Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Hewani

Pelihara Ikan Koi: Stres Tak Sirna, Malah Bisa Bikin Gila

Erwin Setiawan oleh Erwin Setiawan
11 Oktober 2021
A A
Pelihara Ikan Koi Stres Nggak Hilang, Malah Bisa Bikin Gila terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin adem ya kalau di halaman rumah ada kolam ikan koi dengan air yang jernih? Gemercik aliran air terkena bebatuan kali tentu bisa membawa nuansa nyaman di rumah. Begitulah pikir saya di awal pandemi, ketika saya harus bekerja dari rumah.

Namun, itu semua tidak sepenuhnya benar setelah saya betul-betul mencoba membangun kolam dan mengisinya dengan ikan koi yang indah. Malah, hampir setiap waktu melihat ke kolam koi saya dihantui perasaan tidak nyaman.

Bagaimana mungkin nyaman jika setiap memandangi ikan-ikan yang harganya jutaan itu saya harus senantiasa menyaksikan dengan saksama, apakah ada ikan yang sakit atau semuanya sehat. Jika tidak demikian, dengan kata lain membiarkan ikan yang sakit berlama-lama di kolam berbaur dengan ikan-ikan yang sehat, maka kematian massal bisa terjadi. Alhasil, bisa saja uang jutaan rupiah saya hilang dalam waktu semalam. Seram, kan?

Seperti di awal-awal, dengan polosnya saya mengartikan kualitas air yang baik untuk ikan koi adalah air yang jernih sebening kristal. Oleh karenanya saya memasang filter kolam yang asal bisa membuat air kolam tetap bening saja. Padahal air kolam untuk koi yang berkualitas memiliki banyak sekali parameter seperti: tingkat keasaman, oksigen terlarut, bebas amonia, kandungan mineral, dan suhu air kolam.

Alhasil untuk membangun kolam koi yang ideal diperlukan banyak sekali alat dan bahan, tidak seperti yang saya pikirkan di awal bahwa koi akan hidup di air yang jernih saja.

Jika kualitas air kolam tidak diperhatikan atau dijaga kestabilannya, maka ikan bisa sangat mudah terkena penyakit dan berujung kematian. Seperti yang saya alami, menyaksikan ikan koi mati sudah menjadi hal yang wajar saja lantaran sudah terbiasa. Bukan karena sengaja, tapi inilah wujud sebuah proses pembelajaran.

Dulu, waktu awal-awal melihat ikan seharga jutaan rupiah itu mati, rasanya saya seperti tercekik, sesak, hampir tidak bisa bernapas sangking nyeseknya.

Duh, gimana sih menyaksikan kekasih yang sangat dicintai terkulai lemas tanpa napas meninggalkan kecantikan atau ketampanannya yang sebentar lagi terampas? Seperti itulah kira-kira rasanya melihat ikan koi saya mati berturut-turut.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Selain menjaga kualitas air kolam, kita perlu tahu cara yang tepat dalam menangani ikan yang sedang mengalami sakit. Ini tidak mudah! Seorang pemula harus bisa membedakan mana ikan sakit dan sehat hanya dengan mengamati perilaku ikan, dan itu sangat sulit.

Untuk menentukan manusia yang terkena Covid-19 saja kita perlu serangkaian tes. Lah, gimana dengan ikan? Tidak mungkin kan melakukan swab test pada ikan-ikan peliharaan kita?

Alhasil kita hanya bisa menebak-nebak penyakit ikan koi berdasarkan ciri-cirinya. Hal ini sangat penting karena koi memerlukan penanganan yang tepat. Jika salah penanganan, sudah pasti ikan akan semakin stres dan cepat mati!

Lah, bagaimana tidak stres coba kalau misalnya sakit perut malah dikasih parasetamol? Manusia seperti kita bisa protes, tapi kalau ikan? Cuma megap-megap sambil mengelus dada kali! Duh, kasihan kamu, koi, harus mati di tangan majikan tolol macam saya.

Sampai sekarang pun saya tidak bisa mengidentifikasi ikan yang sakit sedang terjangkit penyakit apa. Paling pol saya bisa mengetahui ikan yang sakit bila ia menyendiri, ogah makan, berenang seperti orang mabok (tak tentu arah), dan siripnya menguncup selama berenang.

Iya, aktivitas saya kalau sudah di depan kolam koi bukan seperti kebanyakan netizen yang bisa minum kopi sambil udud, lalu menatap ikan koi berenang lincah ke sana ke mari. Bukan!

Kalau sudah di depan kolam koi, saya memasang kedua mata untuk memastikan semua ikan peliharaan saya sehat. Jika ada ikan yang terindikasi tidak sehat, maka saya segera menyeroknya untuk dipindahkan ke akuarium karantina.

Nah, di dalam akuarium itulah saya mencoba mengidentifikasi lebih detail penyakit apa yang menyerang ikan koi saya. Apakah karena jamur, bakteri, virus, atau kutu? Selepas itu, saya akan memberikan treatment kepada ikan koi tersebut berdasarkan pengalaman para senior di media sosial yang biasa dipanggil “suhu”.

Setelah mengikuti anjuran para netizen, apakah ikan koi saya bisa sembuh? Tidak! Ikan saya biasanya mati, entah itu keracunan obat yang tidak sesuai dosis atau memang penyakit ikan yang sudah kronis. Kemungkinan besar sih memang ikannya saja yang sudah parah terserang penyakit. Begitu sajalah ya daripada menyalahkan diri sendiri melulu.

Tidak mudah menjadi dokter koi, lho! Saya sudah mencoba berbagai obat untuk berbagai jenis penyakit ikan koi. Saking stresnya lantaran selalu saja gagal, kadang saya berpikir perlu mengoplos obat-obatan itu untuk mengakhiri hidup saya diberikan kepada koi. Aduh, makin gila saja!

Belum lagi menghadapi istri kalau sudah hitung-hitungan duit yang sudah habis dibelanjakan untuk membeli ikan koi. Hiii, serem dah!

Pernah saya “kena mental” karena istri saya. Kata istri saya yang cantik jelita itu, penyebab sebenarnya ikan koi pada mati ya karena terlalu sering saya pindah-pindah. Katanya, ikan-ikan itu stres punya majikan yang kena “penghobi koi sindrom”. Whaaattt???

Lantas, saya harus bagaimana dong kalau ikan koi saya sakit? Diangkat ke akuarium karantina salah, didiamkan di dalam kolam juga salah. Ah, mbuh, Lur!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2021 oleh

Tags: hewan peliharaanikan koipilihan redaksistres
Erwin Setiawan

Erwin Setiawan

Seorang montir yang berusaha melihat mata Tuhan.

ArtikelTerkait

Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

13 Februari 2024
Pasar Gedhe Klaten, Pasar Tradisional Pertama di Indonesia yang Ramah Lingkungan karena Menggunakan PLTS

Pasar Gedhe Klaten, Pasar Tradisional Pertama di Indonesia yang Ramah Lingkungan karena Menggunakan PLTS

30 Agustus 2024
Realme realmebook mojok

RealmeBook: Laptop Murah dengan Spesifikasi Edan

17 September 2021
Jogja Resmi Provinsi Termiskin (Unsplash)

Jogja Provinsi Termiskin: Matur Nuwun Raja dan Gubernur Jogja

18 Januari 2023
4 Pesan Drakor Juvenile Justice yang Penting untuk Parenting Terminal Mojok.co

4 Pesan Drakor Juvenile Justice yang Penting untuk Parenting

1 Maret 2022
Pengalaman Mengecewakan Berkunjung ke Pacet Mojokerto: Ketemu Pedagang yang Mematok Harga Nggak Wajar sampai Dikejar Calo Vila

Pengalaman Mengecewakan Berkunjung ke Pacet Mojokerto: Ketemu Pedagang yang Mematok Harga Nggak Wajar sampai Dikejar Calo Vila

25 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam Mojok.co

Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam

30 Juli 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya Mojok.co

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

30 Juli 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

In this economy, cuma Point Coffee yang masih masuk akal untuk dibeli karena promonya bejibun

26 Juli 2026
Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik Mojok.co

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik

28 Juli 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park memang bukan tempat wisata termurah, tapi Jatim Park jelas adalah tempat wisata terbaik, paling worth it, dan masih affordable, kok

30 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.