Salatiga dikenal sebagai kota yang sejuk, nyaman, dan ramah bagi mahasiswa. Banyak orang datang ke kota ini untuk kuliah, bekerja, atau sekadar menikmati ritme hidup yang tidak terlalu tergesa gesa. Kota ini sering dipuji sebagai salah satu kota yang paling nyaman di Jawa Tengah. Tapi ada satu kekurangan yang jujur aja lumayan mengganggu: kereta api tidak berhenti di Salatiga.
Saya termasuk orang yang kalau bepergian lebih sering memilih kereta api. Kereta terasa lebih sederhana dan lebih nyaman. Kita datang ke stasiun, menunggu sebentar, naik ke gerbong, lalu duduk menikmati perjalanan. Tidak perlu memikirkan kemacetan di jalan raya dan tidak perlu capek menyetir sendiri. Karena itu setiap kali harus pergi ke suatu kota, kebiasaan pertama saya hampir selalu sama yaitu membuka aplikasi tiket dan mencari kereta menuju kota tujuan.
Kebiasaan itu juga saya lakukan ketika beberapa waktu lalu harus pergi ke Salatiga untuk menemui seseorang. Dalam bayangan saya perjalanan ini akan sama seperti perjalanan perjalanan sebelumnya. Saya naik kereta dari daerah saya lalu duduk beberapa jam sampai akhirnya turun di stasiun kota tujuan. Semuanya terlihat sederhana dan tidak memerlukan banyak tahap tambahan. Namun rencana sederhana itu mulai berubah ketika saya mencoba mencari tiket perjalanan.
Tidak ada Salatiga
Saya memasukkan tujuan perjalanan dengan nama Salatiga di aplikasi pemesanan tiket. Hasilnya tidak muncul sama sekali. Saya mencoba lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan penulisan. Hasilnya tetap sama. Tidak ada stasiun bernama Salatiga dalam daftar tujuan perjalanan kereta. Di situlah saya kembali diingatkan pada satu fakta yang sebenarnya cukup dikenal oleh banyak orang: Salatiga tidak memiliki stasiun kereta api sehingga penumpang harus turun di kota lain terlebih dahulu.
Artinya siapa pun yang ingin menuju Salatiga menggunakan kereta harus turun di kota lain sebelum benar-benar sampai di tujuan. Biasanya pilihannya hanya dua yaitu Solo atau Semarang. Setelah itu perjalanan masih harus dilanjutkan dengan kendaraan lain menuju Salatiga. Situasi ini mungkin terdengar sepele tetapi bagi orang yang terbiasa bepergian dengan kereta kondisi ini membuat perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari yang seharusnya.
BACA JUGA: Salatiga, Tempat Slow Living Terbaik di Jawa Tengah
Terpaksa turun di Poncol
Akhirnya saya memutuskan untuk turun di Semarang Poncol. Pilihan ini terasa cukup masuk akal karena dari Semarang akses menuju Salatiga relatif lebih mudah. Selain itu pilihan transportasi lanjutan juga lebih banyak tersedia. Perjalanan kereta sendiri berjalan seperti biasa. Saya duduk di gerbong sambil melihat pemandangan yang berganti di luar jendela mulai dari sawah permukiman hingga kota-kota kecil yang dilewati kereta.
Beberapa jam kemudian kereta berhenti di Semarang Poncol dan para penumpang mulai turun satu per satu. Biasanya ketika kita turun dari kereta perjalanan sebenarnya sudah selesai. Kita keluar dari stasiun dan langsung berada di kota tujuan. Namun untuk perjalanan menuju Salatiga cerita tidak berhenti di situ.
Dari Semarang Poncol saya menuju tempat keberangkatan travel dan melanjutkan perjalanan menggunakan Bhinneka Shuttle menuju Salatiga. Di sekitar stasiun terlihat beberapa penumpang yang tampaknya memiliki rencana perjalanan yang sama. Sebagian membawa koper kecil dan sebagian lagi membawa ransel. Mereka terlihat seperti orang orang yang baru saja turun dari kereta dan masih harus melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Kami kemudian berangkat menuju Salatiga dengan mobil shuttle. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam tergantung kondisi lalu lintas. Mobil melaju melewati jalur yang cukup ramai karena menjadi penghubung beberapa wilayah penting di Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan terlihat kendaraan pribadi bus antarkota hingga truk logistik yang terus bergerak di jalan yang sama.
Salatiga bukan kota kecil, lho, kok nggak ada kereta api ya?
Di sepanjang perjalanan itu saya sempat berpikir bahwa Salatiga sebenarnya bukan kota kecil yang sepi aktivitas. Sebaliknya kota ini cukup dikenal sebagai kota pendidikan. Banyak mahasiswa dari berbagai daerah datang ke Salatiga untuk menempuh pendidikan. Selain itu kota ini juga sering disebut sebagai salah satu kota yang nyaman untuk ditinggali karena udara yang sejuk dan suasana kota yang relatif tenang.
Dengan karakter seperti itu rasanya cukup masuk akal jika kota ini memiliki akses kereta api langsung. Apalagi secara geografis Salatiga berada di antara dua kota besar di Jawa Tengah yaitu Semarang dan Solo. Jalur transportasi di wilayah ini sebenarnya cukup ramai baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Banyak orang lalu lalang setiap hari melewati jalur tersebut.
Namun kereta api justru tidak berhenti di Salatiga. Hal ini sering memunculkan pertanyaan sederhana. Mengapa kota yang dikenal sebagai kota pendidikan justru tidak memiliki stasiun kereta api. Padahal mobilitas orang menuju kota ini cukup tinggi. Mahasiswa datang dari berbagai daerah keluarga berkunjung dan banyak orang yang memiliki urusan pekerjaan di kota tersebut.
Beberapa kota yang ukurannya lebih kecil justru memiliki stasiun kereta api. Ada daerah dengan jumlah penduduk tidak terlalu besar tetapi menjadi tempat pemberhentian kereta. Bahkan ada stasiun yang hanya disinggahi beberapa kereta dalam sehari tetapi tetap menjadi bagian dari jaringan transportasi kereta api. Sementara itu Salatiga yang cukup dikenal luas justru tidak memiliki stasiun sama sekali.
BACA JUGA: Salatiga, Destinasi Wisata Menarik tapi Nggak Semua Orang Bakal Nyaman Liburan ke Sini
Lebih panjang dari kota-kota lain
Ketika mobil Bhinneka Shuttle mulai memasuki wilayah Salatiga suasana kota yang sejuk langsung terasa. Udara menjadi lebih segar dibandingkan kota-kota besar di sekitarnya. Jalanannya tidak terlalu padat dan suasana kotanya terasa lebih santai. Ritme kota terasa berbeda seolah berjalan sedikit lebih pelan dibandingkan kota-kota besar di sekitarnya.
Pertemuan yang menjadi tujuan perjalanan saya hari itu akhirnya berjalan dengan baik. Namun pengalaman menuju kota ini meninggalkan satu kesan yang cukup kuat bagi saya sebagai penumpang kereta. Perjalanan menuju Salatiga dengan kereta selalu terasa seperti cerita yang belum benar-benar selesai ketika kereta berhenti.
Yah, Salatiga tetap kota yang nyaman untuk dikunjungi. Hanya saja bagi penumpang kereta perjalanan menuju kota itu selalu terasa sedikit lebih panjang dibandingkan kota-kota lain.
Penulis: Ibnu Fikri Ghozali
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
