Pria Ini Hidupnya Nyaris Berakhir Karena Tulisannya Ditolak Redaktur Mojok

ditolak

ditolak

Penyebab bunuh diri bisa apa saja. Bisa karena patah hati, putus cinta ditinggal kekasih, gagal tes PNS, gagal berangkat ke luar negeri, dan macam-macam lainnya. Orang yang melakukannya juga bisa siapa saja. Bisa itu orang yang ditinggal nikah pacarnya, orang yang gagal lolos PNS, orang yang gagal pergi ke luar negeri, orang yang baru dipecat atasan, istri yang suaminya selingkuh, lulusan Australia yang nggak nemu-nemu pekerjaan, bintang film, penyanyi, politisi, maupun–yang katanya paling keren, tapi kere—penulis.

Baru-baru ini, ada seorang pria yang bunuh diri karena tulisan-tulisannya terus-terusan ditolak oleh redaktur Mojok. Meski ditolak dengan halus dan sopan, sertai digombali pula dengan kata-kata ‘Mas yang baik, pria itu tetap frustasi dan akhirnya ia bunuh diri.

Jangan heran kenapa penulis—orang yang selalu berpikir—bisa bunuh diri. Wong penulis kenamaan dan peraih nobel sastra macam Ernest Hemingway dan Yasunari Kawabata saja melakukannya, kok.

Hemingway, misalnya. Penulis novel ‘The Old Man and The Sea itu bunuh diri dengan cara menembak kepalanya dengan senapan pada Minggu pagi, 2 Juli 1961. Entah benar atau tidak, banyak orang percaya bahwa keluarga Hemingway mengidap penyakit turunan yang dikenal sebagai hemokromatosis—suatu penyakit yang menyebabkan depresi akibat konsentrasi zat besi yang berlebihan di dalam darah. Buktinya, ayah Hemingway, Clarence Hemingway, serta dua saudaranya Ursula Hemingway dan Leicester Hemingway, serta cucunya Marguax Hemingway, juga mati bunuh diri

Lalu, Kawabata. Ia adalah penulis Jepang pertama yang meraih Nobel Sastra, tepatnya tahun 1968, berkat karya-karya adiluhung seperti Negeri Salju, Seribu Burung Bangau, dan Ibu Kota Lama. Ia bunuh diri dengan meracuni dirinya dengan gas pada tahun 1972. Menurut spekulasi yang berkembang saat itu, Kawabata bunuh diri karena terus dihantui oleh almarhum sahabatnya yang juga penulis hebat—Yukio Mishima—yang juga bunuh diri dua tahun sebelumnya, dengan cara merobek perut.

Lho, tapi kan, cuma gagal nembus Mojok doang? Ah, tak ada tapi-tapi. Pokoknya, tulisan ditolak itu menyakitkan, apalagi berkali-kali. Seandainya masih hidup dan mereka mau mengirimkan tulisannya ke Mojok, Hemingway dan Kawabata mungkin juga akan kesal kalau ditolak. Mereka pasti akan heran, ‘Tulisanku sudah di mana-mana dan sudah diterjemahkan di banyak negara, kok bisa ditolak ya sama Mojok?’

Tanpa maksud mengikuti jejak Hemingway dan Kawabata, pria itu lantas nekat bunuh diri setelah puluhan tulisannya selalu ditolak oleh redaktur Mojok—kadang ditolak dalam tempo dua hari. Kadang dibuat baper dulu selama seminggu, sampai surat cinta penolakan itu pun akhirnya masuk ke emailnya. Kadang-kadang lainnya ditolak tanpa ada pemberitahuan sama sekali.

Pria itu bukannya tak berusaha. Sebelum bunuh diri, ia terus belajar memahami bagaimana selera redaktur Mojok. Ia tahu bahwa redaktur Mojok suka tulisan-tulisan yang lucu dan nyeleneh, namun tetap berbobot, kreatif, dan cerdas. Ya, walaupun sesekali, ia juga menemukan tulisan-tulisan yang setelah dibacanya sampai tuntas, tidak ada bobot kecerdasannya dan tak ada lucu-lucunya sama sekali.

Meski begitu, pria itu sepenuhnya mafhum bahwa penilaian itu relatif. Cerdas, berbobot, dan lucu bagi redaktur Mojok, belum tentu cerdas, berbobot, dan lucu bagi dirinya. Begitu pun sebaliknya. Maka, berkali-kali ia mengirim tulisan yang ia anggap cerdas, berbobot, dan lucu, tetap saja ditolak karena barangkali tidak demikian di mata redaktur Mojok yang membaca.

Di detik-detik keputusannya bunuh diri, pria itu merasa, bagaimana pun ia tak akan bisa seperti Haris Firmansyah, yang tulisan-tulisannnya nongol tiga hari sekali, atau paling lama tujuh hari sekali. Ia juga tak akan bisa seperti Alexander Arie, Novi Basuki, atau Kalis Mardiasih, Esty Diah Imaniar, atau Iqbal Aji Daryono, atau Edi AH Iyubenu. Bahkan, untuk mengimbangi Irvan Fadhil, bocah SMA itu saja ia tidak bisa.

Yang bikin pria itu tambah kesal, redaktur Mojok seolah membohonginya. Kalau bukan membohongi, ya mengejek namanya. Masak iya, Mojok memuat artikel-artikel yang hanya butuh waktu seperminuman kopi saja untuk menulisnya, tulisan yang dihasilkan sambil boker, saat naik angkot, atau saat nunggu kereta. Ah, yang betul aja! Ini hoaks paling menyesatkan! Penulis-penulis yang tulisannya dimuat di Mojok—hayo ngaku—berapa lama kalian menuliskan tulisan-tulisan kalian itu?

Belakangan, Mojok menyediakan Terminal Mojok, sebuah platform User Generated Content (UGC). Selain sebagai wadah bagi orang-orang yang ingin menuangkan uneg-uneg, Terminal Mojok juga semacam tempat pelarian bagi orang-orang yang tulisannya ditolak oleh redaktur-redaktur Mojok. Seperti tulisan-tulisan pria yang bunuh diri itu. Beberapa tulisannya yang pernah ditolak oleh redaktur Mojok, kini terpampang cantik di Terminal Mojok.

Oh Tuhan, ternyata redaktur Mojok baik juga—menolak cinta tapi menyediakan tempat pengalihannya. Coba kalau orang yang mau kita tembak juga begitu, kan enak, bisa cepat move on kita.

Maka begitulah. Setelah capek berusaha agar tulisannya bisa diterima oleh redaktur Mojok, pria itu lantas memutuskan “bunuh diri” (dengan tanda petik—yang di awal tulisan sengaja tidak dibuat). Bukan dengan cara menembak kepala atau minum racun tentunya, melainkan dengan menulis “Pria Ini Bunuh Diri Karena Tulisannya Ditolak Terus oleh Redaktur Mojok”. Ya, tulisan nirfaedah yang sedang kalian baca ini.

Exit mobile version