Pengangguran di Indonesia itu tinggi karena mismatch dengan kebutuhan industri. Banyak jurusan kuliah yang tidak dibutuhkan, serta, lulusan yang ada pun, tidak sesuai dengan kebutuhan industri, lagi. Entah secara skill, atau secara kuantitas, lulusan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Maka, jurusan kuliah yang tidak sesuai mending dihapus. Daripada nggak sesuai kebutuhan dan menyumbang pengangguran kan, mending dihapus aja.
Nah, itu alasan orang yang malas mikir, atau merasa sudah bisa mikir yang canggih. Omongan ini kerap muncul di tongkrongan, atau di podcast-podcast yang jelas susah untuk didebat, karena nggak ada aksesnya. Orang yang bisa mikir, harusnya sih nggak mengamini ini mentah-mentah.
Masalahnya adalah, opini (aneh) itu malah diamini juga oleh orang pusat. Ada kabar penghapusan jurusan kuliah yang tidak sesuai muncul dari sekelas Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek. Dan ini, jujur, bikin saya kecewa buanget.
Pertama, hal ini harusnya tidak diamini orang pusat. Kudunya diketawain malah. Kedua, orang pusat harusnya tau, pendidikan itu harusnya tidak selalu berkaitan dengan industri. Ketiga, kita semua tahu, masalahnya bukan di jurusan, tapi di kesempatan, materi, serta, yak betul, lapangan kerja yang sudah tidak banyak to begin with.
Keempat, banyak jurusan yang memang tak punya patokan lulusannya jadi apa. Nah, kita bahas satu-satu
Masak orang pusat mikir penghapusan jurusan kuliah adalah solusi?
Ini kita bahas poin pertama dan ketiga sekaligus. Saya percayanya satu hal: kalau mau kerja, yang diperbanyak skillnya. Atau, kamu harus jago tentang satu hal, saking jagonya, nggak ada pilihan lain selain kamu. Jurusan kuliah tentu saja membantu, apalagi jika jurusannya seksi. Tapi apakah jurusan seksi selalu memberimu jaminan pekerjaan?
Dulu, iya. Sekarang, nggak sih. Sumpah, nggak.
Kita tahu yang terjadi: jurusan seksi kebanyakan lulusan, marketnya nggak gede. Jurusan yang tidak seksi, tidak dilirik, padahal marketnya gede. Lulusan yang ada pun, banyak yang dianggap tidak kompeten (bukan kata saya ya), jadi ya lagi-lagi, kekurangan orang.
Nah ini yang bikin saya pusing. Dari hal itu saja, masalahnya keliatan bukan di jurusan, tapi di kesempatan. Oleh karena dari dulu stok lulusan (hampir) selalu lebih banyak dari kebutuhan, makanya kompetensi tambahan jadi nilai yang tak lagi bisa ditawar.
Mudahnya: masalah pekerjaan ini solusinya adalah memperbesar kesempatan—lapangan kerja ditambah, dan memperkuat kompetensi mahasiswa yang ada. Nah, kenapa tiba-tiba yang digodok adalah jurusan kuliah dihapus?
Ini semacam menyalahkan Real Madrid atas krisis yang dialami oleh PSM Makassar, alias ra nyambung!
Kuliah kadang tak selalu tentang kerja
Kalian mau mengelak seperti apa, tapi, jujur saja, pendidikan memang tak selalu tentang urusan pekerjaan. Kalau memang iya dari dulu begitu, nggak ada kayaknya yang kuliah di jurusan sastra. Ini serius.
Coba, misalnya saya, kuliah Sastra Inggris. Apa kira-kira pekerjaan yang cocok buat lulusannya?
Guru bahasa Inggris? Udah ada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tour guide? Lebih baik anak Sejarah aja yang ambil, toh tinggal belajar bahasa Inggris. Kerja di Kedubes? Anak HI lebih cocok. Jadi sastrawan? Ini lagi, lebih lucu.
Tapi apakah hanya karena tak ada output yang amat jelas, lalu dihapus? Ya ketawa aja sih aing.
Kuliah, dari esensinya, adalah perkara membuka kesempatan. Membuka potensi pemikiran seseorang, yang “dipaksa” untuk menembus batasnya, dan jadi manusia yang unggul, setidaknya ketimbang kemarin. Juga, tentang membuka relasi dan kesempatan hidup yang lebih baik.
Kuliah dari dulu memang tentang kerja, tapi seringnya bukan karena jurusan, tapi karena kampus menawarkan kesempatan yang besar. Jadi menghapus jurusan kuliah yang dianggap tidak relevan, justru mematikan kesempatan-kesempatan yang ada.
Pusat kok mikire ngene sih.
Jurusan kuliah sama kerja kadang memang nggak nyambung, tapi masalahnya di mana?
Saya lulusan Sastra Inggris. Kini, jadi penulis dan editor media berbahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris saya gunakan untuk keseharian. Kadang juga terpakai untuk bekerja, tapi mostly, nope.
Apakah saya menyia-nyiakan kuliah saya? Ya tidak. Karena saya kuliah Sastra Inggris, saya belajar menulis yang lebih baik. Saya bisa baca media berbahasa Inggris, yang bikin saya punya banyak inspirasi gaya menulis yang berbeda. Cara berpikir saya diasah di tempat saya kuliah. Relasi saya juga besar di situ. Kesempatan saya menjadi manusia yang lebih hebat saya dapat di kampus saya.
Sebenarnya, jurusan kuliah dengan kerja saya ya nggak nyambung-nyambung amat. Poinnya adalah, kita sekarang itu dibentuk oleh jurusan kita dulu, sekalipun bukan itu yang kita lakukan sekarang.
Bagi saya justru itulah yang bagus. Sebab, orang jadi punya banyak latar belakang yang unik, tidak seragam, yang bikin mereka punya ragam pemikiran yang bisa jadi kontribusi untuk memecahkan masalah yang ada.
Kalau jurusan kuliah yang dianggap tidak relevan dihapus, lalu semua kuliah sama yang pasar butuhkan, jujur saja, justru itu hal buruk. Ujung-ujungnya sama semua. Malah tidak ada keragaman, dan kita tidak punya opsi memperbaiki solusi yang sebanyak sebelumnya.
Sebenarnya ya, nggak ada masalahnya katakanlah kuliah di Jurusan Bahasa Ikan, lalu kerja jadi akuntan, misalnya. Kalau memang punya kompetensi yang amat mumpuni, masak ya mau ditolak hanya karena jurusan?
Ngurusi yang nggak perlu diurus
Masalah tentang pendidikan sebenarnya banyak banget. Jurusan kuliah malah bukan masalah menurut saya. Kualitas sekolah yang masih buruk, pemerataan pendidikan yang masih begitu jelek, gaji guru yang masih ambruk, serta kurikulum yang hancur lebih masuk akal untuk dijadikan fokus.
Itu baru perkara dasar. Untuk pendidikan tingkat tinggi, kita masih ngomongin perkara kuliah yang begitu mahal dan tak lagi aksesibel. Kualitas universitas yang jujur saja gitu-gitu aja, serta kampus yang tidak membekali kompetensi yang sebenarnya bikin kalian orang pusat mumet juga.
Nah, kenapa fokusnya malah ngehapus jurusan kuliah? Kenapa ngurusi yang nggak perlu diurus? Kenapa selalu salah fokus?
Sebagai penutup, saya sih pengin banget tau apa yang orang pusat maksud dengan relevan di industri ini. Sebab, kebutuhan industri ini kan berubah secepat kilat. Sebagai contoh, 3-4 tahun lalu, orang IT mengeruk emas, kini malah hidup berkalung cemas. Lalu, kalau jurusan kuliah yang ada hanya yang relevan dengan industri, memangnya yakin industrinya bakal masih ada dan berjaya?
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jurusan Kuliah Favorit dan Kesombongannya soal Prospek Karier
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
