ADVERTISEMENT

Serang yang sering dilupakan: ibu kota provinsi rasa kota perlintasan yang selalu kalah saing dari Tangerang

Serang yang sering dilupakan: ibu kota provinsi rasa kota perlintasan yang selalu kalah saing dari Tangerang

Serang adalah kota yang sering terlewat dari perbincangan. Saat mendengar kata Banten, pikiran saya dan banyak orang biasanya langsung tertuju pada Tangerang dengan segala gemerlap mal dan kawasan modernnya.

Kenyataan administratif berkata lain. Serang lah ibu kota resminya. Ketimpangan popularitas ini sempat membuat saya bertanya-tanya saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawara.

ADVERTISEMENT

Kenapa tidak Tangerang saja yang dijadikan ibu kota? Pertanyaan itu wajar mengingat dominasi ekonomi Tangerang. Namun, pilihan ke Serang ternyata menyimpan pertimbangan sejarah dan letak geografis yang sangat matang.

Menghidupkan kembali sejarah Kesultanan Banten

Penetapan Serang sebagai ibu kota bukan keputusan tanpa alasan di masa lalu. Wilayah ini adalah pusat Kesultanan Banten yang pada abad ke-16 pernah menjadi salah satu pelabuhan internasional tersibuk di kawasan Asia Tenggara. Menjadikan Serang ibu kota adalah bentuk penghormatan kultural sekaligus upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap identitas kejayaan daerah ini.

Sebaliknya, Tangerang pada masa lampau hanyalah daerah agraris di pinggiran sungai sebelum bertransformasi menjadi kota satelit modern. Legitimasi historis dan jejak keulamaan di Serang tidak bisa digantikan oleh deretan gedung bertingkat. Faktor sejarah inilah yang membuat Serang tetap memegang bobot paling kuat untuk menyandang gelar pusat pemerintahan.

Posisi geografis yang menghubungkan berbagai wilayah

Dari segi letak wilayah, Serang berada di posisi strategis sebagai simpul penghubung di ujung barat pulau Jawa. Kota ini menghubungkan kawasan industri penyangga di bagian timur dengan pintu masuk Pelabuhan Merak di barat. Posisi sentral tersebut memudahkan akses birokrasi pemerintahan untuk menjangkau seluruh daerah di Provinsi Banten secara lebih berimbang.

Jika Tangerang yang dipilih sebagai ibu kota, pusat pemerintahan akan terlalu timpang ke arah timur dan kian menempel pada Jakarta. Hal itu berisiko membuat wilayah seperti Pandeglang dan Lebak makin tersisih dari pemerataan pembangunan. Serang berdiri sebagai titik tengah yang merangkul daerah pesisir sekaligus kawasan pegunungan di selatan.

Pekerjaan rumah besar untuk Pemkot Serang

Konsep Pemerintahan Provinsi Banten sebenarnya cukup ideal menurut saya, Serang sebagai ibu kota pemerintahan dan Tangerang menjelma sebagai pusat bisnis. Berbeda dengan provinsi lain di mana pusat pemerintahan dan bisnis terkadang terpusat pada satu kota.

Meski unggul di faktor sejarah dan posisi geografis, Serang punya pekerjaan rumah besar dalam hal promosi daerah. Pemerintah Kota Serang harus lebih gencar dan kreatif menjual potensi lokalnya, mulai dari wisata Banten Lama hingga kuliner sate bandeng, agar keberadaannya tak terus membayangi kemegahan Tangerang yang jauh lebih populer.

Selama ini Serang sering kali hanya dipandang sebelah mata sebagai kota perlintasan bagi pelancong menuju pantai Anyer atau Sumatra. Tugas besar pemkot adalah mengubah status kota ini dari sekadar tempat singgah sementara menjadi destinasi utama yang membanggakan, sehingga ibu kota ini tidak lagi dipandang sebelah mata.

ADVERTISEMENT

Jadi, di balik redupnya popularitas dibanding Tangerang, Serang tetaplah sebuah rumah tua yang menyimpan jiwa dan identitas sejati Banten yang tak boleh dilupakan.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nasib Malang Mahasiswa Rantau di Serang Banten: Bawa Motor dari Kampung Halaman karena Minim Transportasi Umum, Malah Dicuri Orang dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 5 November 2026 oleh .

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.