Pesan Moral dari Film Akhir Kisah Cinta Si Doel: Jangan Cari pasangan yang Terlalu Baik

Pesan Moral dari Film Akhir Kisah Cinta Si Doel: Jangan Cari pasangan yang Terlalu Baik

Dari awal hingga berakhirnya cerita cinta Si Doel ini, saya masih orang yang sama. Seorang yang berada di pihak Sarah. Tak peduli bagaimana #TimZaenab berkampanye membaik-baikkan sosok perempuan polos itu, saya tetap teguh pada pendirian bahwa Sarah-lah yang seharusnya menjadi pemenang dalam kisah percintaan ini.

“Tapi kan Sarah pergi gitu aja tanpa mau mendengar penjelasan dari Doel terlebih dahulu. Itu pun bukan dalam waktu yang tak sebentar. Empat belas tahun! Bayangkan, gimana perasaan Doel, jika orang yang dicintainya pergi gitu aja tanpa kabar. Jelaslah, dia kemudian memilih Zaenab yang selalu ada untuk dia.”

Kalau kalian berpikir hal serupa dan merupakan tim sukses kemenangan Zaenab, saya mohon dengan amat sangat cukup membaca artikel ini sampai di sini saja. Karena mulai dari sini hingga akhir nanti, saya akan membuka tabir sudut pandang saya sebagai seorang Sarah dan sudah pasti saya tak mau repot-repot memuji kebaikan Zaenab yang sangat dielu-elukan oleh Atun ataupun Mak Nyak.

Sarah memang pergi tanpa pamit. Dia pergi gitu saja sebelum menyelesaikan segalanya dengan Si Doel. Saya akui di sini Sarah memang memiliki sedikit kesalahan. Kenapa saya bilang sedikit, karena alasan utama kepergian Sarah ini tentu saja ada kaitannya dengan ulah Si Doel si baik hati ini. Coba bayangkan, hati perempuan mana yang tidak remuk saat mendapati lelakinya justru sibuk mengurusi perempuan lain. Minta tolong sih boleh, dan menolong itu juga sah-sah saja, tapi semua itu juga harus ada batasannya dong, ya.

Zaenab sudah tahu jelas kalau Si Doel ini sudah menjadi milik Sarah, tapi dia selalu saja merepotkan Si Doel ini dan itu. Tahu sendiri Doel ini orang yang sangat amat baik, jadi mana mau dia menolak menolong Zaenab? Mbok ya minta tolong sama orang lain kek sana, Nab! Mandra gitu misalnya. Eh, tapi kan Mandra juga masuk anggota #TimSarah kan ya.

Bagi saya, Zaenab itu pokoknya merupakan sosok sok polos, sok kampungan, dan juga mengobral penderitaannya untuk menarik perhatian Si Doel. Seolah-olah sikap Zaenab itu tengah membuyarkan pandangan orang lain untuk bersimpati padanya. Padahal tindakan Zaenab ini bisa dikatakan sebagai seorang pelakor terselubung.

Kenapa Sarah memilih untuk pergi begitu saja. Bisa jadi di dalam hati Sarah itu dia masih cinta banget dengan Doel. Dia tak mau berpisah, tapi juga tak kuat menahaan sakit melihat kedekatan keduanya terus-menerus. Doel memang orang baik, sangat baik malahan, hingga di film ini tuh kadang saya suka bingung, kenapa tidak ada kekuranagn dalam diri Si Doel?

Dia digambarkan sebagai sosok yang tampan, berpendidikan, santun, sayang keluarga, rajin sembayang, suka mengaji, dan juga ringan dalam menolong orang. Dia tak pernah berkata kasar dan tak juga menyakiti orang lain secara fisik. Bisa dibilang, dalam film ini tuh sosok Si Doel itu diciptakan dengan segala kesempurnaannya. Tapi gara-gara kebaikannya yang terlalu absurd inilah, yang membuat semuanya menderita.

Seperti yang saya bilang, menolong sih boleh saja tapi harus tahu waktu dan batasan. Kita juga harus menghargai perasaan pasangan kita saat menolong orang lain. Apakah dengan dia membantu orang lain, pasangannya akan keberatan atau terluka? Si Doel nggak pernah berpikir sampai di sini. Saya yakin saat menolong Zaenab dulu, Si Doel memang tak punya niatan ataupun perasaan ke Zaenab. Tapi kita tahu sendiri, kan kalau Zaenab itu memang punya perasaan ke Doel. Tahunya Doel, dia sudah melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Padahal tanpa dia sadari hal itu tuh ternyata menyakiti Sarah.

Saat Sarah pergi, harusnya Si Doel itu peka, kenapa istrinya itu meninggalkan dia. Lah ini, bukannya berusaha nyari atau setia nunggu, dia malah nikah sama Zaenab. Alasannya sih gara-gara Zaenab itu merawat dan jagain Mak Nyak. Helooooo…Di rumah itu masih ada Atun ya yang merupakan anak perempuan si Mak Nyak. Jadi, kenapa harus Zaenab yang sok-soakan jagain Mak Nyak? Apa urusannya coba?

Di film ketiga ini, jujur saja saya sebel sesebel sebelnya sama sosok Zaenab. Dia sok-sokan tegar bilang mau ngalahlah, bilang mau pergilah, bilang merasa bersalahlah, tapi pada ujung-ujungnya dia memposisikan dirinya juga sebagai seorang korban yang patut dikasihani.

Puncak dari kekesalan saya itu pas Zaenab minta ketemuan sama Sarah. Padahal di sini Sarah sudah lapang dada memilih untuk mengalah dan pergi tanpa membunyikan genderang perang. Dia memilih untuk tidak bertemu dengan Doel dan keluarganya. Dia sudah mengurus perceraiannya. Dan juga dia memutuskan untuk kembali ke Belanda dan tak lagi mengganggu kebahagiaan dua orang ini. Tapi apa yang dilakukan Zaenab? Dia pamer dong sama Sarah, kalau dia tengah hamil anaknya Doel dan dia ngajak ketemuan.

Pas ketemuan Zaenab mulai berpidato tentang penyesalan dan keputusan bijaknya untuk pergi. Sedangkan Sarah memilih untuk diam. Sumpah, pas ini tuh sedihnya bukan main. Sarah cuma diam sambil nahan nangis.

Sejauh ini yah, meski Sarah pihak yang tersakiti tapi dia sama sekali nggak pernah berucap hal-hal jelek tentang Doel ataupun Zaenab. Dia selalu bilang pada anaknya bahwa bapaknya yang baik hati itu tidak pernah meninggalkannya, tapi dialah yang bersalah karena pergi. Dia tak pernah mengungkapkan cerita atau alasan kepergiannya. Dia pun juga tak pernah menyalahkan atau menjelekkan Zaenab. Makanya Dul, anaknya Si Doel, pun tak membenci bapaknya dan juga dia masih menghormati Zaenab dengan memanggilnya ‘ibu’.

Jika dibanding sama Si Doel, saya malah lebih respek sama cinta Mandra. Coba bayangkan, dulu dia ditinggal menikah sama Munaroh. Jelas hatinya remuk kala itu. Namun hingga belasan tahun berlalu dan Munaroh sudah punya anak gadis, nyatanya Mandra tetap tak berpaling pada hati wanita lain. Dia tetap setia dalam mencintai Munaroh pujaan hatinya. Coba Doel bisa sesetia kayak Mandra, kan nggak perlu galau memilih dua wanita itu kan yah.

Kadang ya, orang yang terlalu baik dengan orang jahat itu beda-beda tipis. Orang jahat itu melukai secara terang-terangan, sedangkan orang yang terlalu baik itu kadang melukai secara halus tapi begitu dalam lukanya. Makanya mending milih yang biasa-biasa saja, jangan yang terlalu baik kayak Doel. Nanti semua orang dibaikin lagi. Hmm….

Bang Rano Karno, atas nama tim Sarah, saya sungguh terluka dengan keputusan yang Anda ambil di film ini. Ambyar~

BACA JUGA Cinere-Gandul, Rute Angkot Si Doel yang Jaraknya Bisa Sambil Koprol atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version