Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan (unsplash.com)

Sebagai pekerja dengan gaji di bawah UMK Purwokerto seperti saya, self reward terasa seperti dosa kecil. Di dalam hati ini ingin rasanya membeli segelas kopi dengan latte art bentuk tulip di permukaannya. Kadang ingin juga membeli tiket konser band kesayangan. Penguin juga beli buku fiksi demi ketenangan batin. 

Akan tetapi, semua daftar keinginan self reward itu mesti berbenturan dengan kondisi ekonomi sekarang ini yang kian mencekik.

 Di saat hari gajian tiba, saldo mesti segera dihitung untuk masuk ke pos-pos tertentu demi bertahan hidup. Saldo di layar ATM langsung lenyap untuk tagihan sewa kamar kos, beras, bensin, dan banyak kebutuhan lain. 

Sisa saldo yang tidak seberapa itu akhirnya dihadapkan pada dua pilihan: menabung atau self reward. Di saat itulah saya teringat pesan orang tua saya: menabung sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. 

Self reward sesungguhnya bermanfaat untuk produktivitas kerja juga

Di tengah bayang-bayang nasehat orang tua untuk menabung, jujur keinginan untuk self reward begitu besar.  Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini. 

Begini, saya jelaskan satu perbedaan mendasar antara manusia dan mesin yang sering kali dilupakan oleh sistem kerja hari ini. Mesin hanya dijalankan melalui program, sementara manusia mempunyai faktor kebutuhan emosional untuk berjalan. 

Manusia yang dipaksa bekerja layaknya robot lambat laun akan aus jiwa dan pikirannya. Terutama dalam pekerjaan yang menuntut kehadiran rasa, kreativitas, dan ketelitian. 

Itu mengapa, self reward bukan lagi persoalan memanjakan diri, melainkan faktor penentu kualitas kerja. Beban kerja yang menumpuk dan impitan upah yang minim nyatanya terbukti ampuh menguras mental hingga habis tak bersisa. 

Sejujurnya, latte art bergambar tulip itu ampuh menata kembali mood saya yang berantakan saat dituntut bekerja. Konser band yang saya impikan pernah menyelamatkan jiwa saya ketika berada di titik terpuruk. Sementara buku-buku fiksi yang saya beli adalah satu-satunya gerbang untuk melarikan diri ke dunia lain saat dunia nyata terasa terlampau memuakkan. 

Titik-titik itulah yang menjadi kompromi atas pola konsumsi saya. Saya tidak sedang merayakan pemborosan, tapi saya butuh doping di tengah dunia yang kian kacau.

Saya bagian dari fenomena lipstick effect itu

Belakangan saya baru menyadari bahwa kompromi yang saya lakukan sebenarnya memotret sebuah fenomena ekonom bernama lipstick effect

Konsep ini menjelaskan bagaimana saat situasi ekonomi sulit, orang-orang cenderung berhenti mengejar barang mewah berharga fantastis dan beralih berburu kemewahan kecil yang masih terjangkau. Bagi saya, bentuknya bisa berupa segelas kopi kafe, tiket pertunjukan musik, atau buku fiksi.

Di tengah kenyataan upah yang sulit mengejar kenaikan harga kebutuhan harian, keputusan saya membeli self reward kecil sebenarnya adalah bentuk penyesuaian diri. 

Ketika bayangan memiliki rumah sendiri terasa makin jauh dari jangkauan pekerja bergaji bawah UMK, menyisihkan puluhan ribu untuk hal yang saya sukai menjadi cara paling masuk akal untuk merasa punya kendali atas hidup sendiri. 

Saya melihat masalah ini bukan sekadar soal gaya hidup atau ketidakdisiplinan mengatur keuangan. Ketika kepastian masa depan dari sistem kerja hari ini makin minim, menyisihkan sedikit uang untuk hiburan singkat jadi salah satu cara bertahan banyak orang, termasuk saya. 

Berusaha selamat di tengah kondisi ekonomi sulit

Tentu saja, bayangan untuk menabung itu selalu ada. Setiap kali sisa uang gajian tersisa di dompet, petuah lama tentang “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” kerap hinggap di kepala. 

Masalahnya, bagi pekerja dengan upah di bawah UMK seperti saya, kata “lama-lama” di situ bukan sekadar kiasan. Kata-kata itu benar-benar akan menjelma sebagai perjalanan panjang. Entah kapan ujungnya. 

Pilihan untuk ketat menabung atau menyisihkan sedikit uang demi self-reward sebenarnya lahir dari rahim yang sama, “usaha untuk bertahan hidup”. 

Bagi sebagian orang, rasa aman didapat ketika melihat angka di rekening bertambah walau sedikit. Bagi sebagian lainnya (yaa termasuk saya) ketika saya sendiri sedikitnya mempunyai kendali atas diri saya sendiri. 

Itu mengapa, kini saya perlahan berhenti merasa bersalah dengan self reward kecil-kecilan. Saya rasa Itu bukan bukti kegagalan mengelola uang, saya hanya merawat hari ini agar tetap sanggup melangkah esok hari.

Pada akhirnya, di tengah sistem dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak pada pekerja kecil, tak perlu ada yang saling menghakimi. Baik yang memilih menumpuk tabungan demi masa depan, maupun yang memilih membeli seporsi kebahagiaan demi hari ini, kita semua hanya sedang menggunakan cara masing-masing untuk tetap selamat sebagai manusia.

Penulis: Wulida Musarop
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version