Informasi

Puncak Dua Bogor dijual sebagai surga wisata, padahal kulinernya monoton dan membagongkan

Puncak Dua Bogor dijual sebagai surga wisata, padahal kulinernya monoton dan membagongkan

Sebagai warga Kabupaten Bogor yang tinggal di jengkal wilayah Jalur Puncak Dua, penderitaan saya belakangan ini bukan cuma soal kemacetan akhir pekan atau kondisi jalanan yang sanggup mengocok ulang susunan organ dalam. Penderitaan terbesar dan paling konsisten yang saya alami adalah rasa lapar.

Kerjaan work from home (WFH) berhasil bikin metabolisme saya makin rewel dan gampang lapar. Namun celakanya, pilihan kuliner di sekitar sini justru bikin saya makin ingin menyerah pada hidup.

Jalur Puncak Dua Bogor ini konon digadang-gadang jadi alternatif Puncak Utama yang estetik, sejuk, dan bebas macet. Tapi kalau urusan perut? Ampun, deh. Pilihan makanannya muter di lingkaran setan yang itu-itu saja. Dan setelah saya renungkan sambil menahan lapar, masalah utamanya sebenarnya sederhana: kuliner di sini cuma menyesuaikan segmen masyarakat dan pasarnya.

Sebagai warga berstatus pendatang, jujur saja: rasane blas ra karuan, ra masuk blas!

Mari kita bedah satu per satu lingkaran setan kuliner ini.

Mie ayam yang begitu membosankan

Pertama, mari bicara soal Mie Ayam dan Bakso. Di sepanjang jalur Puncak Dua Bogor ini, penjual mie ayam dan bakso bertebaran seolah-olah itu satu-satunya menu yang direstui alam. Masalahnya, rasanya begitu saja: generik, tanpa karakter, dan seolah dibuat menggunakan resep rahasia yang sama dari satu grup WhatsApp RT. Kuahnya bening pasrah, bumbunya malu-malu.

Kenapa? Ya karena pasarnya memang mengejar kenyang murah-meriah khas tongkrongan pinggir jalan lokal. Efisiensi rasa demi harga bersahabat.

Lalu ada Ayam Geprek. Tolong ya, jangan sebut itu ayam geprek kalau ulekannya cuma formalitas. Ayam geprek di sini lebih cocok dinamai “Ayam Elus”, karena sambalnya cuma ditaruh begitu saja di atas daging tanpa ada proses penggeprekan yang emosional.

Kenapa sambalnya enggak pedas dan enggak niat? Lagi-lagi menyesuaikan segmen pasar lokal yang mungkin standar pedasnya aman untuk semua umur. Tapi buat lidah yang butuh ledakan rasa, ini penyiksaan.

Pindah ke ayam bakakak dan sajian Ikan air tawar. Jujur, sampai sekarang saya bingung kenapa menu ini orang puja-puja sebagai sajian khas Puncak Dua. Bumbunya cuma nempel di kulit bagian luar, sementara daging bagian dalamnya tawar kayak pembicaraan dengan mantan. Sama halnya dengan ikan bakar atau goreng di warung-warung sekitar—semua disajikan dengan standar rasa yang datar.

Fenomena ini makin mempertegas bahwa kuliner di sini memang dirancang bukan untuk mengejar kedalaman rasa (flavor profile kalau kata anak Jaksel), melainkan sekadar penyedia kalori massal untuk rombongan keluarga yang penting dapet tempat duduk luas dan pemandangan hijau.

Nasi padang di Puncak Dua Bogor begitu aneh

Puncak dari keputusasaan saya terjadi waktu mampir ke warung Nasi Padang lokal. Harapan hati ingin menghibur diri pakai gulai tunjang atau cincang yang kaya rempah dan berlemak. Apa daya, yang ada cuma ayam bakar. Itu pun potongannya seuprit, enggak lebih besar dari genggaman tangan saya sendiri. Ini mau jualan Nasi Padang atau porsi makan anak TK?

Nasi Padang yang di daerah asalnya adalah simbol kemewahan rempah, di sini dipangkas habis menunya demi menyesuaikan daya beli dan selera pasar sekitar yang penting ada nasi, lauk ayam, dan kuah kuning cair.

Kondisi makin parah gara-gara dominasi seblak. Saudara-saudara saya hobi betul melahap makanan berbumbu kencur menyengat dengan isian kerupuk becek itu. Fenomena seblak ini adalah bukti sahih bagaimana segmen pasar di sini sangat menggandrungi rasa gurih-micin yang praktis.

Tapi begitu saya coba ajak mereka untuk sekadar deep kuliner—menjelajahi rasa lain yang lebih berani dan variatif—jawabannya selalu susah setengah mati. Ada benteng kultural dan selera yang rapat sekali untuk ditembus.

Serbasalah

Sebagai pendatang yang terbiasa dengan fleksibilitas kuliner kota, situasi ini menempatkan saya dalam posisi yang serba salah. Mau memaksakan lidah ikut selera lokal, hati dan perut memberontak. Mau protes, nanti dikira pendatang rewel yang tidak menghargai kearifan lokal.

Akhirnya, daripada menderita batin di rumah sendiri, saya sering kali lebih memilih staycation atau balik ke kosan di Jakarta Selatan. Ya, Jaksel! Kota yang sering dihujat karena gaya hidup dan bahasa anak selatannya itu setidaknya punya satu keunggulan mutlak dibanding Puncak Dua Bogor: variasi makanannya hidup, inklusif, dan manusiawi untuk berbagai jenis lidah.

Puncak Dua boleh saja menang di udara sejuk, bentang alam hijau, dan angin sepoi-sepoi. Tapi kalau ekosistem kulinernya tetap monoton, cuma muter di segmen pasar yang datar, dan pelit variasi… jujur saja, yang dingin cuma udaranya. Perut dan emosi saya sebagai warga pendatang tetap panas membara.

Penulis: Abrurizal Wicaksono
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Hal Sederhana yang Bikin Orang Bogor Marah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 September 2026 oleh .

Abrurizal Wicaksono

Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Saat ini bekerja di beberapa lembaga non profit sebagai konsultan untuk dana hibah. Gemar ngopi, baca buku dan suka traveling random. Saat ini tinggal di Bogor dan sedang mencari kesibukan diluar hobi tersebut.

Exit mobile version