Informasi

Orang tua di Jogja antre demi kursi bimbel tidak perlu diglorifikasi, itu justru bukti kegagalan sistem pendidikan kita

Orang tua war kursi bimbel di Jogja, itu kegagalan sistem pendidikan yang nggak perlu diglorifikasi Mojok.co

Konten yang menunjukkan para orang tua antre di depan tempat bimbel Jogja sedang ramai dibahas di Threads. Para orang tua rela antre sejak pagi buta demi anaknya bisa mendapat bangku di sana. 

Kabar yang beredar, bimbel yang berada di daerah Gayam, Jogja itu memang terkenal bisa membimbing anak didiknya masuk ke SMA favorit. Entah apa metode yang mereka pakai hingga bisa begitu terpercaya. Katanya, salah satu guru yang mengajar di sana berpengalaman dalam membuat soal ujian. 

Banyak netizen yang memuji kegigihan para orang tua di Jogja demi pendidikan anaknya. Tidak sedikit pula netizen yang mewajarkan kultur belajar Kota Pelajar yang penuh persaingan dan ambisius. Bahkan, tidak hanya muridnya yang terlibat dalam “pertarungan” itu, tapi juga orang tuanya. 

Akan tetapi, di sela puja-puji dan pewajaran terhadap praktik tersebut, banyak juga komentar-komentar tajam yang menarik. Konten war kursi bimbel yang viral tadi justru bisa dibaca sebagai potret kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. Dan, sedihnya masih diglorifikasi oleh banyak orang. 

Sebagai orang asli Jogja yang sepanjang sekolah dihabiskan di Kota Pelajar ini, saya setuju dengan pendapat ke-2. Daripada melihatnya sebagai sebuah budaya yang telanjur mengakar, bagaimana kalau kita menilik kembali bagaimana kebiasaan ini bisa muncul di Jogja. 

Pendidikan yang bermutu seharusnya jadi hak semua orang

Satu hal yang selalu jadi pertanyaan sejak dahulu saya sekolah. Kenapa ya sekolah-sekolah di Jogja, khususnya untuk jenjang SMP dan SMA negeri, seolah terbagi dalam tier tertentu. Kenapa ya tidak semua sekolah punya kualitas dan fasilitas yang sama? 

Tidak heran kalau perbedaan mutu itu kemudian mendorong para murid (dan orang tua) bersaing mati-matian demi mendapat sekolah terbaik. Segala upaya dicoba, mulai dari belajar setengah mati hingga mengikuti berbagai bimbel untuk menunjang pendidikan atau nilai. 

Persaingan semacam ini jelas tidak adil. Murid mungkin bisa belajar di sekolah dengan materi yang sama, tapi tidak semua bisa mengakses lembaga bimbel Jogja atau tempat les. 

Asal tahu saja, biaya bimbel itu tidak murah, lumayan menguras kantong. Bahkan, angkanya bisa mencapai belasan juta untuk bimbingan yang intensif. Dengan kata lain, pada akhirnya, hanya mereka yang berduit yang akan “memenangkan” persaingan ini. 

Padahal pendidikan yang bermutu seharusnya hak semua orang. Bukan hanya mereka yang berduit atau mereka yang mampu saja. 

Setiap murid punya keunggulan masing-masing

Ini pertanyaan lain yang membayangi sejak dahulu. Kenapa ya murid ini dinilai dengan ukuran yang sama. Sementara, setiap orang punya kemampuan atau keunggulan masing-masing. 

Perumpamaan ini mungkin sering kalian dengar. Sistem pendidikan ini seolah-olah memukul rata keberhasilan murid dari cara monyet memanjat. Sementara dunia ini bak hutan belantara yang isinya tidak hanya monyet saja. Ada hewan-hewan lain yang mungkin tak pandai memanjat, tapi punya kemampuan lain yang bisa dimaksimalkan untuk bertahan hidup di belantara. 

Ah, tapi mungkin terlalu utopis rasanya kalau berharap sistem pendidikan kita jadi lebih manusiawi dengan lebih menghormati dan mengapresiasi kemampuan tiap individunya. Walau utopis, diam-diam saya aminkan itu dalam hati.

Jadi jelas ya, tulisan ini tidak bermaksud menyerang atau menyalahkan bimbel Jogja tertentu atau bimbel yang tumbuh subur di Kota Pelajar ya. Mereka ada karena memanfaatkan “celah” dari sistem pendidikan yang masih jauh dari kata sempurna. 

Saya juga tidak menyalahkan orang tua yang rela antre berjam-jam demi war kursi bimbel Jogja. Mereka hanya ingin kesempatan terbaik untuk anaknya. Dan, saat ini, cara itulah yang bisa mereka lakukan. 

Saya hanya terganggu oleh mereka yang terlalu “kemakan” oleh fenomena ini. Mereka yang terlalu glorifikasi seolah-olah tidak ada yang salah dari war kursi bimbel dan ogah membedah kebobrokan sistem di baliknya. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hal-hal di Jogja yang sebenarnya biasa saja, tapi jadi spesial ketika merantau ke Tegal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2026 oleh .

Kenia Intan

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version