Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu (Pixabay.com)

Sebagai anak pedagang Tupperware yang stok dagangannya masih bejibun tapi pembelinya sudah habis, pemandangan merek ini tentu bukan perihal aneh di rumah. Apa-apa Tupperware. Ketika masa kejayaannya memudar, stok di lemari ruang tamu pun pelan-pelan berubah fungsi menjadi barang pakai sehari-hari.

Itulah mengapa saya selalu membawa botol Tupperware di ransel dari SD sampai kuliah. Sebenarnya di rumah ada banyak jenis dan warna. Namun, yang paling sering saya pakai ialah kiddie tumbler, botol edisi anak yang entah sejak kapan bantu mencukupi kebutuhan cairan.

Coraknya sudah mengelupas. Tutupnya pun bukan pasangan asli sehingga terlihat betul nggak serasi. Pokoknya jauh dari kata estetik kalau difoto. Namun, botol itulah yang paling nyaman untuk dibawa ke mana-mana.

Tumbler tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari botol Tupperware jadul

Semuanya berubah ketika saya ngekos di Jakarta Selatan sekitar dua tahun lalu. Sebagai orang yang belum pernah merantau, apalagi di ibu kota, saya kerap mengambil keputusan gegabah dan jadi overkonsumsi. Soalnya, apa pun terasa mudah didapat lantaran akses dekat dan cepat.

Entah berapa pula barang yang saya checkout hanya karena merasa bakal butuh meski sesaat. Ujung-ujungnya malah saya tinggalkan di kos lantaran bawaan pulang sudah terlalu banyak. Yang bersisa hanya penyesalan dan rekening minus.

Waktu itu, saya sempat agak minder dengan botol Tupperware yang saya miliki. Warnanya ngejreng dan modelnya kekanakan. Sementara orang-orang di sekitar saya menenteng-nenteng tumbler stainless steel yang tampak lebih keren, elegan, atau lucu sekalian.

Bukannya saya berniat pensiun sebagai pengguna botol Tupperware. Namun, karena merasa tumbler plastik saya nggak tahan panas, nggak tahan dingin, kapasitasnya sedikit, dan pastinya juga nggak estetik, akhirnya saya tergoda membeli tumbler stainless steel di Shopee.

Tumbler stainless steel nyatanya nggak sesuai ekspektasi

Saya tahu ada banyak merek tumbler stainless steel yang “beneran mahal”. Namun, buat saya, mengeluarkan Rp100 ribuan untuk sebuah botol minum saja sudah muahal banget. Buktinya saya masih menyesal sampai sekarang dan masih setia pakai botol Tupperware.

Entah apa yang merasuki pikiran saya sehingga magrib-magrib impulsif checkout tumbler berkapasitas 1,2 liter di Shopee Live. Saya kira bakal sepadan dengan kualitasnya berhubung punya rating 4,9. Tahunya awikwok.

Yah, memang salah sendiri nggak benar-benar baca ulasan. Padahal, sebagai orang yang lebih sering kebagian apes ketimbang hoki, pengalaman pembeli dengan bintang satu biasanya lebih relevan dengan nasib diri ini. Dan yap, tumbler yang saya beli jauh dari ekspektasi. Memang, kalau bicara soal kapasitas, nyaris tiga kali lipat lebih banyak daripada botol kesayangan saya. Es batu juga bertahan (agak) lama. Namun, selain itu?

Tumbler mahal yang saya tangisi sampai sekarang masih meninggalkan bau besi meski iklan memberi klaim sebaliknya. Jaminan tahan dingin hingga belasan jam pun, setidaknya berdasarkan pengalaman saya, tidak terbukti. Belum lagi persoalan antitumpah dan antibocor. Realitasnya, tumbler stainless steel yang mahal itu gampang sekali tumpah meskipun tidak diletakkan dalam tas atau dalam posisi tidur. Duh, kapok, mendingan Tupperware ke mana-mana.

Ternyata saya nggak butuh tumbler mahal 

Setelah beberapa minggu pemakaian, saya akhirnya mengakui bahwa fitur yang ditawarkan oleh tumbler mahal kekinian nggak penting-penting amat (bagi saya).

Setiap bikin atau beli minuman dingin, saya nyaris selalu langsung menghabiskannya. Jadi, buat apa memakai tumbler yang bisa menjaga suhu selama berjam-jam kalau isinya saja sudah tandas dalam hitungan menit? Begitu pula dengan minuman hangat. Kalau suhunya tidak awet, ya sudah.

Kapasitas besar juga nggak terlalu berguna. Nyusahin lebih tepatnya. Apalagi material baja tahan karat sudah berat tanpa diisi air. Bawaan saya hari-hari bepergian pun sudah bikin menangis. Rasanya botol plastik berkapasitas 500 ml lebih dari cukup memenuhi kebutuhan cairan.

Mensyukuri botol Tupperware yang sudah ada

Seporsi kesadaran itu mengingatkan saya pada dompet Sophie Martin yang sudah saya gunakan sejak kelas II SD. Sampai sekarang masih awet meski modelnya sudah ketinggalan zaman.

Berbekal prinsip mendang-mending serta kondisi keuangan saya yang pas-pasan, sudah paling betul memakai barang hingga habis masa pakainya ketimbang buru-buru mengganti karena tergoda sementara.

Kalaupun sekarang ada orang yang merekomendasikan tumbler stainless steel lain dengan harga di bawah Rp100 ribu dan katanya jauh lebih worth it, saya tetap sangsi. Masa saya harus beli lagi hanya demi membuktikan klaim itu? Cukuplah sekali saja saya belajar dari pengalaman. Cukuplah saya setia dengan Tupperware.

Semisal ada yang ngasih secara cuma-cuma sih, bakal saya terima dengan senang hati. Namun, kalau harus mencari mana yang paling pas di hati, apalagi harganya ratusan ribu atau bahkan setengah juta, skip.

Bukan berarti saya mengklaim botol Tupperware lebih unggul daripada semua merek tumbler di pasaran atau menganggap tumbler mahal pasti aslinya jelek dan nggak sepadan. Saya hanya baru sadar bahwa kebutuhan saya jauh lebih simpel ketimbang segala fitur yang ditawarkan tumbler viral.

Meskipun warnanya masih ngejreng dan modelnya juga tetap kekanakan di mata saya, yang penting ringan, nyaman, antibocor, dan fungsi utamanya sebagai wadah air minum berfungsi dengan baik. Setiap membawa botolTupperware, saya pun jadi ingat perjuangan Ibu mencari uang dan termotivasi untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik lagi.

Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Selamat Jalan Tupperware, Terima Kasih Telah Memberikan Trauma Masa Kecil dalam Keluarga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version