Menjadi pustakawan sekolah adalah pekerjaan yang tidak pernah ada dalam list cita-citaku. Saya memang lulusan jurusan Ilmu Perpustakaan, tapi saya tidak mau kalau harus menjadi pustakawan sekolah. Tapi apalah daya, dari sekian banyaknya instansi yang saya kirim CV, hanya lembaga pendidikan ini yang mau menerima saya.
Ya sudahlah, mungkin ini cara Tuhan memberi kesempatan untuk saya belajar, berkembang, dan menambah pengalaman untuk mencapai mimpi-mimpi besar dikemudian hari.
Dikurung sendirian di dalam ruangan penuh rak
Jujur saya ini memang introvert. Suka menyendiri untuk sebuah ketenangan. Tapi saya tidak suka dengan kesepian. Apalagi kesepian yang seakan dikucilkan dan nggak pernah dianggap ada. Bayangkan saja, di sekolah tempat saya kerja, ruang guru dan kepala sekolah jadi satu di lantai 1. Sedangkan ruang perpusnya ada di lantai 2. Saya sebagai pustakawan otomatis terasingkan sendiri di lantai atas.
Setiap harinya di ruangan yang penuh rak dan buku-buku lama itu saya sendiri. Tanpa ditemani senda gurau rekan kerja. Kepala perpus pun ke perpus paling cuma sejam dua jam habis itu hilang entah kemana. Itu pun juga nggak setiap hari ke perpus. Kalo waktu istirahat mau mencoba turun buat kenalan juga boro-boro. Karena jam istirahat mereka adalah jam sibuknya saya untuk melayani para siswa.
Memang saya ini anak baru di lembaga ini. Dan hanya sebatas tenaga pendidik yang tidak punya keahlian mengajar seperti mereka. Tapi saya butuh dirangkul, bukan terus diasingkan seperti ini. Jujur saya bingung harus mulai dari mana biar bisa akrab sama bapak ibu guru yang ada di sini.
Intinya harus membuat siswa mau baca buku
Hampir sebagian besar bapak/ibu guru memandang tugas pustakawan sekolah itu meningkatkan minat baca siswa. Iya, memang nggak salah. Tapi tata kelola ruang dan administrasi perpus kalo nggak dikelola dengan baik juga memperburuk citra perpus.
Jadi kalau mau minat baca siswa meningkat minimal anggaran buat beli buku baru paling enggak sebulan sekali harus ada. Bosan juga kan siswa lama-lama kalo bukunya cuma itu-itu aja. Selain itu, dana buat kegiatan literasi seperti, reward bagi pemustaka teraktif, lomba review buku, games literasi, dan perintilan lainnya buat menunjang minat siswa berkunjung ke perpus juga harus disediakan.
Kalau dana aman, insya allah perpus tiap hari kayak pasar.
BACA JUGA: Perpustakaan Tidak Akan Sekarat Hanya karena Google Mampu Menjawab Segalanya
Punya kepala perpus tapi nggak ngerti sama perpustakaan
Saya rasa problem sebagian besar staf perpustakaan sekolah selanjutnya adalah konflik dengan kepala perpustakaannya sendiri. Bagaimana tidak? Terpantau hampir sebagian besar anggota grup WhatsApp pustakawan dari seluruh Indonesia saja pernah mengeluhkan hal ini. Termasuk saya sendiri. Punya kepala perpustakaan tapi malah nggak ngerti sama sekali dengan dunia perpustakaan. Ini tuh rasanya kayak punya hape tapi nggak ada kuotanya gitu loh, hambar banget, kek nggak ada guna.
Parahnya sih biasanya yang ditunjuk jadi kepala perpus sekolah adalah guru-guru yang kekurangan jam mengajar dan mereka-mereka yang paruh baya. Yang mereka tau pokoknya siswa datang isi buku kunjungan, catat buku yang dipinjam dan dikembalikan, udah selesai. Jadi mereka kayak benar-benar nggak mau belajar gimana caranya biar perpustakaan jadi tempat yang nyaman dan menarik buat anak. Gimana mau buat kegiatan yang menarik. Lha wong rak buku aja berantakan nggak karuan juga dibiarin aja. Novel, cerita rakyat, cerita islam, ensiklopedia, sampai buku mapel jadi satu dalam satu rak aja juga nggak peduli.
Plis deh, jurusan Ilmu Perpustakaan tuh punya sistem penomoran buat masing-masing buku. Sederhanya kayak alamat buku lah. Sistem ini ada biar pemustaka dan pustakawannya sendiri nggak kesulitan buat temu kembali koleksi. Jadi kalau ada siswa yang nanya buku A di mana, si pustakawan tau letaknya. Dan sialnya mereka nggak ngerti tentang apa itu klasifikasi, subjek buku, labelling, dan buku induk. Padahal semua ini penting biar buku nggak gampang hilang. Kan tekor juga kalo dikit-dikit bukunya habis. Yang ada malah kena tegor sama kepala sekolah.
Pustakawan sering dihina
Part yang paling membuat saya membenci profesi saya sendiri sebagai pustakawan sekolah adalah profesi ini dihinakan sama si kepala perpusnya sendiri. Waktu saya masih awal-awal masuk, saya fokus di administrasinya. Seperti mencari data buku, data siswa, digitalisasi sistem perpustakaan, intinya kayak masih fokus aja didepan komputer. Soalnya sama stafnya yang lama (yang resign) datanya nggak disimpan. Alhasil saya mulai semuanya dai nol.
api si kepala perpusnya malah seenak kata bilang. “Jadi pustakawan tuh kerjanya cuma gini-gini aja. Nanti kalo ada siswa yang datang suruh absen di buku itu. Kalo yang pinjam atau mengembalikan suruh nulis aja di sini. Agak sibuk paling pas jam istirahat. Habis itu ya udah nganggur.”
Plis ini cara ngasih tau ke ibunya gimana kalo perpustakaan itu nggak sesederhana yang Ibu jalani selama ini. Jauh di dalam lubuk hati saya, sebenarnya saya juga ingin mengubah mindset orang-orang yang masih memandang rendah dunia perpustakaan. Yah semoga kinerja, program kerja dan apa pun itu yang saya lakukan untuk perpustakaan ini sedikit banyaknya bisa membuka mata mereka kalau perpustakaan nggak seremeh itu.
BACA JUGA: Pinjam Buku di Perpustakaan Itu Menyenangkan, yang Menyebalkan Cari Bukunya
Saya tidak mau jadi pustawakan sekolah, tapi, bagaimana lagi?
Jujur saya sebenarnya juga tidak mau berada dalam posisi ini semakin lama lagi. Tapi ini adalah impian kedua orang tua saya. Yang ada di kepala mereka, menjadi guru atau tenaga pendidik adalah pekerjaan terbaik untuk anak perempuannya. Ditambah lagi loker buat lulusan jurusan Ilmu Perpustakaan itu sangat minim. Jadi waktu ada kesempatan emas ini saya sudah tidak bisa lagi berpikir dua, tiga kali.
Entah akan bertahan sampai berapa lama, tapi saya harap semoga bisa secepatnya dapat pengganti yang jauh lebih baik dan nyaman.
Tapi berkat pekerjaan ini juga telah membawa saya menjadi pribadi yang jauh lebih bersyukur, sabar, kuat, dan lebih sadar diri lagi. Semoga saya diberi kelapangan hati untuk menjalani kehidupan dewasa yang sangat berat ini.
Penulis: Salsa Bela
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
