Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu (desatepus.gunungkidulkab.go.id)

Di desa, ada satu indikator paling sederhana untuk menilai apakah seseorang itu “wong apik” atau tidak: mau rewang atau tidak. Kalau datang rewang, kamu dianggap peduli dan srawung. Kalau tidak, sudahlah, tamat riwayatmu.

Kesannya memang berlebihan, tapi memang hidup di desa itu tidak seindah konten slow living orang kota. Biaya sosial di desa memang amat tinggi, dan kadang bayarannya, tenaga dan kehadiran. Jika tidak mau atau tidak bisa membayarnya, maka akan dicap buruk, seperti antisosial.

Masalahnya, tidak semua orang yang tidak datang rewang itu antisosial. Bahkan bisa jadi, orang yang menolak datang adalah orang tersupel yang pernah ada. Hanya saja, mereka memilih tak muncul karena trauma.

Masalahnya, tidak semua orang yang enggan rewang itu antisosial. Sebagian dari kami hanya trauma.

Rewang, secara konsep, sebenarnya mulia. Budaya saling bantu saat ada hajatan. Di teori kebudayaan, ini disebut solidaritas sosial. Di praktik lapangan, sering berubah jadi ajang penilaian massal. Begitu kamu turun ke lapangan, kamu bisa diapresiasi atau dicaci tergantung performa.

Contoh, salah potong bawang, langsung kena. Masak kurang asin, jadi bahan bisik-bisik. Gerak terlalu pelan, dicap “ora cekatan”. Terlalu inisiatif, dibilang sok pinter. Maju kena, mundur kena.

Dan celakanya, semua komentar itu jarang disampaikan langsung. Mereka disimpan, dibahas pelan-pelan, lalu disebarkan lewat jalur paling efektif di desa: obrolan ibu-ibu sore hari.

BACA JUGA: Mengenal Personel Rewang Berdasarkan Tugas dan “Kastanya”

Niat rewang tulus, pulang penuh penyesalan

Saya pernah datang rewang dengan niat tulus, benar-benar ingin membantu. Tapi sejak menit pertama, sudah sadar satu hal: di dapur rewang, niat baik saja tidak cukup. Harus punya skill. Harus tahan mental. Dan harus siap dibandingkan dengan orang lain yang “dari dulu emang pinter urusan dapur”.

Begitu salah sedikit, cap-nya nempel lama.

“Kemarin itu lho, yang motong-motong tapi nggak rapi.” “Oh iya, yang itu ya? Emang anaknya nggak biasa bantu.”

Sejak saat itu, rewang bukan lagi aktivitas sosial. Orang-orang seakan mengujimu, jika gagal, mereka akan menghakimimu dengan kejam. Dan yang menyedihkan lagi, orang-orang ini kerap menghukum generasi muda. Entah dibilang nanti jadi istri gimana, ngurus rumah gimana, mertua bakal ngomong ini itu lah.

Padahal tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang menuntut bisa masak sejak kecil. Ada yang dibesarkan untuk sekolah. Ada yang lebih sering pegang buku daripada ulekan. Tapi desa jarang mau tahu konteks. Yang dilihat cuma hasil.

Maka jangan heran kalau akhirnya banyak orang memilih tidak datang rewang. Mereka tidak datang bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak kuat secara mental. Datang niat bantu, pulang bawa rasa malu.

Lucunya, ketidakhadiran itu justru memperkuat stigma baru. “Anaknya kok nggak pernah kelihatan rewang?” “Sekarang anak muda emang pada individualis.”

Individualis your head.

BACA JUGA: 10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul

Tidak ramah pada pemuda

Padahal kalau mau jujur, ini bukan soal individualisme. Ini soal ruang sosial yang tidak ramah pada kesalahan, dan pada umumnya, pada anak muda. Rewang seharusnya jadi tempat mereka belajar dan mengenal budaya. Kalau salah dikit kalian hukum, terus gimana mau mereka berbaur dan paham?

Saya tidak antisosial dan anti-rewang. Tapi saya ingin membantu dan tidak berakhir malu. Ketimbang capek tapi malu, mending nggak usah ikut sekalian. Kalian para generasi tua, baiknya belajar mengapresiasi dan menunjukkan yang benar seperti apa. Sebab saya yakin, di waktu muda, kalian sama payahnya dengan saya. Hayo, ngaku!

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version