Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai!

Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai! terminal mojok.co

Salut Buat yang Bisa Nonton Film Selesai sampai Selesai! terminal mojok.co

Bagi generasi milenial, pernikahan sudah menjadi bahasan yang relevan. Generasi yang sempat tumbuh dengan joke-joke jomblo di internet ini perlahan menua dan melangkah ke tahapan pikiran hidup selanjutnya, salah satunya soal makna pernikahan.

Sebagai seseorang yang menua, ada banyak perubahan yang mengiringi, termasuk soal selera tontonan. Yah, meskipun saya masih betah dengan tontonan menghibur sebagai fasilitas escapism, saya mulai menagih tontonan-tontonan yang bisa jadi fasilitas untuk bergelut dengan keresahan hidup, termasuk menyoal tema percintaan yang dewasa.

Pada 13 Agustus lalu, sebuah platform layanan streaming bernama Bioskop Online merilis sebuah film dengan biaya sewa termahalnya. Selesai, sebuah film kedua dari Tompi yang kembali berduet dengan Imam Darto di posisi penulis. Sempat sukses di Pretty Boys sebagai film pertama, mereka kembali berkolaborasi dengan maksud membuat film yang tampil beda.

Film kedua Tompi kali ini menyoroti drama rumah tangga dengan konten perselingkuhan. Takut dianggap basi, Tompi sampai harus menjelaskan bahwa yang namanya film temanya itu-itu saja, yang penting eksekusinya. Ya benar, setuju.

Menurut saya, membuat film yang sederhana baik itu secara tema maupun design produksi justru lebih menantang. Hal-hal yang sederhana punya kelebihan untuk membuat sesuatunya tampak lebih relate nan membumi. Di sisi lain, mengemas hal yang sederhana menjadi sesuatu yang menarik itu sulit.

Tompi harus berhati-hati di sini. Esensi utamanya adalah mengemas kesederhanaan agar tetap menarik. Namun, aksesori masalahnya cukup banyak, mulai dari tidak terjebak dari kemalasan menciptakan ulang sesuatu yang sama hingga bagaimana memaknai apa itu klise.

Film Selesai dibuka dengan statement yang menarik oleh Ayu yang diperankan oleh Ariel Tatum. “Pernikahan itu seperti menyatukan 2 roti menjadi 1. Butuh cinta sebagai menteganya dan yang namanya mentega, yah bisa habis.” Sebuah dialog yang memberi set up bahwa film ini mengeksplore soal pernikahan, intrik rumah tangga.

Film Selesai memang bercerita mengenai hubungan suami istri antara Ayu dan Broto. Sejak awal film, memang terlihat pasangan ini punya masalah yang tampak sulit dibicarakan. Mereka tampak berusaha menjalani hari bak pasangan bahagia meski hati mereka sebenarnya gundah gulana menyimpan sesuatu. Beberapa hari kemudian, Ayu menemukan celana dalam wanita di dalam mobil sehingga dia menuduh Broto selingkuh.

Semenjak itu suasana rumah mulai berubah. Ada adu argumen, ada cekcok, hingga akhirnya Ayu memutuskan pergi dari rumah. Ndilalah, kok pas-pasan dengan kedatangan ibu mertua tersayang yang akhirnya membuat Ayu tidak jadi minggat. Memang, film ini punya banyak kejutan, bahkan banyak lagi setelah ini.

Melihat tema cerita yang mengangkat konflik pernikahan membuat saya punya ekspektasi akan sajian film-film konflik rumah tangga lainnya. Saya teringat beberapa film, di antaranya ada Malcolm & Marie, Marriage Story, dan Before Midnight. Apa kesamaan tiga film itu? Ketiga film itu punya tema sederhana yang berhasil dikemas menarik dengan senjata berupa dialog adu bacot yang kuat.

Ketiga film itu punya adegan-adegan cekcok yang menarik. Selain berhasil mengarahkan mood penonton seperti tegang atau romantis modal bacotan castnya, adegan cekcok itu berhasil mengupas perspektif masing-masing karakter. Sehingga, penonton diberi posisi yang dilematis menentukan siapa yang salah dan benar karena berhasil memahami kerumitan situasinya. Kerumitan yang tampaknnya hampir selalu ada di hubungan pernikahan. Hal ini yang biasanya saya tagih, pengupasan perspektifnya.

Hal ini tidak saya rasakan di film Selesai. Saya tidak menuntut agar film ini menyerupai referensi film-film yang saya sebutkan tadi. Film ini punya pendekatan yang berbeda, dan sejujurnya secara niat hal ini menarik. Sayangnya, pengupasan perspektifnya tumpul. Hal-hal yang dijanjikan Tompi selama promo film ini tidak dapat saya nikmati.

Film Selesai tampak menabrakan segala batas-batas yang ada. Salah satunya batas antara serius dan komedi yang tampaknya ingin ditabrak-tabrak. Kadang ketika saatnya adegan serius, adegan komedi sering tiba-tiba muncul secara acak. Bahkan saat adegan serius atau cekcok terjadi, musik justru memberikan kontras mood dengan nada-nada jazz yang komikal, dan itu memang unik dan beda. Sayangnya secara mood, saya bingung harus bereaksi seperti apa. Di saat serius, yang harusnya saya ikut terhanyut dalam tensi justru membuat saya tidak bisa menganggapnya serius.

Itulah yang membuat perspektif-perspektifnya tumpul. Saya sulit memahami konteks argumennya karena penabrakan serius dan komedi ini. Seolah yang saya tangkap film ini mencoba stylish dengan tameng berusaha tampil beda, pokoknya keren karena beda, tapi pada akhirnya mengorbankan substansi. Hal ini semakin diperparah dengan dialog-dialog yang tak punya bobot, plus karakter-karakter yang tidak didalami. Aspek-aspek yang tak digali ini menjadi korban karena mengutamakan tampil beda seperti  tata audio visual, pilihan adegan, hingga berbagai twist minim set-upnya. Pening saya nonton film ini, duh 40 ribuku.

Dikutip dari KINCIR, Tompi mengatakan bahwa dari film ini, orang bisa begitu marah sampai mudah mengucapkan kata kotor. Saya kira, statement ini menjanjikan adegan orang cekcok yang memaksa orang mengucapkan kata kotor dan akan ber-impact pada kondisi psikologis tertentu yang menarik.

Contoh terbaik ada di film Marriage Story, di adegan cekcoknya. Ada kalanya di saat dia telah mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, sekian detik setelahnya dia merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan lawan bicaranya. Namun, saya sebagai penonton paham, ada kondisi rumit tak terelakan, dan ujungnya saya tak bisa menilai benar dan salah lagi karena konflik rumah tangga itu sangat rumit. Saya justru jadi malah berempati.

Film Selesai tak punya pesona ini. Kata-kata kotor yang keluar, kata-kata menyakitkan yang ada, ya sekedar pameran ngatain orang biar tampak keren karena berani vulgar. Efek psikologisnya? Kayak nonton anak SD saling ejek doang, lah, sensasinya.

Pada akhirnya, Selesai memang berhasil tampil beda menyajikan konflik rumah tangga dan perselingkuhan. Bodo amat bikin nyaman apa nggak nontonnya, pokoknya beda. Twist-nya tidak kuat dan tidak punya empati juga nggak apa-apa, yang penting beda. Permisi, saya mau makan tempe dicocol keju dulu.

BACA JUGA The World of the Married Nggak Cuma Soal Cerita Perselingkuhan Lee Tae-oh dan tulisan Muhammad Sabilurrosyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version