Sejarah Film Porno, Film yang Jadi Pemersatu Kita Semua

Sejarah Film Porno, Film yang Jadi Pemersatu Kita Semua

Sejarah Film Porno, Film yang Jadi Pemersatu Kita Semua

Louis Eugène Pirou pria kelahiran 1841 di Prancis ini adalah orang pertama yang membuat film erotis di dunia pada tahun 1896. Film erotis yang dia buat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal industri film porno yang ada sampai sekarang.

Film yang menampilkan seseorang dengan kondisi telanjang ini pertama kali dibuat oleh Pirou dan karyawannya Kirchner yang dibintangi oleh Louis Willy dengan judul: Le Coucher de la Mariee (Bedtime for the Bride) tahun 1896. Film yang diproduksi Pirou dan disutradarai Kirchner ini sampai sekarang masih ada di arsi film prancis dan masih bisa ditonton juga, lho.

Walaupun hanya menampilkan Louis Willy menari telanjang, film berdurasi 7 menit dan tanpa ada suara ini mengundang perhatian khalayak ramai saat itu. Btw meskipun filmnya berdurasi 7 menit, tapi karena kondisi roll film yang sudah berumur ratusan tahun, fim ini sekarang cuma bisa diputar dua menit saja, alias berhenti saat Louis membuka baju, tidak sampai pada menari telanjang.

Akibat dari keberhasilan Pirou dengan filmnya, akhirnya banyak genre film Perancis lain terinspirasi untuk memasukkan unsur erotis ke dalam film.
Mereka mulai menyadari bahwa keuntungan yang mereka dapatkan bisa didapat lebih besar dengan memasukan adegan erotis seperti itu.

Sementara itu Louise Willy menjadi semakin terkenal sebagai seorang artis di Perancis semenjak dirinya menjadi manusia pertama yang tercatat bertelanjang di depan kamera, bahkan mungkin bisa dikatakan dia juga menjadi artis film porno pertama di dunia.

Produksi film porno dimulai dengan cara besar-besaran pada tahun 1930 dengan Amerika dan Perancis menjadi negara utama pembuat film-film erotis ini. Biasanya, adegan yang ditunjukan adalah adegan semi seksual seperti film Laughing Sinners (1931), The Devil is Driving (1932) & Merrily We Go To Hell (1932)

Seiring makin lazimnya unsur pornografi di dalam film, maka tahun 1969, Denmark jadi negara pertama yang menghapuskan penyensoran film di negaranya—yang akhirnya memicu komersialisasi industri pornografi di Denmark. Di tiap sudut kota, film porno menjadi sangat mudah didapatkan di toko.

 

Melihat pergerakan Denmark, di Amerika, para penggiat industri film porno semakin berani dengan munculnya film Mona the Virgin Nymph, sebuah film 59 menit yang dibuat pada tahun 1970 dengan suguhan adegan sex hampir 50% dari alur film.

Tahun 1971, The Boys in the Sand dianggap sebagai film pertama yang menggambarkan adegan porno homoseksual. Film ini juga merupakan film porno pertama yang mencantumkan nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun umumnya menggunakan nama samaran).

Semakin berkembangnya industri film porno di Amerika, membuat bintang porno memiliki tradisi menggunakan nama panggung. Penggunaan nama panggung ini diawali Linda Lovelace yang terkenal karena film berjudul Deep Throat di tahun 1972, film ini sukses besar dan menghasilkan ratusan juta dolar di seluruh dunia.

Kesuksesan Linda diikuti oleh aktris-aktris seperti Marilyn Chambers (Behind the Green Door), Gloria Leonard (The Opening of Misty Beethoven)
Georgina Spelvin (The Devil in Miss Jones) dan Bambi Woods (Debbie Does Dallas).

Pada tahun 1980 sampai tahun 1990an adalah “The Golden Age of Porn”, ketika banyak aktor dan aktris porno seperti John Holmes, Ginger Lynn Allen, Traci Lords, Veronica Hart, Nina Hartley, Seka dan Amber Lynn mulai terkenal.

Kemunculan DVD pada 1990an juga memunculkan nama-nama baru seperti Jenna Jameson, Juni Ashton, Ashlyn Gere, Asia Carrera, Tera Patrick, Briana Banks, Stacy Valentine dan Jill Kelly di dalam jagad industri film porno saat itu. Atau malah sempat juga menghiasi masa kecil kalian ?

Tragedi dalam industri pornografi mulai terjadi setelah industri pornografi Amerika mulai dilanda meningkatnya penyebaran virus HIV pada aktris dan aktornya yang berujung pada sejumlah kematian termasuk John Holmes, Wade Nichols, Marc Stevens, Al Parker dan Lisa De Leeuw.

Kejadian ini berakibat pada dibentuknya Adult Industry Medical Health Care Foundation, yang membantu menciptakan sistem dalam indusri film porno Amerika yang menguji para pemain film porno apakah mereka terinfeksi HIV, Klamidia, atau Gonorrhea setiap bulan. Para aktor dan aktris juga diwajibkan memeriksa Hepatitis, Sifilis & HSV tiap tahun.

Sejak dibuatnya protokol pengujian AIM, tingkat penyakit menular seksual pada pemain film porno mengalami penurunan. Regulasi ini masih berjalan yang akhirnya membuat makin banyak industri pornografi

Oh ya, untuk istilah Blue Film dalam penyebutan film porno sendiri, asal usulnya ada banyak versi. Ada yang mengatakan bahwa penyebutan blue film itu dikarenakan gulungan film hitam dan putih yang biasanya digunakan film Hollywood berubah warna menjadi warna biru jika disimpan terlalu lama. Gulungan ini biasanya dibuang, dan di sinilah pembuat film porno bisa membeli gulungan itu dengan harga murah.

Versi lain ada yang mengatakan bahwa pemilik toko zaman dulu menjual kaset VCD porno dengan bungkus berwarna biru. Lalu ada juga yang menyebut bahwa istilah blue film ini muncul dari Perancis karena saat itu PSK yang bekerja dalam industri film porno membuat perjanjian yang ditulis di atas kertas berwarna biru.

Btw, katanya kalau sering-sering nonton film porno nggak bagus buat kesehatan otak dan bisa menyebabkan pergeseran perilaku. Tapi ada juga sih yang bilang kalau sebenernya yang bilang film porno bahaya itu bohong dan hasil dari mengarang bebas. Terserah kalian sih mau percaya sama yang mana.

Sumber tulisan ini nggak ada sumber buku seperti biasanya ya, hanya artikel dan berita yang bisa kalian baca di sini:

The history of sex on screen – Le Coucher de la Mariée to the present day

Denmark legalized pornography 50 years ago. Did the decision turn out as expected?

22 Film Porn Actor got HIV since 2004

The Deuce and the Real History of Why the Porn Industry Flourished in the ’70s

BACA JUGA Jika Cintamu Hasil Doktrin Blue Film, Aku Bisa Apa? atau tulisan Mazzini Giusepe lainnya. Follow Twitter Mazzini Giusepe.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version