Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (unsplash.com)

Saya sekarang sedang terjebak (eh, maksud saya, sedang menimba ilmu) di salah satu kampus Islam yang adem ayem di kota tahu, Kediri, Jawa Timur. Jurusan yang saya ambil? Tentu saja Pendidikan Agama Islam, biasa disingkat PAI. Saat ini masih semester satu, masih wangi-wanginya idealisme maba, tapi masalahnya sudah muncul. Begitu melangkahkan kaki di kampus, semua orang, dari dosen sampai petugas keamanan parkir, sudah memberi cap bahwa saya ini calon guru.

Padahal, baru juga nyentuh mata kuliah pertama, panggilan jiwa untuk jadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu sudah hilang entah ke mana. Ironis memang.

Lantas, kenapa saya memilih jurusan PAI kalau memang nggak punya passion buat ngajar? Ada dua alasan klise yang mendasarinya. Pertama, PAI itu ‘generalis’ banget. Dibanding jurusan lain di kampus ini yang lebih spesifik, seperti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir atau Pendidikan Bahasa Arab, PAI terasa seperti buffet ilmu, maksudnya semua aspek agama ada. Saya bisa belajar Fikih, Tafsir, Hadis, bahkan sampai Metodologi.

Kedua, ini yang paling nggak bisa ditolak: restu orang tua. Mereka bilang, “Ambil PAI saja, insyaallah gampang cari kerja dan ilmunya berkah.” Jadi, begitulah. Keputusan ini 50% adalah pilihan logis seorang generalis, 50% lagi adalah ketaatan kepada restu yang selalu dianggap kunci sukses.

Alasan generalis-spesialis tadi bukan sekadar ngeles akademis belaka. Saya memang punya DNA generalis. Saya nggak betah kalau harus fokus mendalami satu ayat atau satu hadis sampai berhari-hari kayak akademisi sejati. Sebetulnya, saya ini tipe yang suka tahu banyak hal sedikit-sedikit, daripada tahu satu hal luar biasa dalamnya.

Kalau saya dipaksa jadi guru PAI—yang seringnya hanya diberi jatah mengajar Fikih atau Aqidah secara spesifik—saya akan merasa terkekang. Ilmu agama yang seharusnya luas justru terasa membatasi eksplorasi saya. Saya lebih cocok jadi general manager ilmu, bukan field specialist yang harus berhadapan dengan papan tulis setiap pagi.

Kenapa saya menolak jadi guru PAI?

Intinya, penolakan saya menjadi guru PAI adalah rasionalisasi yang holistik, bukan sekadar malas ngajar. Pertama, gaji guru PAI itu nggak sebanding sama tuntutan multiskill mereka: harus jadi dai, konselor, babysitter, dan admin. Kedua, sistem Kemenag yang memecah PAI jadi mapel-mapel terpisah itu bikin ribet. Di kuliah belajar semua, di sekolah malah cuma ngajar satu.

Ketiga, urusan Akhlak dan Adab itu sejatinya ranah orang tua di rumah, guru agama cuma nambahi sedikit teori. Dan terakhir, PAI di sekolah sering cuma formalitas belaka, nggak didukung ekosistem masyarakat untuk implementasinya. Mending menyebarkan ilmu dari platform yang lebih suportif.

Alasan pertama ini paling realistis dan menyakitkan, yaitu masalah gaji dan tuntutan multiskill. Coba bayangkan, guru PAI hari ini dituntut jadi da’i profesional, konselor remaja, admin serba bisa, sekaligus penjaga gerbang akhlak (supaya murid nggak mabok TikTok). Tapi, imbalannya? Seringkali stagnan, apalagi di sekolah swasta atau honorer.

Secara teori, ini bisa disebut kasus kesenjangan ekspektasi dalam psikologi kerja, di mana usaha (multiskill) tidak sebanding dengan hasil (gaji dan pengakuan). Orang rela jadi superhero kalau ada reward yang sepadan. Tapi kalau reward-nya cuma “pahala” dan gaji bulanan yang tipis, mending superhero-nya dipakai buat ngurusin startup syariah yang gajinya lebih logis.

Keribetan internal

Selanjutnya adalah keribetan internal yang cuma anak jurusan PAI yang paham. Di kampus ini, saya belajar PAI itu general; Fikih, Hadis, Tafsir, Tarikh, semuanya digabung dalam satu paket ilmu yang utuh. Begitu lulus, sistem Kemenag malah memecah PAI menjadi mapel-mapel kecil (Al-Qur’an Hadis sendiri, Fikih sendiri, SKI sendiri). Saya yang generalis ini dipaksa jadi spesialis dadakan untuk satu mata pelajaran saja.

Padahal, pemrosesan kurikulum yang ideal harusnya punya sinkronisasi vertikal, dalam artian kurikulum kampus harusnya selaras dengan kebutuhan lapangan. Tapi yang terjadi? Birokrasi kurikulum kita kayaknya lebih fokus mecahin mata pelajaran daripada nyambungin ilmunya. Ibaratnya, kami dilatih jadi chef masakan Padang, tapi di restoran malah cuma disuruh motong bawang doang.

Alasan ketiga adalah soal pembagian tugas yang tidak adil. Ekspektasi masyarakat kita itu gila; kalau anak nakal, yang disalahkan pasti guru PAI di sekolah. Padahal, ilmu agama dan akhlak itu fondasinya harus dibangun sejak di rumah, oleh orang tua. Guru PAI di sekolah formal itu hanya perlu ‘menambahi’ lapisan teoritis, bukan membangun fondasi adab dari nol. Adab dasar seperti menghormati orang tua, nggak nyolong sendal di masjid itu harusnya sudah clear di level keluarga.

Kalau guru PAI harus mulai dari nol lagi, artinya kami nggak cuma jadi guru, tapi juga substitusi orang tua yang absen. Ini namanya pengalihan tanggung jawab etika sosial yang sangat curang.

Kekecewaan sebagai mahasiswa jurusan PAI

Yang keempat adalah inti kekecewaan saya sebagai mahasiswa jurusan PAI. Pelajaran PAI di sekolah-sekolah kita seringkali hanya dianggap formalitas belaka, sekadar checklist untuk memenuhi syarat kurikulum negara. Nilai PAI harus bagus, tapi implementasinya di kantin, di toilet, atau di parkiran, nihil. Ekosistem sekolah dan masyarakat belum sepenuhnya mendukung output pelajaran agama itu. Kami capek-capek belajar dalil, menghafal metodologi dakwah, tapi di kelas hanya dianggap ‘istirahat’ sebelum pelajaran lain yang lebih krusial. Rasa nggak berguna ini yang menusuk. Sebagai calon sarjana, buat apa saya capek-capek mengajar kalau pada akhirnya ilmu yang saya sampaikan cuma jadi angka di rapor, dan bukan ruh dalam kehidupan murid.

Jadi, begitulah ribetnya. Guru PAI itu pahlawan, tapi saya takut pahlawan tanpa tanda jasa ini pada akhirnya cuma jadi side character bergaji UMR di timeline kehidupan yang serba digital.

Menolak takdir guru PAI bukan berarti menolak ilmu. Ini adalah jihad melawan ekspektasi yang tidak realistis. Saya memilih menggunakan ilmu jurusan PAI saya sebagai general manager etika di luar ruang kelas, tempat reward dan impact lebih masuk akal. Saya bangga menjadi Sarjana PAI yang ‘takut’ mengajar, karena ini adalah bentuk ketaatan pada passion dan profesionalitas. Biarlah guru PAI yang lain jadi pahlawan tanpa tanda jasa, tapi saya akan lebih memilih menjadi sidekick bergaji logis.

Penulis: Achmad ‘Adzimil Burhan Al-Hanif
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Pertanyaan yang Membuat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Muak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version