Kalau kalian mengira jastiper (makhluk yang membuka jasa titip) itu hidupnya cuma healing sambil belanja, terus pulang dengan cuan berlipat seperti habis panen raya, saya paham. Soalnya saya juga sempat berpikir begitu. Dalam bayangan saya, jastip itu semacam pekerjaan sampingan paling ideal untuk kaum yang kebetulan sedang bepergian: datang ke event, jalan-jalan santai, sekalian beliin titipan orang, lalu fee mengalir deras seperti THR yang turun lebih cepat.
Ternyata, anggapan itu sama menyesatkannya dengan kalimat “diskon sampai 80%” yang ternyata setelah dicek cuma berlaku untuk gantungan kunci.
Saya baru saja membuka jastip di beberapa event di Jakarta. Kebetulan saya memang sedang ada urusan di sana. Nah, sebagai warga Malang yang punya lumayan banyak kenalan, saya merasa ini momentum bagus untuk memonetisasi keberadaan saya di ibu kota. Toh mumpung badan sudah telanjur sampai Jakarta, masa iya pulang cuma bawa oleh-oleh capek?
Saya pikir, kenapa tidak sekalian buka jastip saja. Lumayan, bisa bantu orang belanja sekaligus bantu dompet sendiri bernapas sedikit lebih lega.
Awalnya, semua berjalan sangat menjanjikan. Orderan masuk seperti air bah. Chat menumpuk. Telepon berdatangan. Orang-orang panik takut kehabisan barang incarannya, sementara saya mulai merasa diri ini penting sekali. Rasanya seperti admin war tiket konser, cuma versi yang lebih domestik: bukan rebutan kursi festival, melainkan rebutan pouch lucu, tumbler diskon, atau barang limited edition yang kalau telat satu menit saja bisa lenyap dari peredaran.
Saya senang, tentu saja. Siapa juga yang nggak senang ketika HP bunyi terus karena banyak orang percaya pada kemampuan kita berburu barang? Waktu itu saya masih merasa, “Wah, ini mah hobi yang dibayar.”
Ternyata hal itu cuma sedang pemanasan.
Stok tidak selalu ada
Masalah pertama dalam dunia jastip adalah satu hal yang kelihatannya sepele, padahal bisa bikin urat leher menegang: barang titipan tidak selalu tersedia, tetapi ekspektasi pembeli hampir selalu tersedia. Dan seperti kita tahu, ekspektasi orang lain itu kadang lebih kuat daripada stok barang di gudang.
Kalau ada pelanggan yang cerewet karena pesanannya ternyata habis, ya kita harus rela mengembalikan DP. Itu kalau mereka sudah DP. Yang lebih menantang adalah jenis pembeli yang belum transfer sepeser pun, tapi sudah bilang, “Fix ya, Kak, aku ambil.” Kalimat “fix” ini ternyata sama rawannya dengan janji “aku OTW” dari teman yang baru bangun tidur. Karena merasa nggak enak dan takut barangnya keburu habis, saya kadang nekat talangin dulu pakai uang sendiri. Akhirnya modal dobel, ketar-ketir juga dobel.
Padahal fee jastip yang saya pasang cuma Rp10 ribu. Iya, sepuluh ribu. Nominal yang kalau dipikir-pikir sekarang terdengar seperti hasil negosiasi saya dengan sisi paling naif dalam diri sendiri.
Sepuluh ribu itu belum dipotong tiket masuk event, belum parkir, belum ongkos taksi atau ojek untuk mengangkut barang ke penginapan, belum tenaga yang terkuras gara-gara muter venue dan belum biaya tak terlihat lainnya.
Di hari pertama, semua itu masih terasa seru. Saya masih semangat wara-wiri dari tenant satu ke tenant lain. Masih sanggup motret katalog, update stok, balas chat, sambil sesekali merasa seperti personal shopper ibu-ibu sosialita, meskipun kenyataannya saya cuma manusia biasa yang keringatannya mulai tembus punggung.
Hari pertama itu masih fase bulan madu. Semua terasa exciting. Antrean masih dianggap tantangan. Keramaian masih dianggap atmosfer. Kaki pegal masih dianggap pengorbanan kecil demi cuan.
Tapi memasuki hari keempat, saya mulai paham kenapa banyak jastiper wajahnya tampak tabah seperti habis menjalani ujian hidup.
Eneg, banget
Rasanya eneg. Bukan cuma eneg karena lihat orang war sana-sini seperti sedang memperebutkan sembako menjelang Lebaran, tapi juga eneg karena saya sendiri ikut terjun ke medan itu. Bayangkan, kita harus berebut barang, lalu lanjut antre bayar dengan barisan yang panjangnya seperti antre minyak goreng zaman langka.
Saya sempat berpikir mungkin ada jalur khusus jastiper, semacam fast track untuk orang-orang yang nasibnya sudah terlalu berat. Ternyata kalaupun ada, antreannya tetap antrean. Paling bedanya cuma sama-sama capek, tapi sambil bawa titipan orang.
Ada memang sistem keep barang. Tapi kata “keep” ini jangan dibayangkan seperti barang aman dalam genggaman dan hidup akan tenang. Tetap saja kita harus war. Tetap harus sigap. Harus cepat-cepat mengamankan barang sebelum ada orang lain yang lebih gesit, lebih barbar, atau lebih rela berdiri sejam demi diskon buy 2 get 1.
Pembeli makin pintar
Di tengah kekacauan itu, pembeli juga sekarang makin pintar. Atau lebih tepatnya, makin teliti. Sebelum deal, mereka akan membandingkan harga jastip dengan marketplace. Ini wajar, saya tidak menyalahkan. Namanya juga orang mau belanja, pasti ingin harga terbaik. Masalahnya, logika jastip dan logika marketplace itu kadang tidak pernah jadian.
Secara teori, barang di event memang bisa lebih murah. Tapi setelah ditambah fee jastip, ongkir, dan biaya hidup jastiper yang tidak pernah dianggap sebagai biaya, selisihnya bisa tipis sekali. Kadang malah hasil akhirnya nyaris sama dengan harga online.
Lalu muncullah babak baru: pembeli ingin free ongkir. Supaya bisa free ongkir, barang harus dimasukkan dulu ke marketplace, lalu mereka checkout lewat sana. Kedengarannya simpel. Padahal buat jastiper, itu berarti ada potongan admin, ada tambahan biaya, ada drama listing, ada risiko harga naik.
Kalau semua itu tidak dimasukkan, jastiper boncos. Kalau dimasukkan, pembeli mulai bertanya dengan nada polos tapi menikam, “Lho kak, kok jadinya mahal ya?”
Nah itu dia. Karena rupanya di mata sebagian orang, jastiper ini semacam makhluk setengah dewa: bisa berburu barang, bisa antre, bisa nombok ongkir, bisa ngangkut barang, tapi tetap harus murah dan ramah.
Padahal jastiper juga manusia. Manusia yang punggungnya bisa pegal, yang tangannya cuma dua. Manusia yang kalau disuruh bawa sepuluh tote bag, tiga box, dan beberapa barang receh sambil naik transportasi umum, ya tetap berpotensi terlihat seperti korban evakuasi dari pusat perbelanjaan.
Bagian paling menyebalkan dari buka usaha jastip
Bagian paling menyebalkan dari jastip, setidaknya bagi saya, justru bukan saat war atau saat membalas chat. Yang paling menyebalkan adalah fase membawa pulang barang titipan. Soalnya selama ini orang cuma melihat sisi depan jastip: “nitip barang lalu dikirim.”
Mereka tidak melihat fase belakangnya: bagaimana seorang jastiper harus mengangkut setengah isi event menuju penginapan, lalu dari penginapan ke stasiun, lalu dari stasiun ke kota asal, sambil memastikan semua barang tetap utuh dan tidak tertukar.
Karena saya pulang naik kereta, perjuangannya terasa lebih dramatis. Saya harus menghitung mana barang yang bisa masuk tas, mana yang harus dijinjing, mana yang rawan penyok, mana yang tidak boleh ketindih. Rasanya seperti main Tetris, salah susun sedikit, tote bag jebol.
Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: kalau jastip dijadikan pekerjaan utama, emangnya bisa benar-benar balik modal? Atau mungkin saya saja yang belum menemukan ilmu hitam para suhu jastip ilmu yang memungkinkan seseorang tetap senyum meski sudah antre, nombok, salah hitung, dan hampir encok di hari yang sama.
Cobaan lain yang tidak kalah ajaib adalah soal timing titipan. Dalam dunia jastip, orang selalu punya bakat datang terlambat. Saat kita masih di venue, chat sepi. Begitu kita sudah sampai penginapan, rebahan, buka sepatu, dan mencoba berdamai dengan telapak kaki, barulah notifikasi masuk: “Kak, masih bisa jastip nggak?”
Lebih tragis lagi kalau chat itu datang saat kita sudah balik. Ada rasa sayang untuk menolak, karena itu berarti ada uang yang lewat begitu saja. Tapi ada juga kesadaran pahit bahwa kalau harus balik lagi ke venue, ongkosnya bisa lebih mahal daripada fee yang didapat.
Buka jastip di acara gratis pun tetep “bayar”
Saya juga sempat membuka jastip di acara yang tidak pakai tiket masuk. Saya kira ini akan sedikit menyelamatkan keuangan. Ternyata saya terlalu optimistis, mungkin juga terlalu mudah berharap pada kata “gratis”. Memang tidak bayar tiket, tapi saya harus antre hampir satu jam hanya untuk masuk. Satu jam.
Itu belum termasuk antre melihat barang, antre bayar, antre membalas chat yang makin panik, dan antre menenangkan diri sendiri agar tidak mengirim voice note berisi keluhan ke siapa pun yang masih mau mendengar.
Dari situ saya paham satu hal: dalam dunia jastip, yang gratis biasanya tetap harus dibayar. Bedanya cuma alat tukarnya. Kalau bukan uang, ya waktu. Kalau bukan waktu, ya tenaga. Atau kalau bukan tenaga, ya kewarasan.
Makanya saya merasa jastip itu sebenarnya cocok untuk orang yang memang butuh bantuan belanja. Orang yang tidak punya waktu datang ke event, tidak bisa pergi ke luar kota, atau memang sedang mencari barang tertentu dan rela membayar jasa orang lain untuk mencarikannya.
Jastip itu masuk akal kalau dipahami sebagai jasa. Ada tenaga, ada waktu, ada ongkos, ada risiko, ada capek, dan semuanya wajar kalau dihargai.
Jastip bukan mesin diskon keliling
Yang bikin repot adalah ketika jastip diperlakukan seperti mesin diskon keliling. Pembeli ingin harga semurah marketplace, ingin free ongkir, ingin respons cepat, ingin stok aman, ingin barang mulus, ingin semuanya praktis tapi lupa bahwa di balik semua itu ada satu manusia yang sedang mondar-mandir di venue sambil berkeringat, menghitung modal, dan mencoba tidak tumbang di antara antrean.
Jadi, kalau lain kali kalian melihat fee jastip terasa “kok mahal ya”, mungkin coba ingat dulu bahwa yang sedang kalian bayar itu bukan cuma ongkos “nitip beli barang”. Yang dibayar adalah tiket masuk event, ongkos jalan, tenaga rebutan barang, waktu antre, risiko nombok, drama listing marketplace, punggung yang nyaris patah karena kebanyakan tentengan, dan kesehatan mental yang digerus pelan-pelan oleh chat, “Kak, ini masih ada nggak?”
Setelah menjalaninya sendiri, saya jadi paham bahwa jastiper itu bukan profesi sampingan yang isinya cuma jalan-jalan lucu sambil jajan. Di balik foto haul yang tampak menyenangkan, ada orang yang muter venue seperti lagi ikut ibadah thawaf versi kapitalisme. Ada orang yang rela menahan pegal demi memastikan titipan orang lain aman. Ada orang yang harus berhitung ekstra hati-hati supaya tidak boncos, tapi tetap terlihat ramah di chat.
Maka kalau ada yang bilang jastiper enak karena “tinggal belanja sambil ambil untung”, saya cuma bisa tersenyum. Senyum yang tipis, lelah, dan sedikit getir. Sebab sekarang saya tahu: dalam dunia jastip, yang paling berat bukan membawa barang pulang.
Yang paling berat adalah membawa ekspektasi orang lain, sambil pura-pura tidak capek.
Penulis: Vranola Ekanis Putri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
