Review ‘Lily of The Valley’, Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan

Review 'Lily of The Valley', Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan terminal mojok.co

Review 'Lily of The Valley', Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan terminal mojok.co

Beberapa hari lalu saya memutuskan menonton satu film dari situs streaming legal film Indonesia, Bioskop Online. Judulnya Lily of The Valley. Kisahnya dituturkan dalam medium short film berdurasi 45 menit besutan sutradara Giovanni Junius Rustanto yang juga berperan sebagai scriptwriter film ini.

Buat saya, Lily of The Valley adalah karya Giovanni Rustanto yang pertama kali saya tonton. Dari ketidaktahuan saya terhadap karya-karyanya, saya justru jadi lebih penasaran dan merasa tertarik. Ditambah dengan prestasi film ini yang sudah wira-wiri duluan di festival film luar negeri. Seperti kemenangannya dalam Gold Rami Award pada Worldfest Houston International Film Festival. Selain itu, Lily of The Valley juga tayang di Urban World Film Festival dan Raices Festival Internacional de Cine de Chivilcoy, Argentina.

Film bergenre drama ini mengisahkan problem dilematik seorang ibu tunggal bernama Rita (Imelda Therinne) pada momen perayaan ulang tahun anak tunggalnya, Lily (Adhisty Zara). Dikisahkan kalau Rita dengan suaminya, John (Andryanto) telah bercerai. John dan Rita kini punya pasangan masing-masing. John bersama Sarah (Shindy Huang), sementara Rita punya pacar baru yang tampak lebih muda dari John, yakni Daniel (Farish Nahdi). Pada perayaan ulang tahun ke-18 Lily, Rita mengundang John, Sarah, dan Daniel ke rumahnya. Lengkap dengan nenek Lily atau ibunya Rita yang diperankan oleh Rini Harsono. Dan datang pula sahabat Lily bernama Jasmine (Dwi Indah).

Konflik bermula ketika secara nggak sengaja, Rita menemukan chat mengejutkan dari Jasmine di ponsel Lily. Chat itulah yang mengusik ketenangan Rita, menghancurkan suasana hatinya sepanjang hari itu. Di film ini, Giovanni seperti ingin menunjukkan konflik batin yang bisa terjadi pada ibu tunggal. Di luar tantangan yang dialami, sosok ibu tunggal kerap dihadapkan dengan masalah terkait statusnya sebagai seorang perempuan.

Film Lily of The Valley ini berhasil menangkap kegundahan seorang perempuan, menghidupi peran majemuk yang melekat padanya. Sementara di sisi lain, seorang perempuan juga selayaknya berjuang untuk kebahagiaan diri sendiri. Keriweuhan ini mampu digarap Giovanni Rustanto nyaris mulus, tanpa cacat.

Meskipun setting tempatnya hanya di satu rumah, film ini justru berhasil menimbulkan kesan intimate antar karakternya. Tipe shot yang digunakan di sini juga sama sekali nggak membosankan. Penonton akan disuguhi tipikal shot seperti pada poster film ini dimana kita bisa melihat Rita di balik jendela dapur. Bahkan, di satu scene, penonton akan mendapatkan long take yang akan mewarnai segmen klimaks pada film ini. Satu aspek lagi yang menarik dari segi teknis adalah colouring yang disesuaikan dengan perasaan si tokoh utama, Rita.

Di film ini, Imelda Therinne bisa dibilang sangat sukses menghidupkan karakter Rita. Olah perannya benar-benar membuat saya terkesima. Seolah kegundahan itu ia tunjukkan dengan porsi yang pas. Seluruh mimik dan gerak-geriknya sukses menyampaikan apa yang sedang dirasakan karakter Rita. Adhisty Zara juga semakin melengkapi film ini dengan aktingnya yang segar, manja, dan girly. Cocok buat “Lily” dengan segala dinamikanya sebagai ABG. Potret Lily di sini mengingatkan saya pada tokoh Lolita pada film berjudul sama, meskipun tidak se-ekstrem itu.

Overall, film ini menawarkan tema yang berbeda. Sebuah melodrama yang digarap dengan begitu apik. Kekurangan yang ada di film ini sebetulnya nggak terlalu kentara. Misalnya, saat sang nenek pertama kali menyapa Lily, dialog pada bagian itu terasa agak kaku dan seharusnya bisa lebih cair lagi. Untuk yang lain, sih, sesuai selera, ya. Ada yang bilang durasi segini masih bisa dipanjangin dalam rangka pengembangan karakter. Namun, kalau menurut saya, cerita Lily of The Valley sudah tepat dikemas dalam medium short film. Hanya saja, memang bagian resolusi yang menurut saya bisa ditambah sedikit lebih lama, meskipun pas saya nonton sih tetep oke-oke saja.

Nah, itu tadi review saya untuk film Lily of The Valley karya Giovanni Rustanto. Film bergenre drama asal negeri sendiri ini akan membuka mata kita pada konflik tak kasat mata, yang unik dan cukup menarik. Selamat menonton.

BACA JUGA Rekomendasi Film Korea Selatan Terbaik Karya 3 Sutradara Perempuan dan tulisan Maria Monasias Nataliani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version