bakal jadi pemenang, ya?

Khazanah kuliner Indonesia sangat kaya. Keragaman makanan di Indonesia bukan cuma soal solusi mengganjal perut yang lapar, tapi juga berkaitan soal tradisi hingga jadi sarana icip-icip yang menggoyang lidah.

Untuk bisa wisata kuliner dengan semua menu makanan khas Indonesia, mungkin kita perlu waktu berbulan-bulan. Bisa jadi malah bertahun-tahun, mengingat variasi makanan khas Indonesia ini banyak banget. Satu menu saja bisa punya banyak ragam. Salah satu makanan khas Nusantara yang punya banyak macam adalah soto.

Dari Sabang sampai Merauke, ada berbagai jenis soto yang berbeda dari segi isian, bumbu, cita rasa, dan keunikannya. Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2014 mencatat bahwa soto di Indonesia punya lebih dari 100 varian.

Nggak jarang saya jumpai orang-orang dari daerah tertentu yang merantau mengalami culture shock sama soto di tempat tinggal barunya. Ini karena variasi soto di Indonesia yang begitu kaya. Malah kadang dua wilayah yang berbatasan saja bisa punya jenis soto yang berbeda.

Di Pulau Jawa saja, hampir tiap daerah punya variasi soto sendiri. Tapi kalau dipilih satu macam soto yang paling terkenal, mungkin itu adalah soto Kudus. Tanpa perlu jauh-jauh, soto dari Kota Kretek ini bisa kita temukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Berkat hal itu, penggemar soto Kudus pun tersebar di mana-mana. Mereka yang menggemari soto Kudus umumnya suka dengan cita rasanya yang gurih.

Karakteristik Soto Kudus

Soto Kudus terkenal berkat daging yang disajikannya, yaitu daging kerbau. Penggunaan daging kerbau ini sudah tradisi turun temurun. Alasannya karena pada masa Sunan Kudus menyebarkan Islam, beliau menyembelih kerbau untuk kurban pada hari raya Iduladha. Penyembelihan kerbau dimaksudkan untuk menghormati masyarakat Kudus yang beragama Hindu.

Seperti yang kita ketahui, masyarakat penganut agama Hindu nggak mengonsumsi daging sapi sekaligus menjadikan sapi sebagai hewan suci. Oleh karena itulah Sunan Kudus mengganti makanan dan tradisi yang menggunakan olahan daging sapi dengan kerbau.

Namun, perlu dicatat bahwa walaupun aslinya soto Kudus menggunakan daging kerbau, di beberapa tempat, soto kudus juga kadang menggunakan daging ayam. Walaupun begitu cita rasanya tetap gurih dan nikmat.

Ciri khas soto kudus lainnya adalah ukuran mangkoknya yang kecil. Mangkok kecil ini dipakai untuk menghidangkan satu porsi soto.

Saingan Soto Kudus dari Jawa

Masih di Pulau Jawa, terdapat berbagai variasi soto dari berbagai daerah. Dari publikasi berjudul Diversity of Indonesian soto yang ditulis oleh Yudhistira dan Fatmawati yang mengelompokkan jenis-jenis soto berdasarkan wilayahnya, tercatat ada 52 soto yang berasal dari Pulau Jawa (soto dari Madura nggak ikut saya hitung). Dari sebegitu banyaknya macam soto, saya pilih beberapa yang paling dikenal masyarakat secara umum.

Soto Betawi

Tak seperti soto Kudus yang menggunakan daging kerbau, soto Betawi menggunakan babat, jeroan, dan daging sapi. Kuahnya kuning kecokelatan karena menggunakan kapulaga. Rasa gurihnya muncul dari perpaduan kaldu dan santan.

Soto Mie Bogor

Jika jenis soto lain menggunakan bihun, berbeda dengan soto mie Bogor yang menggunakan mie telur kuning. Soto mie dipadukan dengan daging dan jeroan sapi.

Sroto Sokaraja

Varian soto yang unik karena pakai bumbu kacang dan ketupat. Isiannya pakai daging ayam kampung atau kadang daging sapi, bihun, kecambah, dan kerupuk merah.

Soto Semarang

Sepertinya lebih familier Soto Bangkong daripada nama daerahnya. Padahal aslinya Soto Bangkong itu nama rumah makan yang mempopulerkan soto khas Semarang. Soto Semarang identik dengan bahan kemiri dan sering disantap dengan sate kerang.

Soto Blora

Disebut juga soto klethuk yang mengombinasikan ayam suwir, taoge, bihun, telur, bawang goreng, dan klethuk. Klethuk ini adalah singkong yang dipotong kotak-kotak kecil dan digoreng sampai renyah.

Soto Lenthok

Soto khas Yogyakarta yang memadukan soto ayam dengan lenthok. Lenthok ini adalah singkong yang dihaluskan kemudian digoreng. Lenthok sebelas dua belas dengan perkedel, hanya berbeda di bahan baku utamanya. Soto Lenthok kadang diberi kemangi juga.

Soto Lamongan

Keunikan dari soto satu ini adalah kuah kuning bening yang berbeda dari soto Kudus. Kuah kuning ini kemudian dipadukan sama suwiran daging ayam (di beberapa tempat terkadang pakai daging sapi), kol, tomat, dan bihun. Ciri khasnya adalah serbuk koya gurih yang terbuat dari kerupuk udang.

Soto Kediri

Soto ayam yang dipadukan dengan bihun, telur, kecambah, daun bawang, dan seledri. Ciri khas soto ini adalah rasanya yang gurih dari kencur, ketumbar, terasi, kemiri, dan kuah santan.

Semua soto yang saya sebutkan di atas adalah kawan sekaligus pesaing soto kudus. Disebut kawan karena soto yang bermacam-macam itu memperkaya kekayaan dan sejarah kuliner Indonesia. Sementara itu, disebut pesaing karena cita rasa soto yang berbeda-beda kadang membuat masyarakat Indonesia berdebat buat menentukan soto mana yang paling enak.

Soto yang paling enak

Ini masalah selera sebenarnya. Kalau diperdebatkan, mungkin persereteruan soto yang paling enak bakal kayak bubur diaduk vs nggak diaduk: nggak bakal selesai-selesai.

Tapi, kalau melihat dari penilaian yang dilakukan oleh CNN, jenis soto asal Indonesia yang masuk ke dalam 20 sup terbaik di dunia adalah soto ayam. Peringkat ini dipublikasikan pada 2021 lalu.

Mengingat jenis soto yang mewakili sup khas Indonesia di peringkat tersebut adalah soto ayam, kemungkinan besar soto Kudus nggak termasuk dalam proses seleksi dan penilaian. Soalnya soto Kudus menggunakan daging kerbau, bukan daging ayam. Jadi, kemenangan ini adalah milik soto dari daerah mana pun yang menggunakan daging ayam.

Kalau boleh berpendapat, menurut saya di antara soto-soto yang ada di Pulau Jawa, dengan segala hormat, yang paling enak bukan soto Kudus, melainkan soto Lamongan. Alasan utamanya karena soto Lamongan lebih gurih dibanding soto Kudus. Serbuk koya yang ditaburkan di seporsi soto Lamongan membuat saya lebih memilih soto ini.

Selain itu, saya sendiri belum terlalu terbiasa atau menyukai olahan daging kerbau. Buat saya, daging kerbau teksturnya lebih liat dan seratnya lebih kasar dibandingkan daging sapi. Walaupun ada soto Kudus yang menggunakan daging ayam, tapi menimbang soto Kudus yang original menggunakan daging kerbau, saya belum bisa menobatkan soto Kudus sebagai soto terenak di Jawa untuk saat ini.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Soto Khas dari Jawa Tengah yang Underrated, Sudah Pernah Coba?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version