Pembicaraan hidup slow living di Jogja selalu menjadi topik yang menyenangkan bagi orang Surabaya, topik ini sering mampir di tongkrongan saya saat kami sedang merasa lelah karena tekanan pekerjaan dan hidup masing-masing.
Kalau tongkrongan saya sudah bicara soal slow living di Jogja, ujungnya, lagi-lagi kami mengatur rencana liburan ke Jogja. Entah sudah berapa kali kami liburan ke Jogja dan tak pernah bosan. Alasan utama karena selain estetik, Jogja ekonomis di kantong kami. Ini bukan pamer, tapi faktanya liburan ke Jogja adalah pilihan ekonomis bagi golongan middle class Surabaya gaji dua digit, yang cicilan KPR 15 tahunnya tersisa 2 atau 1 tahun, dan punya anak yang sekolah di sekolah negeri, alias gratis SPP. Yang sulit untuk sebagian dari kami hanya mengatur waktu cuti kerja demi liburan.
Jogja selalu istimewa untuk dijadikan tempat liburan, tapi tidak untuk dijadikan tempat tinggal. Ada beberapa alasan mengapa slow living di Jogja cukup dijadikan fantasi bagi kaum middle class seperti saya.
Bukan sekadar estetika
Jogja memang tampak estetik untuk slow living. Rumah dengan halaman yang luas, ritme pagi yang tenang tanpa klakson panjang, jarak yang relatif dekat, hawa Merapi yang sejuk dan duduk berjam-jam sambil membaca buku di sebuah coffee shop dengan pemandangan sawah.
Padahal, kalau ditarik ke belakang, akar slow living itu tidak ada hubungannya dengan estetika. Bermula dari aksi protes yang dilakukan Carlo Petrini di tahun 1986, seorang aktivis dari Italia yang menolak kehadiran McDonald’s di Roma, Italia. Aksi tersebut bukan sekadar menolak masuknya burger McD ke Italia, ini soal menolak budaya makanan cepat saji yang dapat menggerus tradisi lokal dan menghilangkan pengalaman menikmati makanan.
Berawal dari aksi, kemudian muncul gerakan Slow Food di tahun 1989, memasuki abad baru, Slow Food merambah ke segala aspek kehidupan, lalu muncul gagasan Slow Movement. Kemudian, sekarang, Slow Living menjadi gaya hidup idaman. Definisi Slow Movement maupun slow living pada dasarnya sama, yaitu mengajak manusia modern untuk memperlambat ritme sehari-hari, tujuannya agar manusia bisa memprioritaskan kualitas bukan kuantitas, agar manusia bisa lebih menikmati dan memaknai hidupnya.
Maka gagasan slow living itu bukan sekadar tidak terburu-buru, bukan berarti kerja santai tanpa tujuan, dan bukan berarti harus mengurangi kesibukan apalagi bermalas-malasan. Slow living itu soal mengendalikan ritme hidup sendiri, tahu mana yang penting, memberi waktu untuk menikmatinya, serta tidak merasa harus melakukannya dengan cepat.
Dan entah bagaimana slow living bisa jauh diartikan: Pindah ke Jogja karena di sana tenang dan estetik. Padahal kalau dipikir lagi, tenang-tenang menikmati secangkir kopi di coffee shop estetik juga bisa dilakukan di Surabaya.
Harga secangkir kopi di Jogja
Dari pengalaman ngopi di Jogja, saya jadi tahu kalau harga kopi di coffee shop yang estetik di Jogja tak jauh beda dengan harga di Surabaya. Ada yang Rp20-28 ribu seperti harga kopi di coffee shop langganan saya di Surabaya Pusat. Di daerah Palagan, saya menemukan coffee shop kecil, harga kopinya berkisar Rp30-40 ribu, seperti harga di coffee shop di daerah Citraland Surabaya.
Berapa pun harga kopi di Jogja sebenarnya terasa murah jika dinikmati middle class Surabaya yang sedang liburan. Sebab yang dibeli adalah suasananya bukan kopinya. Middle class Surabaya datang membawa gaji Surabaya, menginap dua malam di Jogja, pulang ke Surabaya. Kerja, kerja, dan kerja, lalu suatu hari kembali ke Jogja membeli suasana Jogja. Masalah akan muncul jika fantasi liburan menjadi fantasi hidup di Jogja.
Dari UMK-nya saja dua kota ini sudah jauh. UMK Jogja di tahun 2026 hanya Rp2,82 Juta, sementara Surabaya Rp5,28 Juta. Batas upah minimum di Surabaya nyaris dua kali lipat dibandingkan Jogja. Memang, pekerja middle class tidak bisa disamakan dengan pekerja dengan UMK. Tapi gaji manajer yang ditampilkan lewat lowongan di Jobstreet bisa menjadi gambaran. Beberapa perusahaan menawarkan gaji antara Rp5-10 juta untuk posisi manajer di Jogja. Sementara di Surabaya sudah menawarkan angka awal Rp10-15 juta.
Itu tadi hanya ilustrasi kasar saja. Tapi kenyataannya, di Surabaya seorang manajer bisa memiliki pendapatan di atas 20 juta.
Menikmati kopi estetik seharga 40 ribu rupiah di Jogja menggunakan gaji middle class Surabaya tentu terasa murah karena kopi itu bagian dari liburan. Sekarang, bayangkan saja dulu, kira-kira bisa tidak orang middle class Surabaya ngopi estetik di coffee shop Jogja setiap hari, tapi pendapatan ikut standar Jogja?
Kalau ada yang jawab bisa, kemungkinan besar yang menjawab itu middle class Surabaya yang punya warisan 7 turunan. Atau mungkin orang yang belagu, kalau kata orang Surabaya, “Omongane wong metesek”.
Harga slow living yang harus dibayar oleh gaji dua digit
Harga kopi di Jogja memang mirip-mirip dengan harga Surabaya, tapi harga tanah dan rumah terlihat masih menjanjikan. Dengan harga rumah yang sama dengan di Surabaya, di Jogja ada kemungkinan bisa mendapatkan rumah yang lebih luas beserta halamannya yang terbuka. Tapi, bisa membeli rumah di Jogja bukan berarti berhasil membeli slow living di Jogja.
Kalau benar-benar seorang middle class Surabaya ingin mewujudkan slow living di Jogja, yang utama harus memikirkan soal pendapatan. Ada dua pilihan soal sumber pendapatan. Mulai dari yang paling tidak masuk akal in this economy, yaitu mencari pekerjaan baru di pasar kerja Jogja. Gaji dua digit yang terasa biasa saja di Surabaya tapi belum tentu mudah ditemukan di Jogja.
Pilihan kedua lebih masuk akal, tapi tidak semua middle class Surabaya mendapatkan privilese ini. Yaitu bekerja remote tanpa meninggalkan pekerjaan di Surabaya. Pilihan kedua tadi tampaknya ideal, gaji dua digit masuk setiap bulan, tinggal di rumah dengan halaman yang luas, ditemani hawa pagi dingin dan suasana ngopi yang syahdu di sore hari.
Hidup di Jogja tidak sesederhana itu
Tapi, slow living di Jogja tidak sesederhana isi rekening setiap bulan dan suasana ngopi yang syahdu. Urusan slow living mungkin sederhana bagi yang single, tapi bagi yang sudah berkeluarga, urusannya bukan sekadar memikirkan pengeluaran buat ngopi, pengeluaran bulanan keluarga juga ikut pindah dari Surabaya ke Jogja.
Selain itu ada juga hal tidak kelihatan yang harus dikompromikan. Misalnya soal pekerjaan pasangan, memindahkan sekolah anak ke Jogja, dan adaptasi dengan kehidupan sosial yang baru.
Secangkir kopi mahal di Jogja mungkin mampu dibeli middle class Surabaya. Tapi memindahkan kehidupan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun ke Jogja ongkosnya terlalu mahal. Slow living di Jogja sebaiknya cukup dijadikan fantasi saja bagi kaum middle class Surabaya. Diwujudkan sih, pikir-pikir lagi.
Penulis: Rina Widowati
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jogja Adalah Tempat Terbaik Untuk Slow Living, asalkan Kamu Kaya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
