Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pada Dasarnya Semua Orang Itu Suka Membaca

Dessy Liestiyani oleh Dessy Liestiyani
25 Mei 2020
A A
Unsur Sadis di Balik Dongeng Eropa yang Diadaptasi oleh Disney terminal mojok.co

Unsur Sadis di Balik Dongeng Eropa yang Diadaptasi oleh Disney terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Tanggal 17 Mei 2020 ini diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Dari pagi netizen sudah meramaikan tagar-tagar yang mengajak orang untuk mau membaca buku, mencoba menulis buku, serta melawan pembajakan. Begitu ramainya ajakan ini membuat saya bertanya-tanya, apa memang kebutuhan membaca buku sudah terdisrupsi sedemikian rupa sehingga timbul penurunan minat baca?

Tolok ukur paling mudah yang saya temui saat ini: hampir tidak ada orang yang membaca buku kala menunggu di bandara, stasiun, atau ruang publik lainnya. Semua asyik dengan hape masing-masing. Saya yakin kurang dari 10 persen dari mereka yang melototin hapenya itu sedang membaca berita atau pengetahuan umum di sana. Kebanyakan sibuk chatting, kepoin status orang, nonton video joget-joget, atau main game.

Menurut saya sih, selagi tidak buta huruf, umumnya setiap manusia punya keinginan untuk membaca. Coba kalau kita lagi bengong di pesawat nggak bisa buka hape, lagi nunggu antrean dokter yang panjang banget, atau di stasiun ketinggalan commuter line. Saat hape tiba-tiba mati karena lupa di-charge, mata kita secara otomatis akan mencari-cari tulisan apa yang bisa dibaca.

Ada tulisan “Stasiun Palmerah”, dibaca berulang-ulang. Diperhatikan bentuk hurufnya, besar kecilnya, warnanya, dll. Nggak puas, berikutnya akan mencari tulisan apa lagi yang bisa dibaca “Lintasan kereta. Dilarang menyeberang”. Masih belum puas juga karena cepet banget selesai dibaca sementara kereta yang ditunggu juga belum dateng, tanpa sadar mata kita masih terus mencari plang atau tempelan apa yang bisa dibaca dengan lebih lama “Platform Peron: Kebayoran, Pondok Ranji, Jurangmangu, Sudimara, Rawa Buntu, Serpong, Parung Panjang, Maja ke kiri. Musholla, toilet, ruang PPPK, ruang menyusui ke kanan”. Masih belum puas juga, eh dibaca ulang lagi “Lintasan kereta. Dilarang menyeberang”.

Intinya adalah, pada dasarnya manusia itu punya keinginan untuk membaca. Hanya saja apakah keinginan membaca itu akhirnya bisa menjadi minat atau kegemaran yang berkelanjutan? Tidak hanya sebagai syarat literatur skripsi, atau sebagai alternatif kegiatan terakhir saat TV rusak dan hape sedang tidak aktif.

Menurut saya, yang membuat orang menjadi tidak suka membaca adalah karena saat ini banyak sekali pilihan hiburan dibanding membaca buku. Medsos, main game online, atau nonton YouTube terasa lebih mengasyikkan dibanding membuka portal pengetahuan atau berita. Hal ini membuat kegiatan membaca sudah menjadi kebutuhan tersier, nggak penting. Akibatnya, saat ini makin banyak orang yang sudah merasa cukup pintar dengan pemikirannya sendiri, dan jadi komentator dan pengamat dadakan tanpa latar belakang data dan pengetahuan yang jelas.

Jaman saya kecil dulu, koran, buku dan majalah mungkin sudah menjadi kebutuhan nomer wahid. Papa saya sudah pasti langgannya koran tiap pagi, sementara saya dan kakak saya berlangganan mulai dari majalah Bobo, Ananda, Kawanku, sampai komik-komik Asterik, Nina, Tintin, dan lainnya. Waktu udah mulai ABG, ganti berlangganan majalah Hai, Gadis, dan Mode. Saya rasa ini memang salah satu cara yang bagus bagi orang tua untuk meningkatkan minat membaca sejak dini.

Saat ini yang terjadi, beberapa buku atau majalah fisik sudah beralih menjadi ebook atau emagz. Namun, buat beberapa kalangan, termasuk saya, buku fisik belum bisa tergantikan. Keasyikan membaca tidak hanya dinilai dari isi dalam buku itu saja, namun juga kepuasan saat memegang buku, memperhatikan layout dan design cover-nya, dan membolak-balik halaman kertas. Seperti emak-emak yang masih harus ke pasar untuk beli ikan tenggiri supaya bisa memegang dan memencet-mencet, dibanding tinggal telepon dan diantar ke rumah.

Baca Juga:

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

Seandainya Toko Buku di Purbalingga Sebanyak Gerai Es Teh Jumbo, Mahasiswa Nggak Akan Kerepotan

Tidak menampik, ebook bisa menjadi salah satu cara untuk membangun minat membaca terutama anak dan remaja yang sudah menganggap hape lebih penting dari dompet. Sedikit demi sedikit saya sudah mulai mengamati cuplikan bacaan cerita yang terselip di antara scroll-an status-status medsos. Jika cuplikannya menarik, saya yakin orang akan tertarik untuk terus membaca dan membuka websitenya.

Apakah suatu saat saya akan beralih sepenuhnya ke ebook? Mungkin saja, jika buku yang saya cari sudah langka, tidak diterbitkan lagi, atau harga yang terlalu mahal, di luar kemampuan saya membeli. Melihat demikian pesatnya perkembangan teknologi, saya sendiri ragu apakah di masa depan masih akan ada orang yang menerbitkan buku secara fisik. Apalagi ebook jelas lebih murah dan ekonomis. Jangan-jangan, nantinya buku fisik hanya dicetak untuk meningkatkan status penulisnya saja.

Saya berharap suatu saat membaca buku bisa menjadi kebutuhan primer untuk semua kalangan. Semoga saja tidak hanya menjadi harapan semu yang tergerus perubahan jaman.

BACA JUGA Minat Baca di Indonesia Rendah, Ah Kata Siapa? dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2020 oleh

Tags: minat baca
Dessy Liestiyani

Dessy Liestiyani

Tinggal di Bukittinggi. Wiraswasta, mantan kru televisi, penikmat musik dan film.

ArtikelTerkait

Menebak Alasan Kota Pekalongan Jarang Ada Bazar Buku meski Angka Literasinya Tinggi

Menebak Alasan Kota Pekalongan Jarang Ada Bazar Buku meski Angka Literasinya Tinggi

9 Mei 2023
4 Hal tentang Perpustakaan Sekolah yang Patut Diragukan Kebenarannya

Perpustakaan Sekolah Sepi Bukan karena Minat Baca Rendah, tetapi (Dibikin) Nggak Bisa ke Perpustakaan!

4 November 2023
Dear Korban Bullying, Baca 3 Buku ini untuk Menemanimu Bangkit terminal mojok.co

Memang Dasar Minat Baca Rendah, Bedain Format PDF dan DOC Aja Nggak Bisa

6 September 2019
Tidak Cuma Rendah Minat Baca, Ternyata Masyarakat Indonesia Juga Rendah dalam Memaknai Informasi

Tidak Cuma Rendah Minat Baca, Ternyata Masyarakat Indonesia Juga Rendah dalam Memaknai Informasi

21 Desember 2019
fiksi

Bacaan Kok Cuma Fiksi, Pasti Kerjaannya Mengkhayal Mulu!

2 Juli 2019
Seandainya Toko Buku di Purbalingga Sebanyak Gerai Es Teh Jumbo, Mahasiswa Nggak Akan Kerepotan Mojok.co

Seandainya Toko Buku di Purbalingga Sebanyak Gerai Es Teh Jumbo, Mahasiswa Nggak Akan Kerepotan

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Perawatannya Tak Sama seperti Matic Biasa Lainnya

25 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

25 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.