Informasi
ADVERTISEMENT

Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

Sebuah harga yang cukup mahal dengan tidak seimbangnya jumlah pemasukan dan pengeluaran. Mengingat, pengeluaran untuk kebutuhan hidup sehari-hari di Sidoarjo juga terbilang mahal. Sedangkan, jumlah pemasukan pekerja di sana paling mentok empat juta, sejauh pengetahuan saya ketika riset sederhana terkait pendapatan pekerja di daerah Sidoarjo.

Kualitas lingkungan yang buruk

Belum lagi secara lingkungan, Sidoarjo memiliki kualitas lingkungan yang buruk. Laporan dari Forum Wartawan Sidoarjo menyatakan kalau pencemaran udara dan air di kota ini perlu jadi perhatian penting. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kesehatan Sidoarjo melaporkan kalau tujuh puluh persen air di kota ini sudah tidak layak konsumsi.

Memang sebuah fakta jika Sidoarjo mempunya kualitas lingkungan buruk. Saya sendiri menyaksikan air kali di kota ini banyak yang tercemar. Sampah plastik bertumpukan, belum lagi limbah-limbah pabrik juga mencemari air kali.

Saya juga merasakan kualitas udara di Sidoarjo sudah tidak layak. Saat mengendarai sepeda motor di tengah jalan, kemudian saya menghirup udara, justru saya merasakan sesak. Sebab, udara yang saya rasakan berbau asap kendaraan, asap pabrik, dan debu-debu jalanan.

Buruknya kualitas lingkungan tentu saja dirasakan banyak pihak, salah satunya perantau. Kebetulan ada dua teman saya baru-baru ini merantau ke Sidoarjo. Langsung saja saya tanyakan, “Bagaimana rasanya kerja di Sidoarjo?” Mereka menjawab sambil ketawa kecut, “Tak kuat-kuatin buat betah. Lah, mau betah bagaimana kalau udaranya panas, air di kamar mandinya cokelat, belum lagi sering banjir saat hujan.”

Hal-hal yang dirasakan tersebut memperlihatkan bahwa kota ini tak ideal untuk perantau, bahkan untuk orang lokalnya. Biaya hidup tinggi, lingkungan yang rusak tentu bikin siapa pun tak nyaman. Rasanya keindahan-keindahan yang ada, tercoreng begitu saja atas hal-hal yang tak seharusnya.

Sidoarjo serupa dengan gemerlap bintang di langit malam. Gemerlap lampu gedung tinggi dan lapak-lapak yang menjalankan bisnisnya, di sudutnya ada gelap-gelap yang penuh getir. Kenikmatan dan pilu, beriringan, saling melukai.

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tidak Perlu Malu Mengakui Tinggal di Sidoarjo yang Sering Disebut Pinggiran Kota Surabaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2023 oleh .

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.

Exit mobile version