Informasi
ADVERTISEMENT

Persetan hasil PISA, orang Indonesia pada cerdas kok, banget

Persetan hasil PISA, orang Indonesia pada cerdas kok, banget

Hasil PISA terbaru kembali keluar, dan seperti biasa, Indonesia masih betah nangkring di papan bawah. Miris memang kalau dilihat dari angka-angka di atas kertas. Tapi entah kenapa, di luar statistik yang menyedihkan itu, saya justru meyakini satu hal: orang Indonesia itu cerdas. Hanya saja, kecerdasannya tidak pernah diukur oleh soal matematika atau literasi ala PISA.

Kecerdasan itu justru tumbuh subur di jalanan, di pasar, di pinggir SPBU, bahkan di kolom jual-beli Facebook Marketplace. Ada semacam kecerdikan situasional, kemampuan membaca celah, beradaptasi cepat, dan berimprovisasi di tengah keterbatasan. Menurut saya, hal itu tidak kalah kompleks dibanding soal aljabar mana pun.

Berikut beberapa fenomena yang, menurut saya, membuktikan betapa kreatif dan gesitnya (agile) masyarakat kita dalam menyiasati keadaan, dan itu tidak akan pernah tertangkap PISA.

Pertama, pungli berkedok jualan air mineral

Waktu SMP dulu, saya sempat heran: kenapa ya sopir-sopir truk selalu mampir dan “membeli” botol air minum di titik-titik tertentu, padahal harganya jelas di atas normal dan tempatnya pun terkesan asal-asalan?

Baru belakangan saya sadar, itu bukan transaksi jual-beli biasa, itu pungutan liar yang dibungkus rapi dalam kemasan dagang. Coba, bisakah PISA menangkap kecerdasan seperti ini?

Kalau ada razia atau ada yang mempertanyakan, jawabannya sudah siap: “Saya bukan mintain uang, saya cuma jualan air mineral, kok.” Sederhana, tapi efektif. Modus ini nyaris tidak bisa dijerat hukum karena secara administratif memang terlihat seperti transaksi sah.

Ini semacam rekayasa sosial tingkat akar rumput yang, kalau dipikir-pikir, membutuhkan pemahaman soal psikologi hukum dan celah birokrasi, meski pelakunya mungkin tidak pernah belajar itu di bangku sekolah.

Kedua, modus “touring” demi bensin subsidi, PISA mana paham

Konflik global yang memanas dan mengganggu pasokan minyak dunia akhirnya berimbas juga ke isi dompet kita lewat harga BBM. Pemerintah pun mengetatkan aturan: dilarang membeli bensin untuk dijual eceran. Sebab, banyak oknum memodifikasi tangki motor jadi berkapasitas besar untuk diborong lalu dijual lagi.

Tapi namanya juga warga +62, aturan baru selalu disambut dengan solusi kreatif baru. Solusinya? Menyamar sebagai rombongan touring lengkap dengan outfit khas, jaket, rompi, bahkan atribut komunitas, menaiki motor jenis Tiger yang tangkinya sudah “disulap” jauh lebih besar dari standar pabrik. Your turn, PISA, your turn.

Petugas SPBU pun akhirnya kesulitan membedakan mana touring beneran, mana yang modus. Ini bukan sekadar akal-akalan asal, tapi semacam rekayasa. Memahami psikologi petugas, memanfaatkan bias visual (rombongan berseragam terlihat resmi dan terpercaya), sekaligus modifikasi teknis pada kendaraan.

Ketiga, jual-beli “hak tikungan” ala Pak Ogah, PISA nggak akan tuh paham ginian

Fenomena yang menurut saya paling absurd sekaligus jenius: saya pernah melihat unggahan di Facebook yang menjual lahan tikungan. Bukan tanahnya secara fisik, tapi “hak” untuk berjaga dan menarik pungutan dari pengendara yang lewat di titik itu, sebagaimana biasa dilakukan Pak Ogah.

Bayangkan, sebuah “profesi” informal yang bahkan tidak diakui negara, sudah punya sistem kepemilikan, alih hak, bahkan mungkin harga pasar tersendiri tergantung ramainya lalu lintas di titik itu. PISA mana bisa kepikiran beginian?

Ini pada dasarnya adalah logika properti dan hak eksklusif yang diterapkan di ranah paling informal. Mirip konsep sewa lahan komersial, hanya saja objeknya adalah kemacetan dan kesabaran pengendara lain.

Keempat, menanam padi di saluran air, PISA mana kepikiran beginian

Fenomena ini mungkin luput dari perhatian banyak orang, tapi menyimpan logika yang menarik. Ada saja warga, biasanya di pedesaan, yang menanam padi langsung di saluran irigasi atau selokan yang airnya mengalir deras dan konstan, bukan di sawah pada umumnya.

Alasannya sederhana tapi cerdik, daripada repot memikirkan sistem pengairan yang butuh biaya dan tenaga ekstra, kenapa tidak langsung memanfaatkan saluran yang sudah teraliri air sepanjang waktu, gratis, stabil, bahkan membawa sedimen yang menyuburkan tanah?

Meski akhirnya menimbulkan masalah baru seperti saluran tersumbat dan risiko banjir saat musim hujan, fenomena ini tetap menunjukkan insting tajam soal efisiensi. Begitu melihat sumber daya yang “menganggur”, masyarakat kita cenderung langsung mengubahnya jadi sesuatu yang produktif, tanpa terlalu memikirkan dampaknya pada sistem yang lebih besar.

Kalau ditarik benang merahnya, ketiga fenomena ini punya pola yang sama: keterbatasan (baik ekonomi, regulasi, maupun kesempatan) justru memaksa lahirnya solusi-solusi yang secara struktur sebenarnya cukup canggih. Ada elemen branding, ada elemen psikologi sosial. Bahkan ada elemen hukum yang dimainkan dengan hati-hati agar tetap berada di area abu-abu.

Sayangnya, kecerdasan semacam ini nyaris selalu berjalan ke arah yang kontraproduktif, mengakali sistem, bukan membangunnya. Ironisnya, energi kreatif yang sama, kalau diarahkan ke hal yang lebih produktif seperti wirausaha, inovasi teknologi, atau riset, mungkin hasilnya akan jauh lebih besar dampaknya. Jadi mungkin persoalan kita bukan soal kurang cerdas. Tapi soal ke mana kecerdasan itu paling sering “disalurkan”. Dan itu pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar memperbaiki skor PISA.

Penulis: Diaz Robigo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ranking PISA Indonesia Naik, tapi Skornya Turun, Artinya Apa? Yak Betul, Kualitas Pendidikannya Jalan di Tempat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini y

Terakhir diperbarui pada 24 September 2026 oleh .

Diaz Robigo

figur yang pernah terlibat dalam proses demokrasi tingkat daerah di Karawang, dengan fokus pada isu-isu pembangunan dan pelayanan publik.

Exit mobile version