ADVERTISEMENT

Pengalaman lima tahun ngekos di area gerbang gaib Unnes: awalnya ngeri, tapi lama-lama nyaman

Pengalaman lima tahun ngekos di area gerbang gaib Unnes: awalnya ngeri, tapi lama-lama nyaman

Cerita tentang kampus horor memang punya daya tarik tersendiri. Ada yang sengaja mencari tahu karena penasaran, ada pula yang sekadar ikut-ikutan supaya obrolan tongkrongan makin seru. Salah satu kampus yang sering terseret dalam urusan beginian adalah Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kampus di selatan Kota Semarang ini punya beragam cerita mistis, mulai dari dosen gaib sampai gerbang gaib.

Nah, soal gerbang gaib, saya punya sedikit pengalaman yang barangkali bisa dibagikan. Bukan karena punya kemampuan melihat makhluk tak kasatmata, melainkan karena saya pernah ngekos selama lima tahun di sekitar kawasan yang konon menjadi lokasi gerbang tersebut.

ADVERTISEMENT

Menurut cerita yang beredar, gerbang gaib Unnes berada di antara dua pemakaman: satu tepat di belakang Fakultas Hukum Unnes dan satu lagi di sekitar Gang Pisang atau area belakang gedung FMIPA yang rampung dibangun.

Selama lima tahun tinggal di sana, saya tentu cukup akrab dengan cerita-cerita semacam ini. Namun, akrab dengan area gerbang gaib Unnes tentu tidak otomatis membuat saya bisa membuktikan kebenarannya, tapi berikut yang bisa saya bagikan.

Menjadi lokasi Makam Kiai Suko dan Nyai Tanjung

Saat diterima sebagai mahasiswa baru Unnes, salah satu prioritas saya adalah mencari kos yang jaraknya sedekat mungkin dengan kampus. Maklum, saya ingin menghemat waktu dan tenaga agar urusan kuliah tidak perlu diawali dengan perjalanan panjang. Setelah mencari-cari, pilihan saya jatuh pada kawasan belakang Fakultas Hukum (FH) Unnes.

Ketika pertama kali melintasi kawasan tersebut, saya sempat memperhatikan dua makam berpagar di tepi jalan yang tampak terawat. Saat itu, saya belum tahu bahwa di belakangnya terdapat tempat pemakaman umum (TPU). Masalahnya, saya kadung membayar uang muka kos yang ternyata berimpitan dengan sudut area pemakaman tersebut.

Belakangan, saya mengetahui bahwa dua makam yang masih terawat tadi bukan makam biasa bagi warga setempat. Dosen sejarah Unnes, Bapak Tsabit, pernah menulis di blognya tentang dua makam yang dikeramatkan dan diberi pagar oleh masyarakat tersebut. Keduanya merupakan makam tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Sekaran, yakni Kiai Suko dan istrinya, Nyai Tanjung.

Kiai Suko dikenal sebagai sosok yang berjasa membuka kawasan Sekaran sebagai tempat bermukim sekaligus bercocok tanam. Bersama istrinya, ia dianggap sebagai perintis permukiman sekaligus lurah pertama di Sekaran. Tidak mengherankan jika makam keduanya masih dihormati hingga sekarang. Peziarah yang datang pun bukan hanya warga lokal, tetapi juga pengunjung dari luar daerah hingga organisasi mahasiswa Islam yang antre mendoakan.

Tradisi nyekar yang masih lestari

Selain keberadaan makam, ada satu hal yang sempat membuat saya merinding selama ngekos di kawasan ini yaitu aroma bunga yang kerap menyeruak setiap malam Jumat. Dalam film horor, bau bunga sering kali menjadi pertanda kehadiran makhluk halus, mulai dari jin sampai kuntilanak. Alhasil, saat pertama kali mengalaminya, pikiran saya tentu sempat ke mana-mana.

Namun, setelah beberapa kali pulang kuliah dan melintasi kawasan tersebut, saya memahami asal-usul aroma itu. Rupanya, banyak warga yang datang untuk nyekar di TPU. Aktivitas ini biasanya ramai pada Kamis sore menjelang malam Jumat, juga pada momen tertentu seperti menjelang Lebaran. Jadi, tidak semua aroma bunga yang muncul tiba-tiba harus dikaitkan dengan kehadiran penghuni alam gaib.

ADVERTISEMENT

Gerbang gaib Unnes: ulu lega sekarang sesak oleh kos-kosan               

Kalau ditanya apa yang paling terasa berubah selama lima tahun ngekos di belakang FH Unnes, jawaban saya justru bukan soal makin sering mendengar cerita mistis, melainkan lingkungan yang makin sesak oleh bangunan kos-kosan.

Sekitar 2018, kawasan ini masih memiliki beberapa lahan kosong yang ditumbuhi pepohonan. Sepulang kuliah, suasananya lumayan teduh. Setidaknya, mata masih bisa melihat tanaman, bukan melulu tembok bangunan. Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu lahan kosong itu mulai berubah fungsi menjadi bangunan kos-kosan. Ruang terbuka yang dulu memberi sedikit kesejukan kini semakin sulit ditemukan.

Saya paham, keberadaan Unnes membuat kebutuhan tempat tinggal mahasiswa terus meningkat. Bisnis kos-kosan pun menjadi peluang yang masuk akal bagi pemilik lahan.

Namun, sebagai orang yang pernah tinggal di sana selama lima tahun, saya merasa ada sesuatu yang pelan-pelan hilang dari kawasan ini. Barangkali bukan gerbang gaib yang perlu dicemaskan, melainkan lingkungan yang semakin kehilangan ruang terbukanya. Kalau begini terus, jangan-jangan yang makin sulit ditemukan di Sekaran bukan jalan menuju alam gaib, melainkan pohon berbuah mangga yang bisa mengganjal perut sepulang kuliah.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kampus bak Kebun Binatang hingga “Jalur Gaza”, Hal-hal Seputar UNNES Semarang yang Nggak Lumrah di Kampus Lain dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2026 oleh .

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.