Solitude, Praktik Hening yang Menghidupkan

solitude

solitude

Pernah merasa dunia terlalu berisik? Pernah merasa terlalu pening dengan segala yang terjadi di sekitar kita? Saya rasa setiap manusia pernah mengalaminya. Semakin tua usia kita, semakin banyak hal yang harus didengarkan. Semakin dewasa diri kita, semakin banyak yang harus diperhatikan.

Lalu bagaimana jika kita terlalu sering memperhatikan hal-hal di luar diri kita? Bagaimana jika kita menghabiskan waktu untuk mengenali sesuatu di luar sana namun menengok ke dalam diri sendiri saja jarang? Bagaimana jika kita terlalu senang tamasya suka-suka sementara kediaman sendiri tidak dibereskan?

Kita semua tahu dunia berputar cepat. Peristiwa penuh bertebaran. Detak jam tak lagi berhenti selagi detak jantung kita masih terasa. Time flies. Praktik solitude merupakan latihan jiwa yang sering saya baca di buku-buku pengembangan diri. Solitude berarti kesendirian. Perlu dicatat bahwa solitude tidak sama dengan loneliness (kesepian). Solitude merupakan aktivitas tanpa aktivitas. Usaha mengosongkan diri dari segala rutinitas. Mengambil sejenak waktu untuk menepikan diri. Memberi ruang napas bagi hati.

Paulo Coelho pernah menulis “Solitude is not the absence of company, but the moment when our soul is free to speak to us and help us decide what to do with our life.

Solitude nampak seperti usaha sia-sia saja, namun jika kita mengerti dan mendalaminya, solitude dapat menolong kehidupan emosional manusia. Solitude juga menjadi bagian dari proses mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan bersolitude, kita mengusahakan perpisahan transien dengan kesibukan sehari-hari. Solitude tidak menuntut apa-apa. Solitude hanya membutuhkan si empunya jiwa. Jiwa yang mau beristirahat. Jiwa yang mau berserah. Jiwa-jiwa yang tak kenal gengsi akan rasa lelah.

Manusia seringkali terikat berbagai macam tuntutan. Beberapa hal menjadi deadline mayor, sementara beberapa selipan minor juga tak mungkin ditinggal begitu saja. Pada akhirnya, begitu banyak impuls menyeberang di kepala.

Latihan solitude saya lakukan di beberapa waktu. Salah satunya saya terapkan ketika saya mengikuti retreat beberapa tahun silam. Meskipun saya tidak dapat mengikuti semua sesi tiga hari dua malam itu secara lengkap, saya merasa sangat terbantu. Bukan saja dalam kehidupan rohani, melainkan juga dalam kehidupan emosional saya.

Awalnya saya tak mengira tempat retreat tersebut akan abstain dari sinyal. Tapi begitu tiba di sana, ponsel saya sangat susah menerima sinyal. Nyaris tak ada informasi yang masuk dan keluar melalui ponsel saya. Digempur dengan rundown acara yang begitu rapat, saya diajarkan untuk menikmati moment. Salah satu moment yang saya dapat adalah moment bersama Tuhan. Keteduhan suasana di sana membuat jiwa saya teduh juga.

Perlahan saya mulai lupa (sejenak) akan ambisi-ambisi, deadline, beban, tekanan, dan prasangka duniawi. Saya sadar saat itu jiwa saya mulai menepi. Saya mengambil waktu untuk berdiam diri, mengambil waktu lebih bersama Tuhan, merenungi seberapa salah hidup saya sampai detik itu, menghirup udara lebih dalam, dan bersyukur lebih kusyuk.

Sekembalinya saya dari retreat, ada perasaan bahagia tersesap pelan. Ada rasa tenang yang mendiamkan ego saya sejenak. Ada hormat yang begitu besar untuk seluruh alam raya. Ada rasa cinta terhadap waktu, yang sebelumnya saya maki-maki jika tuntutan duniawi sudah mendekat. Bersolitude membantu saya menutup koneksi dengan hal-hal duniawi yang mengendalikan. Bersolitude mampu memeriksa kembali jiwa saya. Sudah sekering apa. Sudah berapa lama saya telantarkan.

Moment solitude kedua favorit saya, yang sering saya dapatkan di kota, adalah ketika saya sedang menunggu misa dimulai. Saya lebih senang pergi ke gereja pagi hari di hari Minggu. Biasanya jika jiwa saya sedang patuh, saya akan berangkat lebih awal. Supaya saya bisa menikmati kekosongan dan kekusyukan yang tercipta sebelum misa dimulai.

Datang ke rumah Tuhan dan diam di dalamnya menjadi moment yang mewah untuk saya. Saya menatap ke sekitar. Biasanya beberapa kursi masih kosong. Orang-orang berdatangan satu per satu. Saya mengalihkan fokus saya ke altar. Saya tak perlu waktu lama untuk menjadi tenang. Kemudian saya merefleksi diri saya sendiri. Merenungi kembali segala macam rasa dan beban yang membuat jiwa tidak sehat.

Sebenarnya, solitude tidak membutuhkan waktu ‘tertentu’. Kita bahkan bisa melakukannya setiap hari. Setiap saat. Di mana kita bisa bersatu dengan diri kita sendiri. Di mana jiwa mendapat tempat untuk merefleksikan apa yang terjadi. Dalam doa yang kita ambil pun, sebenarnya kita sudah bersolitude. Doa yang penuh hikmat akan membawa kita kepada hubungan romantis dengan Tuhan. Juga hubungan yang membangun kesehatan emosi manusia.

Menyediakan waktu untuk menyendiri bukan lagi hal yang aneh. Saya percaya, tiap orang yang beranjak dewasa punya cara sendiri-sendiri untuk membangun diri. Memeriksa kepekaan diri dan kedalaman rohani.

Bagi saya, solitude sudah menjadi kebutuhan yang saya lakukan hari demi hari. Solitude membantu saya memahami banyak hal dalam diri saya. Solitude bisa membukakan saya terhadap dosa-dosa tersembunyi dalam pikiran saya. Dengan solitude, saya lebih mudah memaklumi sesuatu yang terjadi di luar kemauan saya. Jiwa yang lebih sehat dan hubungan vertikal yang berkualitas dengan Tuhan merupakan dua poin utama yang saya dapatkan ketika bersolitude.

Pada akhirnya, saya membagikan ini karena saya merasa terbantu. Karena saya melihat ada perubahan kecil dalam cara pikir saya, cara bertindak saya, cara bicara saya, cara saya dalam mengatasi masalah, hanya dengan menyediakan waktu sejenak lepas dari hal-hal duniawi.

Solitude bukan merupakan metode instan untuk mendapatkan itu semua. Namun solitude, bisa jadi adalah sebuah saung kecil untuk menepikan diri ketika dunia terlalu sering membebani kita dengan beban dan dosa-dosa. Metode solitude saya mungkin berbeda dengan Anda. Pengalaman dan kebaikan yang saya dapat mungkin lain dengan yang Anda dapatkan. Saya percaya, tiap manusia punya kerinduan besar untuk bersolitude jika memang mengakui dengan rendah hati tentang kebutuhan jiwanya.

Saya tidak bisa memberikan tips bagaimana cara bersolitude. Hanya carilah waktu menyendiri sampai Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri. Jangan biarkan pikiran tentang orang lain, deadline dan agenda Anda menyelusup ke awang pikir Anda. Bangunlah koneksi dengan Tuhan dan jiwa dan tutuplah sejenak duniawi Anda. Semoga mendapatkan jiwa dan pikiran yang lebih segar. Selamat bersolitude!

Exit mobile version